Cinta dan Wanita

Entah dalam perjalanan hidup saya yang hampir melewati batas usia 23 tahun ini, saya sudah layak atau tidak untuk berbicara tentang konsep cinta, mengingat ada beberapa fase dalam hidup saya yang belum saya lalui. Hanya saja, saya pada akhirnya sangat tertatik untuk merumuskan tulisan mengenai cinta ini ke dalam sebuah bahasa yang mencoba saya maknai. Karena saya adalah wanita, dimana terkadang seorang wanita harus mempunyai konsep yang jelas mengenai sesuatu mengalahkan sebuah kelogisan yang biasa dinalarkan oleh mereka kaum lak-laki, karena saya wanita yang kadang keyakinan atau ketidakyakinan bisa mengalahkan fakta yang sebenarnya sederhana, karena saya wanita dimana terkadang wanita menilai dari sudut pandangnya sendiri untuk urusan cinta, karena saya wanita yang kadang wanita tidak mempersoalan perkalian angka jumlah untung dan rugi untuk sebuah urusan peduli dan cinta, dan karena cinta bagi seorang wanita terkadang harus dipahami dari sudut pandang yang berbeda.

Cinta setelah sekian abad lamanya baik para filsuf, ahli agama, pencinta perdamaian bahkan mereka yang terlibat perang dan permusuhan mungkin akan sepakat bahwa cinta adalah sesuatu yang universal. Definisi universal mungkin harus kita turunkan terlebih dahulu dalam konsep yang jelas. Namun, maksud saya universal disini adalah semua orang akan memaknai sama walaupun kadang sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata dan bentuk ekspresinya akan muncul berbeda-beda. Terlebih konsep cinta oleh seorang wanita.. karena saya dan banyak wanita lain di luar sana… yaa.. karena kami wanita…memang saya tidak sedang berbicara soal perbedaan gender apalagi bermaksud membandingkan atas beberapa perlakuan budaya yang pada akhirnya berbeda… tapi saya hanya ingin menuliskan sekali lagi bahwa konsep cinta dan wanita harus dipahami dari sudut pandang yang berbeda. Pada akhirnya, tulisan saya ini mungkin akan lebih sempit memangdang konsep cinta seorang wanita terhadap orang-orang yang dicintainya, walaupun pada dasarnya cinta lebih luas dari sekedar hanya itu.

Qurais Shihab menuliskan dalam bukunya “Perempuan”, bahwa satu seni yang sangat dimahiri oleh seorang wanita yaitu mencintai dan dicintai, itulah agaknya yang menjadi sebab kenapa Allah menganugrahkan kemampuan untuk menangis, cemburu, berduka, serta kesediaan berkorban untuk kekasih-menganugrahi hal-hal tersebut-melebihi anugrahnya kepada laki-laki, karena air mata mengundang kasih dan cinta, pengorbanan menyuburkannya, cemburu menghangatkannya, sedangkan duka cita tidak terobati melainkan dengan cinta pula. Saya bukannya mengindahkan bahwa laki-lakipun memiliki kemampuan menangis, cemburu, berduka dan kesediaan rela berkorban… semua mengakui bahwa itu adalah sifat yang dimiliki oleh manusia ketika ia sedang jatuh cinta… hanya saja terkadang wanita… wanita bisa lebih ekpresif dalam banyak hal dibandingkan laki-laki. Teman saya seorang wanita pernah berkata… modal utama saya adalah keyakinan kawan, keyakinan saya bersumber dari hati nurani saya bukan logika yang biasa digunakan oleh kaum adam..

Perempuan juga dianugrahi kemampuan berbicara lebih cepat dan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki karena yang menyuburkan cinta adalah kata-kata indah, dan yang menguburkannya adalah diam seribu bahasa… Wajarkan kawan… ketika seorang wanita bisa berulang kali mengatakan aku sayang kepadamu, sudah kah makan, semangat pagi, hati-hati dijalan… yang kadang itu jarang dilakukan oleh seorang laki-laki bahkan terkadang dianggap tidak penting oleh mereka.. yah, sekali lagi.. karena kami adalah wanita. Cinta bagi kaum wanita kepada lawan jenis adalah kisah romantis yang pelakon utamanya adalah perempuan walaupun laki-laki bertindak sebagai sutradaranya. Ibnu Hazm (dalam Qurais Shibab, 2005) menuliskan bahwa “tidak diketahui sesuatu yang begitu diperhatikan dan mantab pada diri perempuan melebihi cinta”, sehingga para ulama menganjurkan perempuan untuk bekerja, tentu dalam batas-batas yang dibenarkan-karena pekerjaan dapat mengurangi kecendrungannya bercinta dengan laki-laki. Tulisan ini tentu bukan sama dengan penghinaan terhadap wanita yang seolah dipikiran mereka hanyalah tentang cinta.. tidak, tentu saja tidak… karena kami wanitapun punya mimpi-mimpi yang ingin diraih, tetapi di dalam mimpi-mimpi itu tidak hanya untuk untuk diri kami seorang wanita, dari mimpi yang menjulang itu ada orang yang dicintainya untuk berjalan bersama. Jika kata orang “dibalik laki-laki yang sukses ada wanita hebat dibelakangnya“ tapi ini tidak berlaku untuk seorang wanita.. bagi wanita, di dalam setiap keinginannya ada seorang yang dicintainya untuk berjalan bersama-sama. Oleh karena itulah wajar jika ada tulisan bahwa sukses dimata lelaki adalah kedudukan sosial terhormat serta penghormatan dari lapisan masyarakat, sedangkan bagi kaum perempuan adalah menguasai jiwa raga kekasihnya dan memilikinya sepanjang hayat. Karena itu, lelaki-pada saat tuanya- merasa sedih karena sumber kekuatan mereka telah habis yaitu kemampuan bekerja, sedangkan perempuan merasa tenang dan rela karena kesenangannya adalah di rumah bersama suami dan cucu. Dan kami kaum wanita, merasa kalimat yang paling indah didengar dari seorang laki-laki adalah “ kekasihku, aku sungguh mencintaimu”, sedangkan kalimat yang paling indah diucapkan perempepuan kepada lelaki yang dicintainya adalah “ aku bangga kepadamu”.

Sahabat saya pernah dipusingkan dengan definisi sayang dan cinta yang mungkin tidak terlalu dipersoalkan oleh kaum laki-laki, tetapi definisi ini kadang amat penting bagi seorang wanita. Seorang wanita bisa menghabiskan waktu berhari-hari atau berbulan-bulan untuk memahami perasaannya, apakah ini cinta atau kenikmatan semata, bahkan saking dalamnya cinta bagi seorang wanita, ia bisa memutuskan untuk tidak menikah lagi selama bertahun-tahun setelah suaminya meninggal, karena bagi kami kaum wanita kenangan indahpun sama dengan cinta. Ada hasil penelitian yang cukup menggelitik saya, bahwa wanita yang ditinggal suaminya dan tidak menikah lagi umurnya lebih panjang dibandingkan dengan laki-laki yang tidak menikah lagi setelah istrinya meninggal, ini adalah salah satu bukti bahwa wanita bagi laki-laki adalah kebutuhan sedangkan laki-laki bagi wanita adalah tempat untuk dia berkorban. Sahabat wanita saya yang lain, berdasarkan pengalaman hidupnya mengatakan bahwa cinta itu adalah persoalan peduli, menerima dan rela berkorban… itu adalah semacam tingkatkan yang secara tidak sadar akan selalui kita lalui ketika kita benar-benar cinta terhadap sesuatu.

Cinta menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai “ suka sekali, sayang sekali, sayang benar, terpikat, merindukan, dan lainnya”. Mengutip dari Quraish Shibab (2005), dalam bahasa Arab kita dapat menemukan banyak selaki kosa kata yang dapat digunakan untuk menunjuk kepada cinta sesuai dengan tingkat kekuatan dan pengaruhnya kepada pecinta. Namun, secara umum, kata yang banyak digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada cinta adalah kata “hubb”, kata ini terulang di dalam Al-Quran dengan berbagai macam bentuknya sebanyak 93 kali. Jalaluddin Abdurrahman (1454-1505 M) mempunyai analisa yang menarik tentang kata ini. Hubb yang terdiri dari dua huruf yaitu (ha) dan (ba) mempunyai dasar filosofis yang dalam. Huruf (Ha), terucapkan melalui akhir kerongkongan yang bersumber dari suara. Tempat keluar itu tidak jauh dari jantung atau hati yang merupakan sumber cinta, sedangkan huruf (Ba) lahir dari pertemuan kedua bibir yang merupakan akhir tempat keluarnya sura. Dengan demikian, kata (hubb) menghimpun awal dan akhir sekaligus mengisyaratkan bahwa cinta adalah perasaan yang berlanjut hingga akhirnya.

Abu Al-Qasim mengartikan cinta sebagai mementingkan kekasih dari sahabat, dalam kalangan kaum sufi, mementingkan yang diridai kekasih ini adalah cinta kepada Allah SWT. Dimana, cinta kepada Allah adalah suatu kualitas yang mengejewantahkan pada diri seseorang sehingga menghasilkan ketaatan, penghormatan, dan pengangungan kepada-Nya. Dengan demikian, ia mementingkanNya dari selain-Nya. Ia menjadi tidak sabar dan resah untuk tidak memandang dan memenuhi kehendak Nya. Ia tidak bisa tenang bersama yang lain kecuali bila bersama Nya. Dan puncak kenikmatan yang dikecupnya adalah ketika menyebut-nyebut (berzikir) sambil memandang keindahan, jalal, kebesaran-Nya. Inilah tingkatan cinta yang paling tinggi menurut hemat saya. Namun, satu pertanyaan yang cukup menampar saya pribadi adalah, kenapa untuk kecintaan kepada manusia dan dunia kita bisa tergila-gila untuk mengagungkannya tetapi untuk Sang Pencipta… adakah kita semua sudah seperti itu.

Kembali kepada cinta dan wanita. Olson & Defrain (2003) menjelaskan bahwa Hubungan cinta adalah hubungan yang lebih dari hubungan persahabatan, tetapi hubungan cinta yang kuat didasari oleh persahabatan, dimana kepuasan dan kestabilan hubungan cinta berasal dari berbagai minat dan nilai. Menurut Davis & Tood (dalam Olson & Defrain, 2003), struktur hubungan persahabatan ada delapan elemen penting yaitu Kesenangan, penerimaan, kepercayaan, rasa hormat, saling menolong, menceritakan rahasia, pengertian, dan spontanitas. Sahabat menikmati sebagian besar kebersamaan waktu mereka, meskipun ada ketidaksamaan dan perselisihan yang terkadang muncul begitu pula dengan hubungan cinta.

Davis & Tood, 1982 (dalam Olson & Defrain, 2003), dalam penelitian mereka mengasumsikan bahwa dalam hubungan yang berdasarkan cinta, selain mempunyai karakteristik yang sama dengan hubungan persahabatan, tetapi ada karakteristik khas tambahan. Karakteristik khas tersebut digolongkan menjadi 2 kategori, yaitu the passion cluster dan the caring. The passion cluster meliputi tiga karakteristik: daya tarik, dorongan seksual dan eksklusivitas. Daya tarik adalah keasikan dengan orang lain, kecenderungan untuk berpikir tentang, melihat, keinginan untuk ngobrol, dan keinginan untuk bersama dengan orang tersebut. Dorongan seksual adalah dorongan untuk saling menyentuh dan bercinta, meskipun mereka tidak melibatkan hubungan seksual karena agama, moral atau alasan lainnya. Kekhususan adalah memberi pasangan prioritas utama dibanding dengan hubungan lainnya dalam hidup. The caring cluster terdiri dari dua komponen: menjadi pendukung untuk pasangan dan memberikan sepenuhnya (totalitas). Memperjuangkan dan mendukung berarti membela dan mendukung satu sama lain, meski pada saat-saat sulit. Memberikan totalitas adalah mudah bagi orang yang saling mencintai bahkan terkadang mereka berkorban.

Kalau kita merujuk kepada ilmuan yang mendalami seluk-beluk tubuh manusia, kita menemukan penjelasan yang mengatakan bahwa tubuh perempuan menghasilkan indung telur, sedangkan tubuh lelaki menghasilkan sperma. Dalam diri perempuan dan lelaki terdapat dua hormon kelamin yaitu Folikel Stimlating Hormone (FSH) dan Lutheinzing Hormone (LH). FSH pada perempuan berfungsi merangsang pertumbuhan folikel di dalam indung telur, sedangkan pada lelaki berfungsi untuk mempengaruhi proses pembuatan sperma. LH pada perempuan berfungsi merangsang pemasakan sel telur dan pada lelaki merangsang testis untuk menghasilkan testosteron. Folikel yang telah dirangsang pertumbuhannya oleh FSH akan menghasilkan hormon estrogen yang berfungsi merangsang timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder pada perempuan sehingga ia dapat juga dinamai hormon cinta. Sedangkan, folikel pada indung telur yang ditinggal keluar oleh sel telur yang telah masak akan menghasilkan hormon progesteron. Hormon ini antara lain berfungsi untuk memperlancar produksi air susu ibu sehingga sementara pakar menamainya hormon keibuan. Hormon cinta dan keibuan inilah yang merupakan sebab lahirnya aneka emosi pada perempuan seperti gembira, sedih, tegang, atau marah. Kedua hormon itu, sekali bekerja sama dan dikali yang lain akan berseberangan. Karena itu, seorang perempuan yang dimabuk cinta ingin terus memelihara dan kecantikan dan daya tariknya, tetapi perempuan yang melahirkan anak bersedia bukan saja mengorbankan semua kecantikannya demi anaknya, melainkan juga mengorbankan seluruh milikinya termasuk jiwa dan raganya.

Bagi wanita, cinta adalah harapan, bahkan hidup adalah cinta, sehingga perempuan bersedia berkorban demi cintanya. Dia bersedia meninggalkan ibu, ayah serta saudara-saudaranya demi mengikuti suami atau kekasih yang dicintainya. Bagi wanita, pengorbanan demi cinta bukanlah kematian, tetapi kehidupan karena tanpa cinta wanita tidak bisa hidup. Itulah sebabnya hanya perempuan yang terdengar bermaksud bunuh diri atau bahkan bunuh diri akibat putus cinta sedangkan laki-laki hampir tidak pernah terdengar bunuh diri karena cinta. Lelaki yang mencintai biasanya menuntut yang banyak atau memberi dengan perhitungan, tetapi wanita yang bercinta mempersembahkan tanpa batas dan karena mereka tidak mengenal batas dalam pemberian. Ini berbeda dengan kebanyakan laki-laki yang bercinta. Biasanya, laki-laki menuntut untuk dicintai sehingga sedikit sekali sejarah mencatat adanya pecinta agung dari jenis laki-laki, berbeda dengan perempuan. Saya ingin menegaskan bahwa cinta yang dimaksud bukan hanya cinta kepada lelaki seperti pacar atau suami, tetapi juga kepada anak, bahkan kepada Allah SWT. Nama Rabi’ah al-Adawiyah adalah salah satu nama wanita Pecinta Tuhan yang agung.

Mencintai lawan jenis tidak dilarang oleh agama karena cinta adalah fitrah dan merupakan naluri di dalam diri manusia. Tidak ada rasa takjub dan menyenangkan dalam diri manusia yang lebih dalam dari merasa dicintai dan mencintai. Allah tidak melarang cinta, Dia hanya mengarahkannya kearah yang berdampak baik bagi manusia… dan itulah manfaatnya aturan atau norma-norma yang harus dipatuhi oleh manusia.

Para pakar mengingatkan perbedaan antara cinta dan syahwat. Cinta adalah kecendrungan hati yang mendalam terhadap sifat-sifat lahir dan batin kekasih, sedangkan syahwat hanyalah dorongan nafsu kepada sifat-sifat lahirriah kekasih. Karena itu, semestinya tidak ada cinta pada pandangan pertama karena pandangan pertama belum dapat mengantar kepada pengetahuan apalagi kekaguman sifat-sifat batiniah kekasih.

Cinta menuntut keiklasan. Kesetiaan itu menuntut pecinta menepati janji-janjinya, memelihara kekasihnya serta nama baiknya baik dihadapan atau dibelakangnya, mejauhkan segala yang buruk dan mengeruhkan jiwanya, membantunya memperbaiki penampilan dan aktivitasnya, menutupi kekurangannya, serta memaafkan kesalahannya. Dan yang dicintaipun harus demikian, jika ia telah menyambut cinta yang ditawarkan.

Quraish Shihab mengatakan bahwa cinta adalah pohon yang tumbuh subur di dalam hati. Akarnya adalah kerendahan hati kepada kekasih, batangnya adalah pengenalan kepadanya, dahannya adalah rasa takut kepada tuhan dan kepada makluk sehingga jangan sampai ada yang menodainya, buahnya adalah kesatuan hati yang melahirkan kerja sama, sedangkan air yang menyiraminya adalah mengingat dan menyebut namanya. Cinta mengundang dan mendorong pecinta untuk melakukan aktivitas terpuji seperti keberanian, kedermawanan, pengorbanan dan sebagainya. Dengan kata lain, cinta melahirkan gerak positif. Dengan demikian ia adalah kehidupan dan kebahagiaan.

Penutup tulisan ini, Cinta mestinya berakhir dengan kematian yang dicintai. Bahkan, Al-Qur’an menggambarkan cinta suami istri yang beriman berlanjut terus kendati setelah kematian. Firman Allah ”sesungguhnya penghuni-penghuni surga pada hari itu dalam kesibukan, lagi sangat senang. Mereka bersama pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat-tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan (QS. yasn 55-56). Semoga….!!!

Beberapa inspirasi :

M. Quraish Shihab, 2005 ” Perempuan”
Olson, David H. & Defrain, John. 2003. ”Marriages and Families: Intimacy, Diversity, and Strength”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: