KEBAHAGIAAN TIDAK HANYA DIBELI DENGAN UANG

Kebahagiaan tentu saja tidak hanya dibeli dengan uang. Salah satu contoh kasus adalah relawan NGO yang bergerak di bidang pemberdayaan zakat umat yang disalurkan untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat dan bantuan bencana kepada yang memerlukan. Tidak ada gaji untuk relawan ini, materi yang mereka dapatkan terkadang adalah sebuah penghargaan dari lembaga karena partisipasi mereka dalam kegiatan pemberdayaan umat. Namun, Mereka tetap merasa bahagia dengan status relawan ini, karena bukan gaji atau materi yang mereka cari, namun semangat membantu sesama dan kekeluargaan yang terbentuk dari organisasi relawan inilah yang pada akhirnya membuat mereka terus bertahan hingga sekarang. Kisah lainnya adalah tentang seorang bidan yang mengabdikan dirinya di suku pedalaman yaitu badui, yang mana ia harus menempuh perjalanan hampir setengah hari dengan jalan kaki untuk memeriksa ibu-ibu hamil disana. Bidan ini mengatakan di Acara Kick Andy bahwa mengabdi kepada masyarakat inilah yang membuat hidupnya lebih berarti.  Dari dua kasus ini, dapat disimpulkan bahwa tidak hanya uang yang membuat seseorang bahagia di dalam hidupnya tetapi adanya perasaan bermanfaat bagi orang lain dan afliasi yang kuat antar sesama di dalam organisasi yang mempunyai cita-cita yang sama juga mampu mendatangkan kebahagiaan.

Hal ini sesuai dengan tulisan Frank, H (dalam Huppert et all, 2006) seseorang yang memiliki harta atau fasilitas yang memadai dalam hidupnya belum tentu merasa bahagia dan sejahtera. Perbandingan Riset di Jepang tahun 1960 dan 1987 yang dikukur dari skala kebahagiaan membuktikan bahwa kenaikan GNP perkapita negara tersebut tidak mempengaruhi level kebahagiaan penduduknya.

Myers (1999, dalam Huppert et all, 2006) menjelaskan bahwa seseorang yang mempunyai teman dekat untuk berafiliasi secara signifikan lebih bahagia dibandingkan yang tidak dan memiliki hidup yang lebih panjang. Hal ini sesuai dengan kasus relawan di NGO tersebut, dimana bukan materi saja yang membuat mereka bahagia akan sesuatu tetapi kemampuan membina hubungan positif dengan orang lain ternyata lebih mendatangkan kebahagiaan. Begitu juga dengan bidan yang mengabdikan dirinya untuk membantu masyarakat suku badui, dia mendapatkan pemaknaan dari pekerjaannya yang membuat hidup lebih bermakna. Martin (2007) menjelaskan dengan seseorang merasa bermakna maka ia akan puas dengan hidupnya, merasa bahagia dan sejahtera.

Penelitian tentang kebahagiaan terus berkembang. Hasil penelitian dari Crossley dan Langdridge  di North England tentang sumber-sumber kebahagiaan membuktikan bahwa laki-laki mendapatkan kebahagiaanya dari aktivitas seksual, olah raga dan kehidupan sosial yang bagus. Sedangkan perempuan mendapatkan kebahagiannya dari memiliki keluarga yang dekat dan saling menyayangi dan mampu menolong sesama. Penelitian lain untuk membuktikan kebahagiaan tidak hanya berkaitan dengan uang adalah tentang permainan Loterei di New York, yang mana pertisipan yang awalnya mendapatkan hadiah yang begitu besar merasakan euphoria pada minggu-minggu awal keberuntungannya, namun setelah dilihat beberapa tahun kemudian kebanyakan dari mereka merasa tidak bahagia dengan hidupnya, bahkan ada yang merasa lebih tidak bahagia dibandingkan sebelumnya (Brickman et al, 1978 dalam Huppert et al, 2006). Selain itu Argyle & Crossland (1987 dalam Francis, et all, 2003) menyatakan bahwa kebahagiaan itu adalah suatu kepuasan hidup pada satu periode tertentu, sehingga bisa jadi yang menjadi indikator kebahagiaan seseorang akan terus berubah sepanjang bertambahnya usia seseorang.

Sedangkan penelitian yang dilakukan kepada 203 orang Korea dan 200 orang Canada tentang inikator kebahagiaan yang mereka miliki, hasilnya adalah kedua kelompok yang memiliki nilai budaya yang berbeda ini hampir memiliki indikator kebahagian yang sama yaitu terkait dengan keluarga, hubungan yang positif dengan orang lain, keuangan, autonomi, agara, tujuan hidup, bebas dari stress, sehat, pengetahan, kreativitas, dan berbagi dengan orang lain (Lee et all, 1999)

Dari beberapa kasus diatas dan beberapa hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa indikator terciptanya kebahagiaan itu adalah sesuat aspek yang menyeluruh dan kita tidak bisa memandangnya dari satu sisi saja seperti materi, apalagi jika mengatakan bahwa kebahagiaan bisa dibeli dengan uang. Banyak aspek-aspek lainnya yang bisa membuat seseorang hidup bahagia.

  Daftar Rujukan

Crossley, Adam & Langdridge, Darren. (2005). Perceived Sources of  Happiness: a Network Analysis. Journal of Happiness Studies (2005) 6:107–135

 Francis, Leslie J. Ziebertz, Hans-George & Lewis, Christopher Alan. (2003).  The Relationship Between Religion and Happiness Among German Students. Pastoral Psychology, Vol. 51, No. 4, March 2003

 Huppert, F A, Baylis, N & Keverve, B. (2006). The Science of Well-Being. England: Oxford University Press

 Lee, Dong Yul.  Hee Park, Sung. Uhlemann, Max R & Patsula, Philip. (1999). What Makes You Happy?: A Comparison of Self-Reported Criteria of Happiness Between Two Cultures. Social indicators research 50: 351–362, 1999.

 Martin, W. Mike. (2007) Paradoxes of happiness. Journal Happiness Study  9:171–184

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: