Tentang Martapura (Mengukur Jalan Kampung Halaman)

Banyak hal menarik di kota saya.. salah satunya adalah kota Martapura. Tempat orang-orang biasanya melakukan perampokan besar-besaran terhadap batu-batu permata berharga seperti berlian, zambrud, delima, rubbi, safir, dan banyak jenis lainnya sampai-sampai membuat saya heran sendiri kenapa batu sekecil itu harganya bisa sampai ngalah-ngalahin jatah bulanan saya perbulannya. Gila… obsesi manusia terhadap batu mulia ternyata sangat besar… berjibun toko-toko ni barang, membuat naluri wanita akan keindahan segera memuncak.

 Well, ngomongin kota ini, banyak yang seru… Ingin melihat kentalnya islam dan serasa kota santri, datanglah ke kota ini.. jamannya saya kecil dulu, ketika saya diajak ke kota ini pada malam hari dan berada di salah satu mesjid… saya melihat semua orang serba putih…(hee…) benaran seperti orang mau naik haji… di kota ini selain banyak batu mulia yang sangat menggiurkan itu juga banyak pesantren yang sepertinya mengusung berbagai tema. Sosok guru sangat dihargai di kotai ini, dulu ada namanya “ Guru Ijai”, saking dihormatinya, sering disebut tuan guru dan makam beliau tidak pernah sepi dari manusia. Kata orang-orang dari dulu hingga sekarang, Martapura adalah kota dengan julukan serambi mekah. Alasannya sederhana, karena banyak orang berpakaian putih dan panjang (biasanya gamis atau sarung) berkeliaran wira-wiri dan seolah jari pakaian sehari-hari.

 Martapura adalah cerminan orang dan budaya banjar asli. Pergilah ke pasar tradisionalnya untuk melihat bagaimana sebagian karakter orang banjar utamanya dalam urusan jual beli. Suku banjar dikentarai berasal dari suku melayu, sehingga banyak disebut suku melayu banjar.. Jadi kadang kala karakteristik tertentu suku banjar hampir sama dengan suku melayu secara keseluruhan yang sangat mementingkan kekeluargaan dalam urusan sehari-harinya selain juga mereka adalah orang yang suka sekali ngobrol.

Pasar tradisional martapura yang terbesar terletak disamping pusat perbelanjaan intan dan permata. Setelah pagi-pagi buta niatnya liat-liat souvenir, ternyata hasilnya tidak buka…Well, mungkin ini adalah salah satu kekurangan orang banjar, bahwa waktu dipagi hari belum tentu waktu yang tepat untuk mencari rejeki. Jika ingin berkunjung ke toko-toko permata, datanglah diatas jam delapan pagi… itupun buka masih sebagian.

Menariknya di pasar trasional ini adalah penjual terbiasa ngobrol panjang lebar dengan pembelinya. Misalnya, anakknya kuliah jua kah, dimana rumah, iwak wanini talarang sadikit, maambilnya gin tajauh, ulum manjuali pian aja ni, dll.  Catatan saya hari ini, jika kamu pergi bersama orang yang memakai peci putih bagi laki-laki atau memakai bolang bagi wanita (semacam topi  yang biasanya dipakai ibu-ibu sehabis pulang haji) maka siap-siaplah dipanggil pa haji atau bu haji. Di kota ini, kostum seperti itu seolah jadi tanda bahwa seseorang pergi haji, walaupun mungkin belum tentu mereka sudah berhaji. Orang Islam dan banjar asli biasanya orang yang mempunyai mimpi yang tinggi untuk pergi haji, sehingga gak heran kalau biasanya dari seluruh Indonesia, orang yang terbanyak pergi haji adalah orang banjar. Saking cintanya sama ka’bah, kadang kala dalam satu tahun, mereka yang punya uang bisa pergi umrah atau haji berkali-kali. Biasanya pada bulan ramadhan, maulid nabi, dan musim haji.

Kembali kepasar tradisional ini, diantara sesama penjual biasanya sangat akrab. Sambil berjualan mereka bisa saling cerita soal keluarga, soal tetangga, bahkan soal bangsa dan negara yang berkisar pada mahalnya biaya pendidikan, susahnya urusan birokrasi seperti ngurus KTP atau pemimpin daerah yang keislamannya harus jelas. Terakhir obrolan yang saya dengar tadi adalah soal urusan nikahan… orang banjar mengatakan itu adalah “ saruan” artinya ada yang mengundang orang tertentu untuk pergi kesuatu hajatan. Mereka mendiskusikan berapa uang yang harus dimasukan di dalam amplop untuk memberi yang punya hajat… ada yang mengatakan, kalau tidak terlalu dekat kasih aja seadanya… ganti ongkos makan… (cukup tersenyum saya mendengar ini, urusan seperti ini bisa dibicarakan dipasar saat transaksi jual beli).

Sistem jual beli di pasar ini dan umumnya di pasar tradisional lain di banjar adalah soal akadnya.. ketika transaksi dan tawar menawar sudah disepaki, kemudian uang dibayarkan serta barang diserahkan maka si penjual akan bilang “ jual lah”, kemudian si pembeli akan menjawab “ tukar lah” atau kebalikannya. Ini adalah semacam akad “lek-lekan” (artinya lebih kurang mohon dimaklumi) agar gak ada tanggungan di kemudian hari. Penjual di pasar inipun juga tidak pernah menutup pintu rejeki bagi siapapun… misalkan ketika barang tidak dijual ditoko mereka, mereka akan mengatakan bahkan menunjukan tempat dimana barang yang pembeli cari di toko lainnya. Hooyaa… apabila kita adalah pembeli pertama di toko ini, maka berusahalah menawar dan minta dikurangi lagi harganya, karena biasanya ada keberuntungan di pembeli pertama. Penjual di pasar ini biasanya akan mengganggap pembeli pertama adalah sebagai penglaris dagangan mereka. Hal unik kemudian akan terjadi, uang yang sudah kita bayarkan akan disentuhkan ke barang dagangan mereka sambil berujar “penglaris…penglaris… semoga tambah banyak”.

                Yang paling menyenangkan dari pasar tradisional dibandingkan dengan pasar modern seperti super market atau toserba yang katanya serba ada adalah hubungan interpersonalnya. Pergilah ke warung makan pesanlah secangkir the atau kopi, maka dijamin dalam waktu lima menit kalian semua akan menemukan teman ngobrol. Dimulai dari dimana rumah, kerja dimana, dan kawan-kawannya. Kalau pergi ke super market, mau ngobrol sama sapa… sama barangnya, atau sama troli kali ya… Orang banjar yang berprofesi sebagai pedagang juga sangat mengutamakan relasi, mereka akan berhubungan ramah dengan pembeli utamanya agar pembeli menjadi pelanggan. Jadi jangan heran setelah membayar sesuatu pembeli akan diberikan kartu nama yang berisi alamat toko, alamat rumah lengkap dan nomor telpon.

Well… hari ini selain banyak dapat barang rampokan dari bos besar.. (heee) lumayanlah, banyak ilmu yang dapat diingat…

19 September 2010 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: