Cerita Anak Soal Khitanan Masal

Well, menyenangkan sekali khitmas kemaren..semacam lab pengamatan baru yang unik dan menyenangkan… aha….lucu sekali anak-anak itu… dengan sarung, baju koko putih, dan peci hitam di kepala, mereka memasuki ruang dongeng… dan ayo kita liat..bagaimana peran orang tua sangat berpengaruh terhadap tingkat kemandirian anak dan kompetensi sosial anak lainnya

Ada anak yang duduk di pojok, kemudian tiba-tiba keluar…. Awalnya ku berfikir anak ini takut dengan sunat…. Dia langsung turun tangga, dan aku berlari mengejarnya…. Kuantarkanlah sang anak kepada orang tuanya…. Setelah bertemu dia bukannya takut sunat ternyata… dengan malu dia mengatakan kalau dia tidak punya teman disana… Sang orang tua kemudian mengantarkannya kembali keruangan, dan sekali lagi sang anak ingin ayahnya masuk karena ia tidak punya teman…. Susah juga membujuknya…sampai ada anak yang mau masuk juga menjulurkan tangannya dan mengajak berkenalan…. Well, baik sekali anak ini, siapa gerangan…. Dia tersenyum dengan manisnya dan mengajak temannnya masuk (aihh…. Benar-benar dewa kecil penolong..) dan si kecil yang awalnya menolak masuk kemudian tertawa dan akhirnya mereka masuk bersama… case closed!J

Ada si kecil berumur 3 tahun naik ke lantai atas bersama bapaknya… aku bertemu dengannya di tangga.. dia naik sendiri dengan imutnya… hari itu sang anak adalah peserta terkecil diantara puluhan perserta lainnya. Si anak yang imut ini bersama ku mau masuk ke ruang dongeng (wah sedikit terkejut aku si anak langsung mau diajak ke situasi baru tanpa sang ayah….) Oleh maul dia diajak duduk agak depan (karena dia paling kecil).. cukup lama sang anak di dalam… sepertinya dia cukup menikmati acara… sampai tiba-tiba di tengah keheningan dia kemudian berkata “ Pa….Pa….” itu berarti secara psikologis si kecil sudah merasa tidak aman… tak mungkin dia berada disana…akhirnya kuajaklah dia bertemu sang bapak yang bertemu di luar. Nomor urut sang anak adalah nomor 9, itu berarti keloter kedua setelah awalnya beberapa anak masuk… sang ayah terlihat menenangkan si anak dengan mengajaknya bermain. Kunci ketenangan anak adalah kebahagiaan dan dia mengetahui ada orang baik dan dikenalnya ada di sekitarnya.. And for this situation, Good Job for his father J !!!, sang ayah membuat si anak terlihat nyaman dengan situasi walaupun tangisan-tanginsan sudah terdengar…. Si kecil kemudian masuk ruang khitan… entahlah apa yang terjadi disana… sepertinya sangat lama dia di dalam dan ketika keluar si kecil sudah di khitan….

Ada anak yang duduk di kelas 5 SD, awalnya dia dengan berani sendiri masuk ruang khitan…. Kemudian dia keluar dengan rasa takut dan ingin bapaknya…. Sang bapak kemudian dipanggil… Sang bapak tampak kaku dan aku merasa sang anak juga agak takut dengan bapaknya. Bapaknya mengatakan “ gak papa… nanti ditemani sama bapak”… akhirnya sang anak masuk lagi… dan keluar kembali karena rasa takut. Beberapa orang mencoba membujuknya… sang bapakpun akhirnya cuman diam… dan sang anak terus menangis… beberapa orang yang sudah disunat dipanggil buat cerita didepan sang anak… mereka mengatakan “ gak sakit kok”, tetap saja…sang anak tidak mau disunat…Ini adalah anak terlama yang dibujuk dalam catatanku… sudah banyak orang yang membujuknya… dia tak mau bergeming… banyak kata yang dikeluarkan.. Akhirya setelah ditanya, “ kamu mau apa? Mau pulang?” dia menjawab “ engga?”, tapi kamu mau disunat?, dia kemudian menjawab… iya?… emmm….salah satu kenapa ia ingin disunat mungkin karena ia menghormati sang bapak yang sudah capek-capek mengantarkannya… Akhirnya setelah dikatakan..” ayo, kasian bapak lho…nungguin dari tadi, sudah ngantar, dan sama aja..taun depan juga bakalan sakit”… Sang anak mengatakan ia ingin ditemani sang bapak…. Dan pada akhirnya operator bersama banyak asisten tambahan harus bekerja keras, sang anakpun resmi di khitan… Sang anak disambut tepuk tangan ketika keluar ruangan dan akhirnya tidak lagi tangisan…tetapi dia tersenyum dengan manisnya J

Seorang ibu membujuk panitia untuk bertemu sebentar saja dengan anaknya…. Maaf bu, kami terpaksa menolaknya dengan alasan bahwa nanti anaknya malah gak mau kalau ketemu ibunya dan anaknya sudah nyaman kok di ruang dongeng… Sang ibu tetap membujuk, saya kan ibunya mba..saya tau bagaimana anaknya… (aku mikir…iya juga ya.. J), “ maaf bu… takutnya nanti anak-anak yang lain jadi ingin bertemu orang tuanya juga” rayuku kemudian…” ndak papa kok bu, anaknya nanti kami antar kebawah”, “ sebentar saja mba…. Cuman sebentar saja”… ahhhh… actualy, I hate this situation, tidak tega, karena luar biasa perasaan sang ibu ini… ini adalah hari besar untuk putranya, dan dia ingin ada disampingnya…Akhirnya kami mengizinkannya melihat dari luar… dia mencari sang anak, dan sang anak terseyum kemudian melambai kepada ibunya… senyuman sang anak sungguh menenangkan hati sang bunda…. Greatzzzz BOI!!!

Sejak pertama kali si anak naik tangga dan berjalan bersama kakaknya..aha!!! aku sudah jatuh hati kepadanya… Gempal dan lucu sekali… bukan karena dia gempal dan ganteng saja… karena dia terlihat sangat berbeda menurutku…seolah dia tidak peduli dengan lingkungannya dan asik dengan diri dan lingkungan yang menurutnya nyaman.. Ketika kuajak ke ruang dongeng dia menolak..dia ingin bermain bersama kakaknya…sangat lama dia asik di taman kecil RBG.. dan aku begitu senang memperhatikannya.. Kadang-kadang dia berada dipelukan ibunya…kemudian bermain di Gazebo.. lalu berlari-lari… seakan dia sama sekali tidak terpengaruh dengan tangisan di ruangan yang terdengar dengan jelas di luar… Dia selalu tertawa dan melakukan yang dia suka..(aihhh gemes sekali aku dibuatnya). Nomor urutnya adalah 78… aku akan ingat ini, karena aku ingin memperhatikannya…J, ketika waktu sholat untuk anak-anak, kuajaklah dia untuk sholat… sang ibu juga membujuknya… dia kemudian menjawab “ ogah…capek”. Dia duduk dipangkuan sang ibu…dan bermanja-manja disana. Ketika anak mulai tersisa sedikit, sang kakak bersama anak ini masuk keruang dongeng dan dia langsung mengatakan “ ipin..ipin” (emmm…anak kecil memang selalu senang kartun), aku memberikannya roti dan dia dengan senang memakannya… hingga tiba urutannya..”78”, sang kakak mengajaknya keluar walaupun awalnya dia menolak… si kecil ingin berlari ke ibunya… dan kakaknya mengajak ke rute yang berbeda yaitu ruang khitan… Menurutku si anak tidak tahu dia mau diapakan…. Dia hanya tersenyum dan bilang “ mau kemana”, Akhirnya si anak berhasil di khitan walaupun sekali lagi dengan sekuat tenaga oleh tim medis… Aku kemudian mengetahui bahwa katanya sang anak didiagnosa mengidap autis. Autis berasal dari kata “Auto” yang berarti “sendiri”, Sebuah gangguan perkembangan mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain, sehingga sulit untuk mempunyai ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat. Menurutku pribadi, anak ini tidak dalam kategori parah karena masih bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan baik walaupun mungkin dia lebih asih dengan dunianya sendiri. Dan luar bisa cara sang ibu dan kakak memperlakukannya. Terlihat sabar dan tenang sehingga memberikan kenyamanan kepada sang anak pada lingkungan baru yang agak mengancam diri.

Anak ini terlihat sangat berani dan percaya diri di ruang dongeng.. Dia menjadi salah satu pemimpin teman-temannya dalam bernyanyi dan mendapatkan hadiah karenanya. Memang sangat lama dia menunggu giliran sampai ketika dia masuk ruang khitan dan mendengar teman-temannya menangis. Semacam ada efek masa disini… ketika melihat semua orang menangis dan ketakutan, seolah-olah tangisan dan rasa takut itupun menjalar kepada sang anak. Apalgi dia masih kelas dua SD. Setelah bertemu dengan orang tuanya sang anak menangis sejadi-jadinya. Kewalahan sang ibu menenangkannya. Saat semua peserta sudah hampir habis, sang anak masih saja terus menangis. Bapaknya kemudian mendatangiku dan mengatakan bahwa “ mba… gimana ya..tabiat anak saya itu gitu, dia kalau nunggu lama, dan ngeliat teman2nya..jadinya gak berani”. Deal… ok, secara psikologis menunggu membuat suatu perasaan negatif jika tidak dinikmati dan disi dengan sesuatu yang menyenangkan. Yang membuatku terkaget-kaget adalah si anak yang kalem dan percaya diri tadi menjadi memukul-mukul sang ibu dan adiknya… “ pulang…balik… sekarang..!” hanya kata-kata itu yang terus diucapkannya….selalu saja itu.. Kenapa anak ini berubah menjadi sangat agresif ketika keinginannya tidak bisa dipenuhi??, dan sang ibu dengan sabar menerima pukulan anaknya… Ketika aku bicara dengan ibunya dan mengatakan biarkan saja bu sampai nangisnya reda… sang anak justru tambah memukul ibunya…. Wah.. anak ini yak..!!!, keinginannya untuk pulang benar-benar kuat. Ibunya mengatakan masih ingin dikhitan, dan dokter bilang asal ada yang pegang gak papa… Sang anak tambah jadi saja, dan ketika ngobrol dengan ayahnya lagi… sang ayah mengatakan bahwa anaknya sudah gak bisa ditenangkan kalau udah seperti ini mba… memang sudah menjadi karakternya. Tidak usah aja disunatnya… saya gak berani kalau perasaan anaknya gak tenang… Right!!! Sepakat batinku… lebih baik ketika anaknya siap saja… Karena khitanan terjadi sekali seumur hidup, so… menunggu sejenak tidak masalah…

Di tengah-tengah ruang dongeng…sang pengisi acara yang sudah terlihat capek (luar biasa kalian berdua boi) sedang memberikan kata-kata “urut”, emm… aku agak lupa itu soal apa…. Tiba-tiba dari bagian belakang ada anak yang bersuara dengan lantang “ bapakku tukang urut….” Kemudian dia berkata lagi…” bapakku juga tukang  bekam”… dan langsunglah mataku selalu tertuju kepada sang anak… luar biasa menurutku, kebanggaan sang anak sudah terlihat kepada bapaknya semenjak kecil disaat kadang-kadang banyak anak yang malu dengan pekerjaan orang tua.. Si anak terlihat unik diantara banyak anak yang tersisa untuk di eksekusi. Dia beberapa kali terlihat tertarik memainkan komputer dan lebih memilih mengikuti lirik lagu yang ada di komputer dari pada yang ada di LCD. Sang anak tanpa sengaja juga beberapa kali mengganti lirik lagu yang sedang dinyanyikan temannya kemudian tertawa kecil dan mengembalikannya ke lirik yang semua. Saat ada temannya yang mau jadi pemimpin dalam bernyanyi, sang anak langsung berkata “ dia anak SD Juara kelas 2… kalau aku masih kelas 1”. Mataku selalu tertuju kepada si kecil, dia kemudian kedepan… dan mengambil kotak makannya… isinya susu dan roti dari orang tuanya. Dia meminumnya.. kemudian kembali ketempat duduknya. Di Matanya, tak ada rasa takut dari situasi baru dan teman-teman yang tidak dikenalnya. Hingga tibalah urutan sang anak di khitan, dia masuk dengan berani… sampai tiba-tiba dia melihat teman-temannya menangis.. Si anak kemudian ruang khitan, aku menyuruhnya duduk, dia menolak… wajahnya takut dan dan dia ingin bapaknya. Kami mencari sang bapak dan kemudian dia bertemu ibunya di tangga.. Uniknya, si kecil menolak sang ibu… dia hanya mengatakan “ bapak… bapak…”, Sang bapak kemudian dengan bijak menggendongnya.. mengajaknya keruang dongeng dan sang anak menangis di pelukan bapak… sangat lama sang bapak menenagkan anaknya, membujuknya kembali untuk masuk ruang khitan. Sang ayah keluar dari ruang khitan dan mengatakan bahwa ibunya lagi berusaha membujuk. Tugas ayah kemudian diganti oleh sang ibu. Haihh… senang sekali aku melihat keluarga ini. Ibu membelai putranya yang sedang takut dan berusaha menenangkan hatinya yang sedang galau. Entah kata-kata bijak apa yang dituturkan sang ibu, hingga kemudian digendongan sang bapak sang anak masuk ruang khitan. Dia tetap menangis dan sangat takut… entah berapa orang yang memeganginya selain sang bapak.. Anak kecil itu adalah peserta terakhir dari anak yang dikhitan.

Dan…. seorang relawan berceletuk kepadaku “ bahwa salah satu peristiwa besar dalam ingatan laki-laki adalah ketika ia dikhitan”, dan bisa jadi kenangan khitanan masal dan kejadian dibaliknya akan menjadi memori tersendiri di hati mereka. Kekamar mandi selain untuk membuang air kecil menurutku juga adalah salah satu alasan untuk melihat situasi diluar dan cara mereka menenangkan diri dari situasi, terus bertanya sekarang antrian nomor berapa juga adalah cara lainnya untuk menyiapkan diri mereka, dan pelukan dari ayah dan ibunya adalah cara paling ampuh pada akhirnya untuk menenangkan diri. Dari tangisan hingga senyuman saat keluar dari ruang khitan, dan menurutku ada kebanggan bagi sang anak ketika ia sudah berhasil dikhitan tanpa tangisan dan senyum-senyum bangga itu selalu saja nampak… (selalu teringat kata-kata anak dengan berbinar mengatakan…” terimakasih ya mbak.. subhanallah sekali anak ini…siapakah gerangan orang tuanya, dia berjalan sendiri turun kebawah dengan senyum manisnya)

Kawan…suatu saat kita akan menjadi seorang ibu dan ayah…semoga kita menjadi idola bagi mereka… sebelum kita mengajarkan idola-idola lain kepada si kecil itu, karena ketika sang anak mengidolakan orang tuanya, suatu saat anak akan bertanya… siapakah idola kita (mungkin saja dari kita akan menjawab… nabi Muhammad nak, Siti Khadijah, Umar, Bj. Habibie atau tokoh luar biasa lainnya, da kita kemudian menambahkan…belajarlah dari mereka…) Bagi seorang anak..contoh nyata jauh lebih menarik dibandingkan retorika abtrak yang tidak mereka mengerti… Setiap anak itu unik… dan keunikan itu tidak hanya datang dari Tuhan..tetapi juga dari lingkungannya…J

Dan Untuk Mereka yang bekerja untuk Khitmas :

Hari yang menyenangkan, dan mungkin akan banyak cerita lain bersama kalian… Benar-benar hari yang spesial…

Sampingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: