Rumah Kue… Satu Sisi Dalam Pemberdayaan Masayarakat

Ada yang mengatakan bahwa “ pemberdayaan masyarakat adalah tidak hanya soal ilmu..tapi soal hati”, kadang-kadang segala sesuatu yang rumit yang telah kita pelajari menjadi lebih sederhana setelah di lapangan. Tidak menyangka di kota yang seru ini, aku juga berkutik dengan pemberdayaan masyarakat, sebuah konsep baru yang luar biasa menyenangkan, hampir setara dengan jurnal-jurnal ilmiah yang kadang agak membosankan… Karena apa… karena ini adalah satu kegiatan untuk menghadapi manusia, dan dinamika manusia sekali lagi sangat menyenangkan.

Belakangan ini sedang berurusan dengan  cake house… mengingat tingkatan  house  jauh lebih tinggi dari pada  hanya sekedar home dalam bahasa… harapannya mungkin suatu saat ini benar-benar bisa menjadi real life kedua bagi orang-orang yang di dalamnya, walaupun bentuknya sekarang masih belajar merangkak dan mencari fondasi yang kokoh untuk sebuah  house, yang berarti tidak hanya sekedar pilihan kayu yang sesuai, material lain yang indah tetapi juga orang-orang di dalamnya yang membuat ini sebagai rumah. Ha… Bermain filosofi pada tingkatan pikiran di kepalaku.

Aku diajarkan Pemberdayaan  adalah help the people to help themselves… ” yang konsepnya adalah partisipatif… aku sendiri ketika menyampaikan ini dalam suatu kesempatan materi di beberapa orang serasa mengantuk… Konsep ideal itu memang menjemukan ya…. Aku kadang juga terpenjara dengan kata-kata ini… menolong diri sendiri kadang-kadang berubah menjadi ditolong fasilitator atau pendamping…,karena lebih praktis, lebih cepat selesai, gak pake memotivasi, dan gak pake ribet… karena ternyata memberi  kail dan membuat mereka menggunakannya jauh lebih rumit dari pada memberi ikan, dimasak dan langsung dicicipi… Tapi itulah konsep pemberdayaan yang sebenarnyakan…memberi kail bukan ikan… dan Itu butuh waktu, butuh konsistensi, komitmen, dan kesabaran. Kadang kala dikejar-kejar laporan dan jenuh dengan rutinitas membuat perlahan-lahan idealism menjadi terkikis.. Begitulah zona pemberdayaan, membuat orang-orang yang punya hati di dalamnya lama-lama menjadi mandul karena jengah dengan keterbatasan pilihan…

Ah… tidak juga…Karena akhir-akhir ini aku menemui banyak orang pemberdaya yang bekerja dengan hati dan ilmu, tidak lekam oleh ketidakoptomisan dan selalu bisa berdiri ditengah banyak kepentingan.  Kadang kala justru mereka adalah pahlawan yang terlupakan…akar rumput yang berjuang untuk membuat keadaan sedikit lebih baik dengan caranya sendiri.

AKu kemudian berfikir…aihhh…ribet sekali ternyata berurusan dengan masyarakat ini, walaupun sensasinya sangat menyenangkan… mendapat banyak cerita soal hidup dan masalah-masalah keseharian yang  sederhana dan membuat kita terus diingkatkan bahwa hidup itu akan sangat indah jika ada “ syukur dan sabar di dalamnya”, Tapi lama-lama tidak juga… karena semakin lama akan pede-pede saja ternyata… Benarlah kata orang-orang jaman dulu “ belajarlah dari pengalaman”,maka kamu akan banyak cara menghadapi sesuatu.

Kembali ke kue… Kue itu sangat sedap, enak dan nikmat… Alasan tersembunyi kenapa aku mau jadi pendamping di kue… karena aku sangat suka kue… Campuran coklat batangan, tepung, dan metega, ditambah adonan telur ternyata bisa jadi bronis kukus yang lezat, potongan sayur yang gak kusuka itu jika dalam konsep kue bisa menjadi martabak yang bisa kunikmati, dan variasi sederhana dari beberapa campuran lainnya dalam waktu 15 menit bisa menjadi kue sus yang mantab… hoohhh… kue… pasti keren jadi tukang kue yak.. membuat, mencicipi sekaligus menjualnya.. well, itu sisi lain menyenangkan… ibu-ibu yang ada di rumah kue ini adalah ibu yang unik… definisi unik adalah karena aku belum pernah menemuinya (haaa…. Ngasal..). Memang belum seideal yang ada di konsep, karena ternyata pemberdayan dalam seting masyarakat itu cukup sederhana… tidak membiarkan “mereka tergantung dan partisipatif”, hanya itu saja pikir ku sekarang…. Membuat setiap hari rabu di sore itu adalah hari mereka, dapur dengan perlengkapan yang disediakan itu adalah milik mereka.. mereka yang bekerja, menyiapkan dan membereskan sampai selesai, karena merekalah yang punya kelompok…bukan aku, bukan lembaga, bukan kepentingan… Mungkin suatu saat perlahan-lahan, dari mencuci piring sendiri akan naik menjadi mengelola kelompoknya sendiri di rumah…bukan di tempat yang sudah disediakan oleh lembaga.. dan mereka bisa menentukan mau seperti apa kelompok mereka… Semoga!!!

Hei… jangan sok tau deh soal masyarakat, jangan sok bawa ideologi perubahan ke pada mereka tanpa mengenal bagaimana pola-pola dan budaya mereka.. Perubahan itu tidak sporadis atau revolosi yang pada akhirnya bikin kita serasa bernafas senin kamis setelah itu… Perubahan itu membutuhkan “Champion”  kata fasilitator keren yang pernah aku kenal. Champion  berarti kita menemukan orang-orang yang akhirnya sadar untuk maju dan komitmen terhadap perbaikan, mereka yang tidak hanya mementingkan diri sendiri, dan yakin bahwa dengan bersama-sama, perubahan itu akan cepat terwujud. Kenapa harus bangga jika suatu masyarakat terus terperangkap dengan bantuan orang lain. Kenapa harus bangga jika segala sesuatu, sampai urusan sepele harus fasilitator atau pendamping yang mengerjakan, dan kenapa harus bangga jika setiap bulannya dana yang dihabiskan untuk memberdayaakan satu kelompok justru semakin banyak tanpa runtut yang jelas, atau INDIKATOR KEBERHASILAN hanya diukur dari kuantitas bukan KUALITAS…Tetapi berbanggalah jika mereka bisa berkata… aku berhasil karena usaha ku sendiri, dan pihak luar hanya memfasilitasi saja, aku mandiri karena kekompakan tim, dan aku maju karena aku sadar bahwa aku harus maju dan bergerak… Jadi kalau difikir-fikir pemberdaya itu seperti pahlawan yang akhirnya terlupakan oleh manusia… tapi apalah arti penghargaan, jika ada jauh yang lebih maha tinggi untuk membalasnya.

Suatu ketika aku pernah berkata kepada hatiku…” tolong… , apa yang mereka bicarakan”, karena aku tidak mengerti bahasa jawa… ngerti si dikit… tapi banyak gak nyambungnya kadang, hingga akhirnya jujur sama ibu-ibunya kalau aku gak bisa bahasa jawa… Catatan sederhana ku adalah ini bisa menjadi kendala walaupun pada akhirnya bisa sama-sama saling memahami, tapi mungkin pemberdaya yang baik adalah mereka yang membumi dan masuk sesuai dengan adat dan tata cara mereka yang ingin diberdayakan, walaupun membawa misi-misi yang ingin diperjuangkan.  Karena hal pertama dari sebuah perubahan adalah adanya penerimaan bahwa perubahan itu memang perlu, lha… gimana mau menyampaikan perubahan kalau sama-sama gak nyambung ya… (haaa…. Masih berusaha… semoga saja ya).

            Kembali ke rumah kue…..kemaren, kelompok kue kami mendapat orderan pesanan kue… haihh…. Seru sekali diskusinya, pesannya masih sedikit si… 30 kotak, tapi ini adalah ajang pembuktian “ kata salah satu ibu dalam kelompok”, semoga nanti bisa bertambah. Nama kelompok kami adalah rumah kue kemangi (keren kan… alasannya sederhana… biar segar saja kata ibu-ibunya).  Kue yang dipelajari kelompok ini sudah beberapa macam, hikmahnya setiap minggu aku nyoba menu kue yang berbeda dan aku jadi paham kalau untuk tepung saja begitu banyak jenisnya (hah..parah..). Kelompok ini memutuskan untuk menggarap bersama-sama pesananan di Empowering center di hari rabu dan kamis minggu depan. Hampir setengah jam kelompok ini membahas kue apa saja yang akan dimasukan ke dalam kotak… satu kotak dihargai 5 ribu dan dari hitung-hitungngan RAB, lumayanlah bisa menghasilkan keuntungan yang bisa disimpan buat kelompok…. (heee…. Semangat Ibu-Ibu…..dan sekali lagi, berada bersama ibu-ibu ini sangat menyenangkan…).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: