Stres dan Kehidupan

A.    Definsi Stres

Stres adalah istilah yang datang dari ilmu kedokteran dan secara harfiyah diartikan sebagai tekanan atau ketegangan yang memiliki kecenderungan mengganggu tubuh. Dari sudut pandang psikologi, stres dapat dikatakan sebagai segala sesuatu yang mengganggu manusia untuk beradaptasi atau mengatasi suatu masalah. Stres merupakan reaksi tubuh terhadap situasi yang tampak berbahaya atau sulit, dalam kondisi ini tubuh memproduksi hormon adrenalin yang berfungsi untuk mempertahankan diri. Sebagian besar stres muncul berasal dari pikiran negatif dan rasionalisasi yang salah yang tercipta dalam pikiran individu itu sendiri (Lazarus & Lazarus, 2005: 169). Stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri dan mengganggu keseimbangan hidup, apabila tidak diatasi dengan baik, maka akan muncul gangguan badan atau jiwa (Maramis,1994: 65).

 Noi & Smith (1994: 25) menjelaskan stres psikologis merupakan interaksi antara kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan situasi yang menekan. Cox dan Mackay (dalam Fraser, 1992: 80) menegaskan bahwa stres, atau ketegangan, adalah sebuah gejala yang sangat individual, merupakan hasil penafsiran seseorang mengenai keterlibatannya dalam lingkungannya, baik secara fisik maupun psikososial. Sarafino (dalam Smet, 1994: 112) mendefinisikan stress sebagai suatu kondisi disebabkan oleh transaksi antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber-sumber daya sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang.

Selye (dalam Hardjana, 1994: 23) mendefinisikan stres sebagai tanggapan yang menyeluruh terhadap tuntutan yang datang atasnya. Menurut Feldman (dalam Fausiah & Widury, 2005: 9), stres merupakan proses menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, ataupun membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku. Gregson (2007: 29) menyatakan bahwa stres diartikan sebagai status yang dialami oleh individu ketika muncul ketidakcocokan antara tuntutan-tuntutan yang dihadapi dengan kemampuan yang dimiliki.

Hartono (2007: 5) menjelaskan bahwa stres adalah reaksi non-spesifik manusia terhadap rangsangan atau tekanan (stimulus stressor), yang merupakan reaksi adaptif, bersifat sangat individual sehingga suatu stres bagi seseorang belum tentu sama tanggapannya bagi orang lain. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kematangan berpikir, tingkat pendidikan, dan kemampuan adaptasi individu terhadap lingkungannya. Hardjana (1994: 14) menyatakan stres adalah suatu keadaan atau kondisi yang tercipta bila transaksi orang yang mengalami stres dan hal yang dianggap mendatangkan stres membuat orang yang bersangkutan melihat ketidaksepadanan, baik itu nyata atau tidak nyata, antara keadaan atau kondisi dan sistem sumber daya biologis, psikologis, dan sosial yang ada padanya. Stres terjadi jika individu dihadapkan dengan peristiwa yang dirasakan mengancam kesehatan fisik dan psikologisnya. Peristiwa tersebut disebut dengan stressor, sedangkan reaksi orang terhadap peristiwa tersebut disebut dengan repons stress (Atkinson, tanpa tahun: 338).

Stres juga bisa diartikan reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres; semua sebagai suatu sistem (WHO,dalam Sriati,2008).

Stres menurut Hans Selye dalam buku Hawari (2001, dalam Sriati, 2008) menyatakan bahwa stres adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang setelah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami distres. Pada gejala stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis. Tidak semua bentuk stres mempunyai konotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres.

Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan reaksi stres, misalnya jumlah semua respons fisiologik nonspesifik yang menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. Stress reaction acute (reaksi stres akut) adalah gangguan sementara yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental lain yang jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat, biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan kemampuan koping (coping capacity) seseorang memainkan peranan dalam terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya.

Empat variabel psikologik yang dianggap mempengaruhi mekanisme respons stres (Papero, 1997 dalam Sriati, 2008):

1)      Kontrol: keyakinan bahwa seseorang memiliki kontrol terhadap stressor yang mengurangi intensitas respons stres.

2)      Prediktabilitas: stresor yang dapat diprediksi menimbulkan respons stres yang tidak begitu berat dibandingkan stresor yang tidak dapat diprediksi.

3)      Persepsi: pandangan individu tentang dunia dan persepsi stresor saat ini dapat meningkatkan atau menurunkan intensitas respons stres.

4)      Respons coping: ketersediaan dan efektivitas mekanisme mengikat ansietas dapat menambah atau mengurangi respons stres.

Adapun tipe kepribadian yang mudah terkena stres (dalam Sriati,2008) adalah:

1)      Ambisius, agresif dan kompetitif (suka akan persaingan).

2)      Kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung dan marah(emosional).

3)      Kewaspadaan berlebihan, kontrol diri kuat, percaya diri berlebihan (over confidence)

4)      Cara bicara cepat, bertindak serba cepat, hiperaktif, tidak dapat diam.

5)       Bekerja tidak mengenal waktu (workaholic).

6)      Pandai berorganisasi, memimpin dan memerintah (otoriter).

7)      Lebih suka bekerja sendirian bila ada tantangan.

8)      Kaku terhadap waktu, tidak dapat tenang (tidak rileks), serba tergesagesa.

9)      Mudah bergaul (ramah), pandai menimbulkan perasaan empati dan bila tidak tercapai maksudnya mudah besikap bermusuhan.

10)  Tidak mudah dipengaruh, kaku (tidak fleksibel).

11)   Bila berlibur pikirannya ke pekerjaannya, tidak dapat santai.

12)   Berusaha keras untuk dapat segala sesuatunya terkendali.

 B.     Penyebab Stres

Noi & Smith (1994: 28) menyatakan penyebab stres pada umumnya mencangkup berbagai peristiwa traumatik, kecemasan, frustasi dan ketidakmampuan mengendalikan situasi. Setiap penyebab stres bervariasi dalam tingkat stres yang ditimbulkannya dan jangka waktu beberapa lama stres tersebut berlangsung. Wilford (dalam Fraser, 1992: 79) menyebutkan bahwa stres terjadi bila terdapat penyimpangan dari kondisi optimum yang tidak dapat dengan mudah diperbaiki sehingga mengakibatkan suatu ketidakseimbangan antara tuntutan kerja dan kemampuan pekerjaannya.

Menurut Feldman (1999: 509), ada tiga karakteristik utama penyebab stres, yaitu peristiwa kataklismik (cataclysmic events), stres personal (personal stressors) dan stresor latar belakang (background stressors).

a)      Peristiwa kataklismik (cataclysmic events). Kejadian atau peristiwa kataklismik memiliki beberapa karakteristik dasar, yaitu biasanya terjadi secara tiba-tiba dengan sedikit tanda-tanda atau bahkan tidak ada tanda-tanda akan terjadi suatu peristiwa. Pengaruhnya sangat kuat sehingga muncul respons universal dan melibatkan sejumlah besar orang. Kekuatan kataklismik yang mendadak menimbulkan rasa bingung pada korban, biasanya membutuhkan usaha sangat besar untuk melakukan coping secara efektif. Contoh peristiwa kataklismik adalah bencana alam, perang, kebocoran nuklir, kebakaran hebat dan sebagainya.

b)      Personal stresors (stres personal) meliputi kesakitan, kematian suami atau istri atau anak yang disayangi, pemutusan hubungan kerja dan sebagainya yang biasanya dialami oleh seseorang dan membawa pengaruh yang buruk.

c)      Background stressors (stresor latar belakang) atau daily hassles yang sering dinamakan juga stressor mikro, bersifat stabil dan intensitasnya rendah; misalnya adalah kehilangan barang, terlambat kerja, tekanan karena pekerjaan rumah tangga dan hal-hal lain yang bersifat rutin.

Sedangkan Sarafino (dalam Smet, 1994: 115) membedakan sumber-sumber penyebab stres yaitu dalam diri individu, keluarga, komunitas dan masyarakat.

a)      Sumber stres di dalam diri seseorang

Adakalanya sumber stres ada di dalam diri seseorang. Salah satunyamelalui kesakitan. Tingkatan stres yang muncul tergantung pada keadaanrasa sakit dan umur individu (Sarafino dalam Smet, 1994: 155). Stres juga akanmuncul dalam seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional yangmelawan, bila seseorang mengalami konflik. Konflik merupakan sumber stresyang utama. Menururt teori Kurt Lewin, kekuatan motivasional yang melawanmenyebabkan dua kecenderungan yang melawan: pendekatan danpenghindaraan. Kecenderungan tersebut menggolongkan tiga jenis pokok darikonflik: (a) konflik perdekatan/ perdekatan, (b) konflik penghindaran/penghindaran, dan (c) konflik perdekatan/ penghindaran.

b)       Sumber stres di dalam keluarga

Stres dapat bersumber dari interaksi di antara para anggota keluarga, seperti: perselisihan dalam masalah keuangan, perasaan saling acuh tak acuh, tujuan-tujuan yang saling berbeda, dan lain-lain. Misalnya: perbedaan keinginan tentang acara televisi yang akan ditonton, perselisihan antara orang tua dan anaknya yang mendengarkan musik dengan suara keras di lingkungan yang sesak, kehadiran adik baru. Khusus pada penambahan adik baru, dapat menimbulkan perasaan stres terutama pada diri ibu selama kehamilan dan setelah kelahiran. Rasa stres ayah sehubungan dengan adanya anggota keluarga baru, dapat diterangkan sebagai kekhawatiran akan berubahnya interaksi dengan ibu sebagai istrinya atau kekhawatiran akan tambahan biaya.Para orang tua yang kehilangan anak-anaknya atau kehilangan pasangannya karena kenatian akan merasa kehilangan arti. Mereka yang ditinggalkan akan merasa kehilangan harapan dan peran, kehilangan rasa cinta, perasaan istimewa dan kehilangan rasa aman. Perasaan kehilangan ini akan semakin terasa terutama pada masa dewasa awal (Sarafino dalam Smet, 1994:116)

c. Sumber stres di dalam komunitas dan lingkungan

Interaksi individu di luar lingkungan keluarga bisa menjadi sumber stres. Contohnya: pengalaman stres anak di sekolah dan di beberapa kejadian kompetitif, seperti olahraga. Sedangkan pengalaman orang tua bersumber dari pekerjaannya, dan lingkungan yang stressfull sifatnya. Khususnya occupational stress. Pekerjaan-pekerjaan yang dapat menuntut tanggung jawab bagi kehidupan manusia juga dapat mengakibatkan stress, contohnya tenaga medis mempunyai beban kerja yang berat dan harus menghadapi situasi kehidupan dan kematian, membuat kesalahan dapat menimbulkan konsekuensi yang serius. Menurut Sarafino (dalam Smet, 1994: 116 &124) stres kerja dapat disebabkan karena:

  1. Lingkungan fisik yang terlalu menekan, seperti: kebisingan, temperature udara, kelembaban udara, penerangan kurang,
  2. Kurangnya kontrol yang dirasakan,
  3. Kurangnya hubungan interpersonal,
  4. Kurangnya pengakuan terhadap kemajuan kerja: para pekerja akan merasa stress bila mereka tidak mendapatkan promosi yang selayaknya mereka terima.

Menurut Coleman (dalam Wiramihardja, 2005: 44) dan Maramis (1994: 65-69) terdapat tiga sumber yang dapat dimasukkan dalam ketegori stressor, yaitu frustasi, konflik dan tekanan (pressure) atau krisis.

a. Frustrasi

Roger dan Dororthy (dalam Wiramihardja, 2005: 44) menjelaskan frustrasi adalah suatu saat atau momen dimana individu menghayati situasi terhambat ketika melakukan upaya untuk mencapai apa yang diiinginkan atau dituju. Reaksi dari frustasi ada dua macam, yaitu:

1) Unfrustrated behavior (perilaku yang tidak terfrustasikan), adalah perilaku berupa tindakan-tindakan tidak merusak atau mengganggu, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, ketika mengalami frustasi. Contohnya seseorang yang tidak lulus ujian, maka ia akan belajar lebih giat untuk menempuh ujian berikutnya.

2) Frustrated behavior (perilaku yang terfrustasikan), adalah perilaku-perilaku yang merusak (destructed), baik dirinya sendiri maupun orang lain. Contohnya, ketika gagal ujian, individu tidak belajar namun menyuap guru atau memecahkan kaca kelasnya. Beberapa bentuk perilaku frustasi adalah sebagai berikut:

  • Blocking, yaitu reaksi tak bereaksi (tidak menampilkan perilaku apapaun), sebagai akibat dari adanya hambatan yang menimbulkan frustasi itu, individu tidak dapat menentukan perilaku mana yang tepat untuk lepas dari situasi tersebut. Misalnya saat ujian, individu mengalami blocking, walaupun telah berusaha menjawab soal, namun jawaban sama sekali tidak terlintas dalam pikiran.
  • Agresi, adalah suatu tindakan yang ditunjukkan pada penghambat tetapi dengan efek maupun cara yang merusak, kerusakan bisa dirinya sendiri, orang lain, maupun sistem. Contoh siswa tidak lulus ujian kemudian membakar ruang kelasnya.
  • Breakdown atau disebut juga dengan sesuatu yang menggambarkan perasaan kecewa atau putus asa, adalah suatu reaksi yang sifatnya destructive dalam bentuk tidak mau atau tidak berkeinginan untuk berusaha lebih lanjut dalam mencapai apa yang diinginkanya.
  • Evaluasi diri, setelah mengalami hambatan, dan frustasi yang dialami, reaksinya adalah mengevaluasi diri, dimana ada kekurangan.
  • Penggunaan defense-mechanisms yang berlebihan, antara lain menganggap bahwa frustasi itu tidak ada atau tidak berarti baginya (denial), padahal ia merasakannya.

b. Konflik,

Terjadi apabila individu tidak dapat memilih antara dua atau lebih macam kebutuhan atau tujuan. Memilih yang satu berarti frustrasi terhadap yang lain. Ada tiga jenis konflik, yaitu

  1. Konflik pendekatan-penolakan (approach-avoidance conflict) adalah konflik yang melibatkan kecenderungan untuk mendekati atau menjauhi tujuan yang sama.
  2. Konflik pendekatan ganda (double approach conflict), jenis konflik ini melibatkan dua atau lebih tujuan yang diinginkan. Jadi bisa dikatakan double approach conflict adalah memilih salah satu dari dua hal yang menyenangkan atau membuang salah satu atau lebih hal yang sebenarnya sama-sama menyenangkan.
  3. Konflik penolakan ganda (double avoidance conflict), jenis konflik ini terjadi pada saat terdapat duaatau lebih pilihan yang tidak satupun dikehendaki, tetapi salah satu harus dilakukan.

c. Tekanan

Tekanan adalah suatu keadaan yang menimbulkan konflik, dimana individu merasa terpaksa atau dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan atau dipaksa untuk tidak melakukan hal-hal yang diinginkannya. Tekanan tersebut dapat bersumber dari dalam maupun luar dirinya.

  1. C.    Gejala Stres

Menurut Terry Beehr dan John Newman (1978) gejala stress kerja dapat di bagi dalam 3 (tiga) aspek, yaitu gejala psikologis, gejala psikis dan perilaku.

No

Aspek

Gejala

1 Psiklogis
  • Kecemasan, ketegangan
  • Bingung, marah, sensitive
  • Memendam perasaan
  • Komunikasi tidak efektif
  • Mengurung diri
  • Depresi
  • Merasa terasing dan mengasingkan diri
  • Kebosanan
  • Ketidakpuasan kerja
  • Lelah mental
  • Menurunnya fungsi intelektual
  • Kehilangan daya konsentrasi
  • Kehilangan spontanitas dan kreativitas
  • Kehilangan semangat hidup
  • Menurunnya harga diri dan rasa percaya diri
2 Fisik
  • Meningkatnya detak jantung dan tekanan darah
  • Meningkatnya sekresi adrenalin dan noradrenalin
  • Gangguan gastrointestinal, misalnya gangguan lambung
  • Mudah terluka
  • Mudah lelah secara fisik
  • Kematian
  • Gangguan kardiovaskuler
  • Gangguan pernafasan
  • Lebih sering berkeringat
  • Gangguan pada kulit
  • Kepala pusing, migraine
  • Kanker
  • Ketegangan otot
  • Probem tidur (sulit tidur, terlalu banyak tidur)
3 Perilaku
  • Menunda ataupun menghindari pekerjaan/tugas
  • Penurunan prestasi dan produktivitas
  • Meningkatnya penggunaan minuman keras dan mabuk
  • Perilaku sabotase
  • Meningkatnya frekuensi absensi
  • Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan atau kekurangan)
  • Kehilangan nafsu makan dan penurunan drastis berat badan
  • Meningkatnya kecenderungan perilaku beresiko tinggi, seperti ngebut, berjudi
  • Meningkatnya agresivitas, dan kriminalitas
  • Penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman
  • Kecenderungan bunuh diri

D. Tahapan Stres

Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. an Amberg (1979) dalam penelitiannya terdapat dalam Hawari (2001 dalam Sriati, 2008) membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :

Stres tahap I:

Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut: 1) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting); 2) Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya; 3) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.

Stres tahap II

Dalam tahapan ini dampak stres yang semula “menyenangkan” sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Keluhankeluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut: 1) Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar; 2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang; 3) Lekas merasa capai menjelang sore hari; 4) Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel discomfort); 5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar); 6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang; 7) Tidak bisa santai.

Stres Tahap III

Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu: 1) Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan “maag”(gastritis), buang air besar tidak teratur (diare); 2) Ketegangan otot-otot semakin terasa; 3) Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat; 4) Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur (Late insomnia); 5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa oyong dan serasa mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit.

Stres Tahap IV

Gejala stres tahap IV, akan muncul: 1) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit; 2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit; 3) Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (adequate); 4) Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari; 5) Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan; Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan; 6) Daya konsentrasi daya ingat menurun; 7) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya.

Stres Tahap V

Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V, yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut: 1) Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion); 2) Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana; 3) Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder); 4) Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.

Stres Tahap VI

Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut: 1) Debaran jantung teramat keras; 2) Susah bernapas (sesak dan megap-megap); 3) Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran; 4) Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan; 5) Pingsan atau kolaps (collapse).

Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.

 E.     Dampak Stres dan Hubungannya Dengan Kreativitas

Pada dasarnya setiap individu memiliki kemampuan genetis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan memiliki pola perilaku tertentu untuk menanggulangi lingkungannya. Setiap individu dapat bereaksi secara berbeda terhadap penyebab stres yang sama. Kepribadian dan gaya mengatasi masalah menentukan bagaimana mereka akan bereaksi. Reaksi ini dipengaruhi oleh faktor genetis, asuhan, sikap hidup, kondisi fisik secara keseluruhan, penyebab stres dan kondisi yang dialami setiap hari.

Stres membawa dampak pada pikiran, emosi dan perilaku individu (Hardjana, 1994: 39-44). Stres bisa mengganggu kerja pikiran dan menyulitkan kosentrasi, antara lain apabila disebabkan oleh faktor suhu yang terlalu panas atau dingin, suara bising atau tugas yang menentukan nasib hidup, seperti ujian. Disisi lain, pengalaman stres cenderung disertai oleh emosi. Orang yang mengalami stres menggunakan emosi dalam menilai stres. Takut merupakan emosi yang biasa muncul pada waktu merasakan stres, baik itu nyata atau hanya dalam bayangan, berhadapan dengan hal yang berbahaya atau ada dalam situasi bahaya. Rasa takut tersebut bisa menjadi phobia atau sekedar menjadi kecemasan (anxiety). Selain itu juga dapat mendatangkan rasa sedih (depression) apabila berlarut-larut akan menimbulkan penyakit. Pada umumnya orang depresi tampak tidak bahagia, dirundung putus asa terhadap masa depan, cenderung pasif dalam kehidupan, dan memiliki rasa harga diri yang rendah. Stres juga disertai oleh rasa amarah, hal ini muncul terutama apabila orang berhadapan dengan keadaan, kejadian, peristiwa dan penurunan harga diri, nama baik, atau merugikan dan mengecewakan. Dampak lain dari stres adalah dapat menimbulkan penyakit bahkan mendatangkan kematian. Stres dapat mengakibatkan penyakit secara langsung, karena mendatangkan banyak perubahan pada sistem fisik tubuh manusia yang dapat mengakibatkan penyakit. Salah satu contoh hubungan langsung antara stress dan penyakit, misalnya, stres dan detak jantung yang eratik, tidak teratur, yang mengakibatkan kematian atau serangan jantung. Stres juga bisa mengakibatkan penyakit secara tidak langsung. Contohnya, orang yang mengalami stres berat dan kronis berupaya untuk menghilangkan stres dengan merokok, mengkonsumsi kopi, dan minum minuman keras.

Penyakit lain yang disebabkan oleh stres adalah kurang berkerjanya sistem kekebalan tubuh (immune system) tubuh. Stres yang dialami oleh seseorang akan merubah cara kerja sistem kekebalan tubuh. Para peneliti ini juga menyimpulkan bahwa stres akan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit dengan cara menurunkan jumlah fighting desease cells. Akibatnya, orang akan sering dan mudah terserang penyakit yang cenderung lama masa penyembuhannya karena tubuh tidak banyak memproduksi sel-sel kekebalan tubuh, ataupun sel-sel antibodi banyak yang kalah. Selain penyakit fisik, stress juga bisa mengakibatkan penyakit psikosomatis (psychosomatic illness) atau gangguan psikofisiologis (psychophysiological disorder)(Hardjana, 1994: 44).

Menurut penelitian Baker dkk (1987), stres yang dialami oleh seseorang akan merubah cara kerja sistem kekebalan tubuh. Para peneliti ini juga menyimpulkan bahwa stress akan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit dengan cara menurunkan jumlah fighting desease cells. Akibatnya, orang tersebut cenderung sering dan mudah terserang penyakit yang cenderung lama masa penyembuhannya karena tubuh tidak banyak memproduksi sel-sel kekebalan tubuh, ataupun sel-sel antibodi banyak yang kalah.

Dua orang peneliti yaitu Plaut dan Friedman (1981) berhasil menemukan hubungan antara stress dengan kesehatan. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa stress sangat berpotensi mempertinggi peluang seseorang untuk terinfeksi penyakit, terkena alergi serta menurunkan sistem autoimmune-nya. Selain itu ditemukan pula bukti penurunan respon antibodi tubuh di saat mood seseorang sedang negatif, dan akan meningkat naik pada saat mood seseorang sedang positif.

Peneliti yang lain yaitu Dantzer dan Kelley (1989) berpendapat tentang stres dihubungkan dengan daya tahan tubuh. Katanya, pengaruh stress terhadap daya tahan tubuh ditentukan pula oleh jenis, lamanya, dan frekuensi stress yang dialami seseorang. Peneliti lain juga mengungkapkan, jika stress yang dialami seseorang itu sudah berjalan sangat lama, akan membuat letih health promoting response dan akhirnya melemahkan penyediaan hormon adrenalin dan daya tahan tubuh.

Banyak sudah penelitian yang menemukan adanya kaitan sebab-akibat antara stress dengan penyakit, seperti jantung, gangguan pencernaan, darah tinggi, maag, alergi, dan beberapa penyakit lainnya. Oleh karenanya, perlu kesadaran penuh setiap orang untuk mempertahankan tidak hanya kesehatan dan keseimbangan fisik saja, tetapi juga psikisnya.

Stres juga bisa berdampak pada kreatifitas. Stres pada tekanan tertentu bisa saja memacu kreativitas seseorang untuk menghasilkan sesuatu, namun stres pada tingkatan yang berat pada akhirnya bisa menghambat potensi seseorang untuk bisa mengembangkan potensinya dengan baik. Munandar (2004: 281) mengatakan bahwa stres dapat mengganggu perkembanan kesehatan mental, kreativitas, dan aktualisasi diri.

Pembatasan pengembangan potensi kreatif seseorangpun bisa saja mendatangkan stres bagi diri seseorang. Misalnya jika kebutuhan kreatif ditekan, mungkin dari luar tampaknya ia patuh, mengikuti saja dan menjadi tergantung, tetapi dengan dampak yang merugikan konsep dirinya. Hal ini bisa mengakibatkan ketidakmampuan belajar dan perilaku bermasalah. Dengan belajar mengikuti otoritas saja, ia mengorbankan kecendrungan alaminya untuk belajar kratif melalui pertanyaan, dugaan, penjajakan, dan eksperimentasi. Akibatnya, ia kehilangan minat untuk belajar dan terkadang muncul stres yang dimunculkan dengan perilaku seperti bertindak agresif di dalam kelas. Ketegangan ini sering timbul sebagai reaksi terhadap kurikulum sekolah yang tidak manantang, mengulang-ulang, dan membosankan (Munandar, 2004: 281).

 F. Ketahanan Menanggung Stres

Kemampuan untuk menghadapi peristiwa yang tidak menyenangkan dan situasi penuh tekanan tanpa menjadi berantakan, dengan secara aktif dan positif mengatasi stress. Kemampuan ini didasarkan pada (1) kemampuan memilih tindakan untuk menghadapi stress (banyak akal dan efektif, dapt menemukan cara yang pas, tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya; (2) sikap optimis menghadapi pengalaman baru dan perubahan pada umumnya dan optimis pada kemampuan sendiri untuk mengatasi masalah yang tengah dihadapi, dan ; (3) perasaan bahwa kita dapat mengendalikan atau berperan dalam menangani situasi stress dengan tetap tenang dan memegang kendali. Ketahanan menanggung stress berarti memiliki segudang tanggapan yang sesuai untuk menghadapi situasi yang menekan. Ketahanan ini berkaitan dengan kemampuan untuk tetap tenang dan sabar, serta kemampuan menghadapi kesulitan dengan kepada dingin tanpa terbawa emosi. Orang yang tahan menghadapi stres akan menghadapi, bukan menghindari, krisis dan masalah, tidak menyerah pada rada tidak berdaya atau putus asa. Perasaan cemas, yang sering muncul ketika ketahanan ini luntur, akan berdampak buruk pada kinerja secara umum karena kecemasan akan menurunkan konsentrasi, sulit mengambil keputusan, dan muncul masalah somatic seperti gangguan tidur

Stres dapat diatasi dengan manajemen stres yang baik. Manajemen stres adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi, orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memeberi tuntutan yang berlebihan. Manajemen stress juga bisa diartikan kemampuan penggunaan sumber daya (manusia) secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan (respon). Tujuan dari manajemen stres itu sendiri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup individu itu agar menjadi lebih baik.

Untuk mencegah mengalami stress, setidaknya ada 3 lapis yaitu:

  • Lapis pertama ~ primary prevention, dengan cara merubah cara kita melakukan sesuatu. Untuk keperluan ini kita perlu memiliki skills yang relevan, misalnya: skill mengatur waktu, skill menyalurkan, skill mendelegasikan, skill mengorganisasikan, menata, dst.
  • Lapis kedua ~ Secondary prevention, strateginya kita menyiapkan diri menghadapi stressor, dengan cara exercise, diet, rekreasi, istirahat , meditasi, dst.
  • Lapis ketiga ~ Tertiary prevention, strateginya kita menangani dampak stress yang terlanjur ada, kalau diperlukan meminta bantuan jaringan supportive ( social-network) ataupun bantuan profesional.

  Adapun beberapa tips yang bisa digunakan untuk mengelola stres yang ada di dalam kehidupan sehari-hari kita adalah:

  • Luangkan waktu bersama sahabat atau orang terdekat
  • Tertawa dan miliki rasa humor di dalam hidup
  • Makan makanan sehat dan luangkan waktu untuk olah raga
  • Selalu berusaha melihat sisi positif dari masalah
  • Mengenali penyebab stres yang terjadi dan mencari jalan keluarnya
  • Tidak menghindarinya namun dihadapi
  • Melakukan hal-hal yang membuat kita menjadi bersemangat kembali

DAFTAR RUJUKAN

Fraser, T. M. (1992). Stress dan kepuasaan kerja. Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo.

Fausiah, F & Widury J. (2005). Psikologi abnormal klinis dewasa. Jakarta: UI Press.

Gregson, T. (2007). Life without stress mengajari diri anda sendiri mengelola stress. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.

Hartono, L. A. (2007). Stres & stroke. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Hardjana, A. (1994). Stres tanpa distres: seni mengolah stres. Yogyakarta:Kanisius.

Lazarus, A. & Lazarus, C. (2005). Staying sane in a crazy world. Jakarta: PT.Bhuana Ilmu Populer.

Maramis, W. E. (1994). Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Noi, T. S. dan Smith P. J. (1994). Bagaimana mengendalikan stres. Jakarta: Grafiti.

Smet, B. (1994). Psikologi kesehatan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Sriati, Aat. (2008). Tinjauan Tentang Stres. Makalah Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

  www.epsikologi.com. stres kerja

 

 

 

Iklan

3 Komentar (+add yours?)

  1. rio
    Des 29, 2011 @ 07:14:25

    Mantap.. Tinjuan garis besar tentang Stress
    Namun apakah ada cara untuk mengenai stress
    bisa di jelaskan juga.

    thx

    Suka

    Balas

    • pelangipsikologi
      Jan 01, 2012 @ 03:12:03

      dibagian bawah sebenarnya ada sedikit penjelasan tentang mengatasi stress…. walaupun secara umum

      secara personal, mungkin kita harus melihat dulu apa sumber stress tersebut, mengenali agar bisa dicari cara mengatasinya

      yang jelas, stres harus dihadapi dan diselesaikan, bukan dihindari 🙂

      Suka

      Balas

  2. fajrin
    Mar 18, 2014 @ 02:01:34

    klo boleh tw, nma aslinya cp y? cz mw tak msukkan dapus

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: