Antara Ilmu dan Agama

Bismillah, semoga tidak salah….

Kajian keilmuan yang kudapat hari ini ditutup dengan puisi menggugah karya Kuntowijoyo

Sebagai hadiah malaikat bertanya

apakah aku ingin berjalan di atas mega,

dan aku menolak karena kakiku masih di bumi,

sampai kejahatan terakhir dimusnahkan,

sampai du’afa dan mustadafin diangkat Tuhan dari derita.

Dalam Pidatonya d Salah satu universitas Islam Aligar di India pada tahun 1995 berujar :

           Orang akan bertanya “ Apakah tidak harus dibedakan ilmu dan agama? Memang, ilmu dan agama lain-lain tujuannya dan terpisah pula medannya. Ilmu mengenai pengetahuan, agama soal kepercayaan. Pengetahuan dan kepercayaan adalah dua macam sikap yang berlainan dari pada keinsafan manusia. Pelita ilmu terletak di otak, pelita agama  terletak di hati.

            Ilmu memberi keterangan tentang bagaimana duduknya suatu masalah dalam hubungan sebab dan akibat. Ilmu mempelajari hubungan kausal diantara sejenis masalah. Kebenaran yang di dapat dengan keterangan ilmu hanya benar  atas syarat yang diumpamakan dalam keterangan itu. Karena keterangan ilmu relatif sifatnya.

Orang ilmu menerima tiap kebenaran yang didapat dari penyelidikan ilmu dengan pandangan yang kritis. Sikap yang kritis itulah yang menjadi tabiat ilmu. Tiap-tiap pendapat yang dikemukakan diuji kebenarannya. Itulah yang membawa kemajuan ilmu. Boleh dikatakan ilmu bermula dengan sikap tidak percaya. Sedangkan agama bermula dengan Percaya. Ia menerima kebenaran dengan tidak mau dibantah. Kebenaran agama bersifat absolut. Percaya adalah pangkal dan tujuan penghabisan dari pada agama. Agama menghendaki persatuan umat manusia dalam persaudaraan. Tujuan agama ialah memberi pegangan hidup kepada manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat untuk berbuat yang benar, yang baik, yang adil, yang jujur dan yang suci, supaya ada kesejahteraan dalam hidup manusia dan bangsa. Tetapi, sungguhpun agama mempunyai medan sendiri, terpisah dari medan ilmu, agama adalah datum bagi ilmu. Sebagaimana ilmu yang dipahamkan dapat memperdalam keyakinan agama, demikian juga kepercayaan agama dapat memperkuat keyakinan ilmu dalam menuju cita-citanya. Juga ilmu dituntut, pada hakekatnya, untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia. Sekarang nyatalah, bahwa ilmu dituntut tidak semata-mata untuk tahu saja, untuk memuaskan keinginan akan pengetahuan. Ilmu dituntut guna keselamatan dan perbaikan hidup manusia diatas dunia ini.

            Islam adalah agama, bukan ilmu. Sebagai agama, ia tak dapat langsung memberi isi kepada ilmu. Sumbangan Islam kepada ilmu terdapat pada anjurannya kepada penganut-penganutnya untuk mempelajari ilmu sebanyak-banyaknya dimana saja dan dari mana saja. Tidak hanya membatasi penganut-penganutnya  hingga urusan akhirat saja. Islam tidak menyuruh orang untuk menyembah Tuhan semata-mata, akan tetapi mewajibkan juga orang mengatur penghidupan di dunia sebaik-baiknya.

           Setiap hari, dengan berjangka waktu, kita melatih diri kita, untuk menguasai hawa-nafsu dan untuk mengontrol diri kita sendiri, untuk menanam dalam jiwa kita perasaan suci dan murni. Tetapi sayang, tidak selalu kita insyaf akan segala yang kita perbuat itu. Sering-sering  kita melakukan ibadat menurut kebiasaan saja dan lupa bahwa sebenarnya kita melakukan latihan rohani dan jasmani dihadapan Tuhan yang maha Esa. Sebab itu, ada baiknya, sewaktu-waktu kita renungkan dengan penuh keinsafan, betapa tegasnya pimpinan yang diberikan Islam kepada kita. (Mohammad Hatta, 1955)

Semoga tulisan ini tidak salah… ini hanya bagian ingin menjawab keingintahuan akan sebuah makna yang berusaha dijabarkan tidak hanya dengan logika, tetapi juga hati dengan perasaannya. Pertanyaan dasar dari tulisan ini adalah… kenapa? Selalu saja seperinya ilmu dan agama adalah mainstrem yang selalu terpisah dan saling berhadapan?? Bagaimana seharusnya keduanya saling berjalan seiring dan memberi kedamaian, kebermanfaatan dan kebahagiaan kepada semua…

Menurutku, ketika belajar sesuatu yang esensi… itu bukan hanya sekedar mempertanyakan untuk memuaskan logika tetapi lebih pada menemukan pemahaman yang lebih filosofis dasar akan seuatu yang mungkin pada dasarnya semuanya bisa berjalan dengan seimbang… Ketika aku waktu itu di posisi orang tua ku “hal manakah yang lebih dahulu kuajarkan kepada anaknya… rutinitas yang kemudian berusaha dipahami sendiri oleh anaknya atau mungkin esensi kenapa rutinitas itu harus dilaksanakan” Walaupun mungkin aku akhirnya bisa menjawab dengan tegas bahwa keduanya berjalan dengan seimbang…

Ketika perkembangan ilmu pengetahuan sangat dikuasai aliran positivisme, sesuatu harus menjadi sangat empris dengan metode-metode yang terukur dengan jelas, dan diakui oleh umum keabsahannya dengan kategori ilmu pengetahuan oleh sebagian mainstrem, lalu bagaimana seharusnya menjawab sesuatu yang berhubungan dengan batiniah, persoalan hati, ruh, atau fitrah manusia untuk tunduk terhadap kekuatan yang lebih besar. Apakah semua harus dicari hubungan sebab akibat?, jika memang ilmu beranjak dari ketidakpercayaan seperti kata Bung hatta, bukankah data-data empiris dari perpektif positivisme juga bisa kita ragukan kebenarannya.. Jadi apakah kebenaran itu hanya pada sudut pandang diterima atau tidaknya dari sudut pandang logika.. Entahlah… dari sudut pandang ini, aku tidak sepakat, walaupun membutuhkan banyak cara dan waktu untuk menjelsakannya.

Bahkan Einstein pernah berkata :“ Dalam memandang keharmonisan yang ada di dalam kosmos (alam) dengan keterbatasan pikiran manusiaku aku dapat mengetahui bahwa ada sesuatu  dibalik semua ini”.

Ketika Prof. Kuntowijoyo mewacanakan “ Profetik sosial” dengan konsep humanisasi, liberasi, dan transendensi dimana pengetahuan dan agama pada akhirnya tidak bersebrangan. “Ok, secara akal aku terpukau”. Walaupun untuk meruntutkan kedalam suatu cara untuk melakukan sesuatu harus lebih dipahami kembali. Profetik  sosial berpendirian bahwa sumber pengetahuan itu ada tiga, yaitu realitas empiris, rasio dan wahyu. Ini bertentangan dengan positivisme yang memandang wahyu sebagai bagian dari mitos.

Mungkin sebenarnya lebih mudah jika bergerak ditataran realistis dan tidak usah mempertanyakan.. dengan konsep Bung Hatta bahwa agama beranjak dari kepercayaan. Tak perlu mengutak atik esensi pemikiran yang mungkin saja tidak terarah jika tidak menemukan suatu metode untuk menjelaskannya dengan benar… Hanya saja, ketika banyak persoalan seharusnya dijawab secara substansi, kenapa kita tidak mencoba merangkak kepada hal yang lebih dasar terlebih dahulu.

Seperti ada konsep yang mencoba mencari titik tengah antara filsafat dan tasawuf yang kemudian menghasilkan pemahaman konsep Tuhan-Dekat bahwa sanya manusia mempunyai prototype sendiri tentang wujud Tuhan atas kecintaannya kepada pencipta dan bisa jadi bentuknya akan berbeda beda seperti Rumi yang mempunyai cara sendir dalam mengekpresikan cintanya kepada Tuhannya. Walaupun ada juga Tuhan-Jauh, bahwa tuhan itu terlalu sulit untuk dicintai, hanya untuk disembah,  dan hubungan dengannya adalah soal peribadatan saja… Well, mungkin agak terlalu jauh ketika beranjak membicarakan persioalan ini.

Hemm…mungkin dalam proses belajar seoarang manusia tidak pernah akan selesai hingga akhir hayatnya.. Hanya saja tulisan ini kututup dengan keyakinan bahwa agama dan ilmu adalah satu kesatuan, tidak hanya persoalan tahayul dan logika seperti orentalis barat pada awal-awal kemunculannya, tidak hanya  fenomena santri dan abangan dalam Umar Khayam, hubungan sebab akibat dalam positvisme, atau konsep “ percaya Vs tidak percaya” seperti pendapat bung Hatta. Tetapi lebih dari itu….koma “,” karena masih ada penjelasan setelah kata koma…. Hanya saja mungkin butuh waktu untuk menjabarkannya.

Sekali lagi…

Semoga tulisan ini tidak salah…


Iklan

2 Komentar (+add yours?)

  1. pencari kebenaran
    Jun 23, 2012 @ 11:33:10

    Problem hubungan agama dengan ilmu

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang bersifat abstrak – gaib yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa dimasukan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mengkonsepsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia,artinya bila kita melihatnya dengan kacamata sudut pandang Tuhan dalam persoalan cara melihat dan memahami ‘ilmu’ manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi saintisme sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang konsep ‘realitas’ versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
    Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik ( kemudian pengertian kata ‘ilmu’ diparalelkan dengan sains seolah ‘ilmu’ = ‘sains’).
    Ini adalah konsep yang bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ‘ilmu’ tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti langsung secara empirik oleh mata telanjang,sebab dibalik realitas konkrit ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya pasti berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat konkrit tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.dimana akal bila digunakan secara maksimal (tanpa dibatasi oleh prinsip materialistik) akan bisa menangkap konstruksi realitas yang bersifat menyeluruh (konstruksi yang menyatu padukan yang abstrak dan yang konkrit),dan hati berfungsi untuk menangkap essensi dari segala suatu yang ada dalam realitas ke satu titik pengertian.

    Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu,
    Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan agama.
    Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tak ada ayat kitab suci yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya dan harus difahami saat itu pendeta melihatnya dari kacamata sudut pandang ‘filosofis’).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ secara ilmiah menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung), dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
    Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab pertama : realitas itu terdiri dari yang abstrak dan yang konkrit sehingga untuk memahami keduanya secara menyatu padu otomatis metodologi ilmu tak bisa dikonsep harus sebatas yang bisa terbukti secara empirik sebab bila demikian maka dunia abstrak menjadi keluar dari konstruksi ilmu,dan kedua : secara alami manusia sudah diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.bila mata indera adalah alat untuk menangkap realitas dunia lahiriah-material,maka akal adalah alat untuk menangkap konstruksi dunia abstrak sedang hati menangkap essensinya.
    Jadi kesimpulannya bila dilihat dari kacamata Tuhan maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu dan bukan ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ yang benar menurut mereka adalah sebagaimana konsep yang telah mereka buat dengan metodologi yang telah mereka tetapkan sebagaimana telah tertera dalam buku buku filsafat ilmu.kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
    Jadi mari kita analisis masalah (ilmu dan kebenaran ) ini dari dasar dari realitas yang bersifat menyeluruh,sehingga umat manusia tidak terdoktrin oleh ‘kebenaran’ versi sudut pandang materialist yang sebenarnya berpijak pada anggapan dasar bahwa yang real atau ‘realitas’ adalah hanya segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera (dan secara metodologis bisa dibuktikan secara empirik),dan terlalu picik untuk bersandar pada anggapan demikian, mengingat hanya sebagian kecil saja realitas yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera manusia,sehingga wajar bila melalui agama Tuhan memberitahukan kepada manusia realitas yang dunia panca indera manusia tidak bisa menangkapnya.

    Jadi bila saat ini banyak pandangan yang ‘bias’ – ‘rancu’ seputar hubungan agama dengan ilmu itu karena definisi pengertian ‘ilmu’ yang saat ini dominan dan menguasai dunia adalah definisi ‘ilmu’ versi saintisme itulah,dan banyak orang yang belum bisa mengoreksi pandangan saintisme itu dari benaknya,banyak orang yang tanpa sadar memakai kacamata saintisme dalam memahami hubungan agama dengan ilmu sehingga kala melihat agama ia melihatnya sebagai suatu yang seolah ‘berada diluar wilayah ilmu’ itu karena saintisme membatasi ‘ilmu’ sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi. sedang definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan memang hanya difahami sedikit orang yang memiliki pandangan berimbang antara melihat kedunia abstrak dengan melihat ke dunia konkrit.
    Agama yang difahami secara benar dan ilmu pengetahuan yang juga difahami secara benar akankah bertentangan (?),mustahil ! sebab dua hal yang benar mustahil bertentangan satu sama lain melainkan akan saling mengisi satu sama lain walau masing masing mengisi ruang yang berbeda serta mengemukakan kebenaran dalam persepsi yang berbeda.(hanya manusia yang sering tidak bisa menyatu padukan beragam ruang serta beragam persepsi yang berbeda beda padahal semua ada dalam satu realitas keseluruhan).
    Agama dan ilmu telah menjadi korban fitnah besar dan telah menjadi seperti ‘nampak bertentangan’ karena dalam sejarah telah terjadi provokasi besar besaran oleh kacamata sudut pandang ideology materialistik yang memposisikan agama dan ilmu pada posisi yang seolah bertentangan,karena kacamata sudut pandang materialistik melihat-memahami dan mengkonsepsikan agama secara salah juga melihat-memahami dan mengkonsepsikan ‘ilmu’ secara salah akibatnya mereka (materialist) sulit menemukan keterpaduan antara agama dengan ilmu.
    Sebab itu bila ingin memahami konsep agama dan ilmu secara benar kaji kitab suci secara ilmiah dengan tidak bersikap a priori terlebih dahulu.dan yang mesti diingat adalah bahwa segala bentuk hipotesa – teori yang tidak berdasar fakta-yang cuma khayalan – yang cuma teori-filosofi seputar sains yang berdasar ideology materialist (bukan murni sains),semua adalah ‘karat’ yang membuat agama dengan ilmu akan nampak menjadi bertentangan, sebab agama hanya menerima yang berdasar fakta kenyataan sebagaimana yang Tuhan ciptakan.
    Ilmu fisika tentang hukum mekanisme alam semesta,hukum hukum ilmu fisika murni, matematika murni,ilmu tentang listrik,ilmu tentang komputer dlsb.yang memiliki bukti fakta empirik yang konkrit yang pasti dan terukur pasti tidak akan bertentangan dengan agama justru menguatkan pandangan agama,tapi teori khayali yang tak berdasar kenyataan seperti Darwin pasti akan berbenturan dengan agama,tapi oleh kaum materialist ilmiah justru teori inilah yang dibesar besarkan dan dihadapkan pada garis terdepan (seolah ia mewakili dunia ilmu !) dan dibenturkan secara langsung dengan agama kala membahas masalah hubungan agama dengan ilmu hingga lahirlah salah satu fitnah akhir zaman yang terbesar sepanjang sejarah didunia.dan fitnah itu dijaga ketat supaya terus ada oleh ideology materialisme ilmiah hingga kini dengan berbagai cara dengan cara yang irrasional bahkan dengan cara yang tidak ilmiah sekalipun,mereka tidak ingin agama dan ilmu nampak sebagai dua konsep menyatu padu sebab kesatu paduan agama dengan ilmu akan menghancurkan kekuatan ideology atheistik secara ilmiah.

    Suka

    Balas

  2. pelangipsikologi
    Jun 05, 2013 @ 13:10:37

    Wow, penjelasan yang begitu menarik…. dan maaf saya baru memberikan komentar, tulisan ini seingat saya ditulis lebih dari setahun lalu…saat saya belum menemukan dengan jelas logika antara keduanya….Insya allah, pemahaman akan terus berkembang…dan pemahaman saya sekarang adalah sederhana…semua akhirnya bersumber pada ilmu Allah…walaupun menjadi PR sendiri ketika memberikan penjelasan kepada orang lain agar sifatnya tidak doktrinasi yang akhirnya menjadikan agama terasa hampa dan tanpa ruh…

    terimakasih

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: