Cerita yang Tertunda : Aku, Dia, Mereka, Kita… Relawan dan Merapi

IMG_3986Kawan… tulisan ini lahir dari kebingungan untuk memulainya dari mana (makanya judulnya juga asal..he)… hanya saja, yang terpikir oleh ku adalah aku tidak ingin melupakan setiap jejak yang terukir (baik manis maupun sporadis) di dalam hidupku.  Kalau boleh jujur, aku sangat benci lupa (heee… walaupun sangat sering namanya lupa), dan tulisan selain juga foto, adalah media ampuh mengingatkan banyak hal yang terjadi di dalam hidup, karena kawan… hidup benar-benar sangat menarikkan!!!

 Sejenak terdiam dan berfikir, kenapa aku bisa melakukan ini…. Tidak pernah membayangkan aku bisa terlibat jauh dalam kegiatan relawan dan berkumpul bersama orang-orang hebat seperti kalian… tidak pernah membayangkan bahwa kadang kala ada aspek-aspek pada diri yang pada akhirnya terlupakan untuk sebuah urusan yang selalu kita yel-yel kan “ tetap semangat untuk bahagiakan umat”. Kadang kala, aku juga mencoba meraba dan bertanya, apa yang sebenarnya ada di dalam fikiran kalian kawan…kenapa bisa-bisanya sebegitu jauh kalian berbuat sesuatu yang seharusnya bukan tanggung jawab kalian… Apa yang kalian fikirkan, apa yang kalian cari, apa yang kalian kejar kawan…??!!!

 Kalau boleh jujur, impian ku di kota ini begitu sederhana… ingin mengupas dengan tuntas ilmu yang yang orang bilang adalah ilmu jiwa, menikmati kampus yang katanya salah satu terbaik di Indonesia ini, membayangkan rutinitas yang menyenangkan akan ilmu pengetahuan dan menghasilkan tulisan-tulisan yang berbau ilmiah (haa… monoton sekali tampaknya ya). hanya saja, kota ini dan kalian kawan, memberikan menu yang lebih menarik dari pada tumpukan jurnal-jurnal yang kadang  membosankan, statistik yang membingungkan dan ceramah panjang soal konsep manusia yang ideal serta pendidikan yang humanis di dalam kelas yang kadang sangat berbenturan dengan kenyataan. Hohh…. Dan aku tidak pernah sekalipun menyesali akan banyak kebersamaan yang pernah kita lakukan!!!

 Hoohhhhh……. Tidak pernah menyangka bisa menuliskan hal ini… sesuatu yang ingin disimpan sampai suatu saat tiba waktunya untuk diceritakan. Tapi, rasa ini sudah tidak sabar ingin mengungkapnya..karena waktu begitu cepat berlalu ya… dan taun depan… belum tentu rasanya akan sama dan mungkin maknanya akan berbeda… Well, suatu fase yang luar biasa yang membuatku banyak belajar membumikan egosime pribadi menjadi sesuatu yang lebih bersifat kita atau menyederhanakan banyak perbedaan menjadi sebuah persamaan untuk sebuah tujuan (Haaa….. apa coba maksudnya).

Sebenarnya ingin menceritakan soal merapi dan kesan-kesan yang ada di sana… tapi agak takut dengan kata-kata yang mungkin keluar agak sporadis dan bersifat sindirian, hasilnya jadinya melantur tidak jelas… (ah…bodoh amat, yang penting menulis saja ya…Pokoknya saya tidak mau tau…Jangan pada protes).

 Kembali ke Merapi….

 
IMG_3627Dari seluruh jabatan kepanitiaan yang pernah aku jabat… tidak pernah ada list konsumsi di dalamnya…ini adalah jabatan yang paling tidak berani dipegang, alasannya sedernaha… karena aku punya menu sendiri untuk makanan kesukaan dan itu belum tentu cocok sama yang lain…Dan dapur umum…. Walaupun awalnya serasa tidak menjadi diri sendiri…lambat laun menjadi menyadari, mungkin ini adalah cara Tuhan buat aku belajar. Aku pribadi kawan… minimal menjadi tau kalau ternyata bumbu dapur itu jenisnya banyak. Setengah ton itu sama dengan 500 kg (haa… dodol banget ya), dan meramu kornet menjadi sebuah makanan enak itu ternyata tidak sesederhana urusan kasih garam dan kemudian digoreng.  Di dapur umum, aku belajar untuk lebih peduli (haa…. Ternyata tidak harus menjadi seorang psikolog untuk menjadi empati… cukup bertugas di dapur umum saja). Waktu itu pola pikirku sangat sederhana, jika makanan  relawan yang bertugas tidak dipastikan tersedia dan tercukupi…. Maka pengungsi tidak akan terbantu… Saat ingin berhenti di tengah-tengah…alasan inilah yang menahannya..

 Mungkin begitu juga dengan kalian yang terlibat di relawan merapi ya… Pasti ada sesuatu yang sangat berharga yang dapat kita pelajari bersama…. Ceritakanlah kawan..biar kita bisa sama-sama saling belajar!!!.. Karena sesama manusia sadar atau tidak pasti akan memberikan kontribuasi kepada manusia lainnya. Seperti kata seorang tokoh bahwa hidup adalah kumpulan cerita yang saling terkait bukan hanya sebuah teori yang susah dijabarkan… dan ceritaku, cerita kalian, atau cerita mereka adalah sesuatu yang mungkin saling berhubungan dan bisa dimaknai bersama.

IMG_9779 Di merapi aku belajar bahwa urusan menolong tidak hanya persoalan memberi, melakukan dan berusaha iklas…kadang kala, sesuatu harus ditempatkan pada tempatnya agar sesuai dengan maksudnya. Sering kali, kemanusiaan juga harus dibenturkan dengan banyak kepentingan dan mereka yang bijak adalah mereka yang bisa berada digaris tengah antara kepentingan dan kepedulian (sesuatu yang luar biasa sulit untuk dipelajari). Berhari-hari di posko itu, tidak pernah menyangka akan melihat bahwa dalam kondisi bencana, tidak melulu kondisi negative yang kita rasakan… banyak kebersamaan yang bisa kita maknai.. Bagaimana  warga dari dusun tertentu tidak mau dipisahkan dengan warga lainnya ketika tidur di barak pengungsian (sisi lain dari kekeluargaan bukan), bagaimana seorang yang lumpuh dan menjadi salah satu warga yang dievakuasi masih berkata “saya tidak mau merepotkan orang lain di pengungsian, makanya memilih di rumah saja”, Bagaimana seorang ayah yang sudah tua duduk dengan setia menemani anaknya yang sakit di ambulan tanpa berkata-kata, bukannya bisa saja sang ayah memilih terlebih dahulu mengungsikan diri…(aku mencoba meraba, apa yang ada di pikiran sang ayah ini melihat anaknya), bagaimana justru sesama wargalah yang saling menenangkan warga lainnya untuk tetap tenang, bersyukur,  percaya kepada Tuhan dan yakin semuanya baik-baik saja,  bagaimana sebenarnya banyak anak yang tetap ceria dalam kondisi terbatas di pengungsian karena mereka berkumpul dengan banyak anak lainnya untuk bermain (sisi positif anak-anak merapi yang lebih cepat menyesuaikan diri dari pada orang dewasa). Pada titik ini, tidak ingin mengatakan mereka baik-baik saja… tapi juga tidak layak mengatakan mereka begitu terpuruk. Kadang kala perlakuan orang luar yang mengganggap mereka adalah orang yang lemah karena menjadi korban justru membuat segala sesuatu menjadi lebih dramatis….Entahlah kawan, menurutku bukan hanya ekploitasi kelemahan yang harus ditunjukan, namun lebih dari itu banyak hal positif dari banyak aspek bencanapun perlu ditonjolkan, karena sesuatu yang bersifat positif akan membawa penyemangat untuk cepat bangkit dari keterpurukan.

 IMG_2165Well, kadang kala mendengarkan masalah-masalah mereka ternyata menjadi sisi lain bagi relawan untuk bersyukur di dalam hidupnya dan menyadari bahwa ada frame lain di luar kotak pikirannya, kadang kala juga kebahagiaan datang dari  hal yang sederhana seperti melihat seorang anak  tersenyum karena mendapatkan susu kesukaannya atau saat tawa menyeringai ketika ada pengamen jalanan yang datang menghibur warga di pengungsian. Atau bagaimana semangat bisa dibangun dengan hanya memukul-mukulkan alat masak tiga kali (tengg….tengggg…tenggg.) dan disambut dengan teriakan “ woi” oleh mereka yang bekerja di dapur umum. Sampai pada titik ini aku berfikir… bukankah hidup itu cukup sederhana,,,, Buat aku pribadi kawan…. Walaupun mungkin masih belum bisa berbuat banyak untuk mereka, sungguh pengalaman luar biasa berada di tengah-tengah mereka.

Hah…. Rasanya ingin melakukan lebih dari ini… kadang kala belum melakukan yang terbaik untuk membantu mereka…kadang kala berfikir masih ada yang bisa diusahakan….sampai pada akhirnya kembali kepada pikiran… lakukan saja yang terbaik di posisi dimana berada… dan mungkin bencana ini belum usai… hanya saja…sebagai manusia,banyak kewajiban lain yang harus kita lakukan tentunya… Dan hal yang paling berat pada titik ini adalah membumikan keinginan dan tuntutan pribadi yang harus segera di selesaikan dan inilah saat-saat idealisme relawan kemudian terus dipertanyakan.

Kawan… perpekstif tulisan ini bisa saja salah… hanya ingin berbagi dan tidak ingin melupakan. Sisi lainnya yang aku dapat adalah aku menjadi lebih mengenali banyak sisi dari kalian relawan… Membantu memandang segala sesuatu menjadi lebih sederhana.. Entah….. apa yang terjadi kedepan dengan kita semua… semoga kita selalu bisa belajar atas semua peristiwa yang terjadi.

 

23 November 2010

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: