Edisi Satu Tahun Paska Merapi

Edisi Satu Tahun Paska Merapi

DSC02638Hei… sudah satu tahun setelah tanggal 5 November 2010 ya…. Wah, waktu terasa sangat cepat berlalu, hingga cukup satu tahun ini saja..sudah begitu banyak cerita, warna dan makna yang terjadi…. Apa saja ya…. Sepertinya blog ini cukup banyak merangkum sebuah jejak perjalanan…. Dan ternyata blog ini juga hampir sama usianya seperti usiaku berada di Kota Yogya… hampir 3 tahun di bulan Januari nanti… hehhhhh….. sangat tidak terasa…

Wah…. Sudah setahun paska erupsi besar itu, dimana kami menjadi bagian yang sangat kecil dari sebuah peristiwa… yang akhirnya menjadi kenangan tersendiri untuk dimaknai…. Malam itu tertidur dengan pakaian lengkap dan siap untuk evakuasi. Ujan debu yang sudah seperti salju dengan bau yang sangat memekakan nafas dan ratusan orang mulai terlihat berdatangan serta akan banyak bapak-bapak yang tidur di tenda kami. Malam itu juga setengah ton pesanan beras baru datang, ratusan kaleng kornet baru dibuka untuk masak 5000 bungkus besoknya, malam itu juga beberapa teman terpaksa dilarang naik karena khawatir keamanan mereka, sepertinya malam itu diantara sesama relawan yang ada di posko, ada perasaan sangat dekat tetapi tidak sempat untuk dikatakan, malam itu rasanya baru benar-benar menikmati tenda tanpa ancaman banjir lagi karena sebelumnya tanggulnya sudah di jebol oleh pa sakijo, berbagi tempat duduk di spanduk kecil karena tanah yang lain basah, malam itu seperti biasa mendengarkan beberapa relawan tetap memegang Al-Qur’an dan melantunkannya, masih bercengkrama dengan aziz, dan sesekali mendengarkan tentara di luar tenda berteriak “teng..teng…. hoi”, menambah elergi semangat untuk selalu berbagi.

Malam itu sepertinya kami mendapatkan berita dari relawan lain tentang gawatnya situasi merapi (wah… sepertinya posko yang besar di sana, agak hidup jauh dari peradapan), seolah komando di hati masing-masing untuk menyiapkan diri dalam situasi yang mungkin darurat. Malam itu sepertinya setiap orang punya cara masing-masing untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Ada yang mengisi air mobil, ada yang merapikan peralatan obat, membersihkan tenda, dan memilah-milah peralatan yang mungkin saja di bawa jika sewaktu-waktu sang gunung meletus. Malam itu, sepertinya komunikasi banyak di lakukan dalam gerak dan suara diam.

Mungkin diantara kami yang disana…. Akan banyak rasa dan makna jika diingat sekarang…. Wah, kok bisa ya…menjadi seperti itu…. Kekuatan apa yang sebenarnya menggerakan mereka… Sepertinya, setelah beberapa hari di sana, tumpukan kelelahan mulai terasa, dan rasa empati mulai terkikis, tetapi pada akhirnya bisa bertahan hingga akhir. Dan sekarang, menjadi sebuah cerita yang baru diketahui hikmahnya… Bahwa Tuhan selalu tau sebuah cara yang membuat hambanya berlajar. Dan dari tumpukan peristiwa di 2010, merapi adalah peristiwa luar biasa yang membuatku belajar lebih baik lagi. Semoga terus bisa belajar ya Ya Rabb

Malam itu suara hiruk pikuk mulai terasa, mungkin sudah tengah malam.. seingatku tidurku sangat nyaman walaupun dalam kondisi yang entah akan terjadi apa. Seingatku pa arif mengumpulkan kami dan mengatakan bahwa yang akhwat masuk mobil, kuncil motor diserahkan, dan kita segera meninggalkan tempat itu, Kami menurutinya … Barang-barang dimasukan seadanya ke dalam ambulan,.. pa sakijo dan pa arif membawa masing-masing satu motor dan menjadi petunjuk ambulan kami, di ambulan ada pa Muhajir, pa Karsono, aku, Vo, dan Femi serta ada dua orag warga. Satu tidak berdaya karena lumpuh setelah kecelakaaan, dan satu lagi bapak tua yang menunggui anaknya tersebut. Pa karsono sempat berlari keluar mencari bu parini dan teman-teman, sang juru masak kami yang handal. Dan kami tidak menemukannya.

Malam itu akhirnya kami berjalan diantara kepanikan banyak kendaraan yang juga ingin turun… Heh… Rasa di dalam mobil itu tidak bisa tergambarkan dengan jelas hingga sekarang. Melihat warga yang lumpuh di depan mata, kesultan bernafas dan disampingnya hanya ada seorang bapak diam dan melihat anaknya. Masih produktif sekali usia sang anak jika tidak lumpuh. Di luar sana banyak kendaraan yang berjalan sama-sama tidak tahu arah dengan badan yang sebagian terselimut debu, dan dua orang saudara kami, pa sakijo dan pa arif menjadi bagian dari mereka. Entah berapa lama kami di dalam perjalanan. Tetapi serasa sangat lama sekali… dan seingatku aku sangat gelisan dalam diam, dan segera berharap segera sampai entah ke lokasi mana..Seingatku juga aku berkomunikasi dengan beberapa orang seperti pa lis, pa didik, dan pa mulia yang beberapa jam sebelumnya sudah turun. Hingga akhirnya kami benar-benar mengerti di mana lokasi kami untuk sementara, yaitu berada di GOR Koni di sekitar jalan Megelang.

Edisi dini hari ini itu ditutup dengan ribuan pengungsi yang terus berdatangan, kepanikan banyak warga yang terpisah dengan keluarganya, hilir mudik beberapa orang yang mencoba membantu sebisanya, kekurangan air dan makanan ringan hingga pagi harinya, dan terbatasnya oba-obatan ringan seperti obat mata atau minyak kayaputih karena memang semuanya serba menata. Ambulan RZ pun seingatku beberapa kali mengantarkan pasien ke rumah sakit, dan pagi itu karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku, Vo, dan femi akhirnya sempat tertidur di mushola kecil di seberang jalan. Hingga dingunkan oleh telpon yang menyuruh kami kembali ke kantor… Hah… pagi itu agak lucu, melihat beberapa teman membawa banyak makanan hasil rampokan dari minimarket, dan kami makan dengan lahap di ambulan… sepertinya kami relawan yang juga sama-sama melewati malam panjang tak menentu itupun juga sangat kelaparan…dan akhirnya di sela-sela PR yang masih belum selesai… untuk sementara kamipun kembali ke kantor.

Di kantor, akhirnya kami bisa bercanda dan tertawa bersama… wah… rasanya seperti tidak ada rasa.. menyaksikan tayangan telivisi yang entah itu berlebihan atau tidak. Yang jelas, kamipun dengan cara berbeda juga melalui malam yang luar biasa, yang jika di ingat sekarang menjadi sebuah jejak kenangan yang bermakna… menjadi bagian dari bencana merapi, yang suatu saat ketika kami mengingatnya akan tersenyum bersama-sama.

Dan yang paling aku suka dari foto dan cerita adalah menjadikannya tetap abadi menjadi sebuah rasa… menjadikannya hidup dengan banyak warna, dan selalu bisa diulang dengan banyak makna… heh..dan untuk kami yang waktu itu bersama…. Suatu sudut cerita luar biasa menjadi bagian dari kenangan itu….

 

Luar biasa

Vo, Femi, Pa Arif, Pa Muhajir, Pa Mulia, Pa Sakijo dan Pa Karsono

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: