Respect

Ada yang lebih penting dari cinta kata teman saya, hal itu adalah “respect”. Ungkapan yang menggambarkan kepercayaan, penghargaan atas amanah, atau penghormatan atas pikiran, sikap dan perlilaku sesorang.  Teman saya mengisahkan tentang hilangnya kepercayaannya kepada seorang teman yang tidak amanah dalam mengelola uang, dan bagaimana sebuah organisasi  tempat kami sama-sama belajar memanfaatkan situasi tertentu untuk kepentingan politik. “Hormatku kepada beliau benar-benar hilang, dan sudah sangat malas berkaitan dengannya”,  ucap teman saya ini.

Bos saya pernah bertanya, sampai kapan saya akan bertahan di sebuah pekerjaan yang kemudian saya jawab dengan diam. Namun, sesungguhnya hati saya berujar saat saya sudah tidak memiliki rasa hormat kepada siapapun dan apapun yang ada dipekerjaan saya. Saat saya mulai melihat banyak orang saling menjatuhkan, berbicara satu sama lain di belakang, saat di dalamnya hanya berisi sekumpulan orang yang bekerja bersama-sama tetapi bukan kerja sama, saat saya bahkan tidak menemukan nilai baik dan manfaat atas apa yang saya kerjaan. Akhir-akhir ini saya belajar banyak bahwa tentang respect ini, saya mengamini bahwa jika tidak ada rasa hormat kepada seseorang, bagaimanapun bagusnya seseorang bekerja, tetap akan terasa cacat dan terkesan licik! Di titik itulah, saya butuh hijrah!

Saya kemudian belajar untuk lebih mengargai yang tidak terlihat, mereka yang bekerja dalam diam, mengusahakan yang terbaik dalam proses, terus bekerja walaupun banyak stigma dan rasa tidak percaya, tuduhan tidak becus dan tidak mampu mencapai target pekerjaan. Saya belajar bahwa rasa hormat, dibangun  dengan silaturahmi, tidak menyakiti perasaan dan menjaga hubungan baik terhadap sesama terlepas begitu banyak perpedaan yang menyelimutinya.

* 4 Juni 2017

Ragam Rasa

Saya akhirnya menikah!, setelah sempat gagal karena perbedaan pendapat kedua orang tua. Ternyata perbedaan dapat diselesaikan dengan kesabaran dan komunikasi yang baik, itu pembelajaran terbesar dari ujian pernikahan kami. Saya akan membawanya ke desa beberapa hari, melihat bagaimana pekerjaan saya dan tinggal di kos-kosan ini sementara waktu.

Kosan 3 x 4 Meter itu, di sewa seharga Rp. 300 ribu perbulan, dengan keberkahan orang desa yang meminjamkan kompor gas, peralatan masak, dan tentu saja kasur ala kadarnya. Tapi, saya sangat bahagia, karena akhirnya bersamanya!”

***

Saya akan pulang, tidak peduli dengan pekerjaan karena istri saya sudah mengeluh perutnya sakit. Meskipun ini adalah anak ke empat kami, tapi tetap saja dia sendirian. Jauh-jauh saya kerja di Kalimantan adalah untuk keluarga di Jawa. Bisa jadi laki-laki, bisa jadi perempuan, bagi saya sama saja. walaupun ketiga kakaknya adalah perempuan.

Ia segera pulang, kata Si B pada rekannya. Jangan seperti saya yang akhirnya tidak bisa menemani istri di meja operasi. Berjuang sendirian dengan perasaan redam tak bisa memegang tangannya. Bagaimanapun, keluarga adalah segalanya!”

***

Saya hampir kehilangan dia di usianya yang baru dua tahun. Setelah lama meminum obat paru karena sakit, kemudian tak sadarkan diri karena DB, dokter mengatakan bahwa saya harus pasrah, hari ke delapan adalah titik kritisnya. Saya panggil Nama Yesus dan semua leluhur saya, berdoa di samping ranjangnya, dan pasrah yang terbaik untuk anak saya. Saya bilang kepada Tuhan, jika dikembalikan ke saya, saya akan menjaganya dengan sepenuh hati.  Ketika saya beranjak keluar, membuka gagang pintu rumah sakit, si kecil saya berkata “ Bapak….bapak….”, ada guncangan lega dikalbu saya,  anak saya kembali setelah tidurnya yang panjang, dan tugas saya kemudian adalah menjaga amanah ini sebaiknya-baiknya.

***

Saya benci rumah sakit!, mungkin karena banyak pesakitan di sana yang membuat saya sedih dan tidak tega. Mungkin saya juga harus belajar bahwa ada harapan dan tawa lega saat mereka dinyatakan sembuh. Ketakutan saya terhadap rumah sakit semakin menjadi saat saya melihat dan mendengar banyak praktik yang tidak sesuai yang menjadikan saya berfikir tidak logis tentang membenarkan tulang akibat jatuh ke tukang urut. Paling cuman keselo, dan bukankah selama ini tukang urut berkerja dengan baik, pikir saya!

Di ruang operasi, saya mendengar dokter bertanya tentang umur saya, menyuntikan sesuatu ke tangan saya, meletakan masker berisi oksigen dan entah zat apa lagi ke mulut saya. Mendadak lampu sangat terang menjadi gelap dan saya kemudian tersadar di ruang pemulihan. Yang saya ingat, saya kedingingan dan hanya ingin pulang, semewah apapun rumah sakit, saya tetap benci ada di sana. Meskipun demikian,  rumah sakit mengingatkan saya untuk bersyukur bahwa sehat adalah sesuatu yang mahal dan harus dijaga baik-baik!.

Dan bahwa, jika terjadi sesuatu dengan kita bukan pekerjaan yang akan kehilangan, tetapi keluarga dan orang-orang yang kita sayangi.

***

Korek dan rokok adalah barang terakhir yang diberikan kepada saya. Setelah perjalanan panjang kami menyusuri sungai dengan perahu menuju desa sangat terpencil. Lokasi tugas saya dengan orang yang saya anggap abang untuk membuat anak-anak di desa lebih baik lagi belajarnya. Dia pamit untuk pulang ke rumah, tak ada tanda bahkan permisi. Abang saya yang peduli ini, meninggalkan kami tiba-tiba, dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya. Menyisakan duka mendalam dan ketidakpercayaan. Diam, tawa, kebaikan dan kebijaksanaannya kini hanya tinggal cerita. Memberikan penegas kepada saya, bahwa maut bisa datang kapan saja

***

Hufh… Berbagai cerita hidup akhir-akhir ini.

May 2017

Menyeduh Makna

Salah satu bacaan  dipenghujung tahun ini adalah “Tuhan Dalam Secangkir Kopi” Karya Denny Siregar. Buku yang renyah tanpa menggurui, tetapi bagi saya, rangkaian kata dari buku ini membantu untuk melihat kembali beragam peristiwa dan memahami makna di baliknya.

“Kenapa belajar agama disebut mendalami? kenapa kita harus menyebutnya kedalaman beragama, bukan ketinggian beragama?” pertanyaan reflektif yang kembali menggugah sadar saya bahwa  belajar agama adalah sesuatu yang harus diresapi, bukan soal logika dan nalar yang harus selalu terjawab.  Mereka yang menyelami ilmu agama, tidak akan pernah merasa tinggi, semakin dalam ilmu agamanya semakin merendah dia dihadapan manusia lainnya, bukan semakin meninggi. Tulisan yang kemudian mengingatkan pencarian abadi saya akan makna hidup dan keberagamaan.

Bagian yang paling saya suka adalah tulisan Denny tentang arti perjalanan, merefleksikan tahun-tahun lampau dimana saya berusaha menemukan siapa sebenarnya Tuhan saya.

Mereka yang masih saja mengasumsikan bahwa berhala itu adalah patung-patung yang disembah, sungguh terlambat lahir. Dunia ini berhala, agama berhala, ekonomi adalah berhala. Anak-istri dan suami juga berhala. Bos diperusahaan itu bisa menjadi berhala. Bahkan ada yang memberhalakan dirinya sendiri.  Itulah kenapa Tuhan selalu menjatuhkan kita berkali-kali di dunia, hanya untuk “memberi tahu”, bahwa Akulah yang layak dicintai dan disembah.  Mereka yang mengagungkan Tuhan lebih dari semua unsur materi yang ada, tidak akan pernah kecewa terhadap dunia. Karena selalu bersyukur, mereka menjadi tenang. Dan begitulah Tuhan selalu menyapa mereka dengan kalimat- “Wahai Jiwa-jiwa yang tenang”. (Denny Siregar)

Saya kemudian bertanya kepada diri saya, apa yang membuat saya menjadi begitu gelisah akhir-akhir ini. Mengapa ada masa saya merasa begitu damai dan tenang, tetapi ada saat dimana saya mengutuk, mencaci, dan menyalahkan seolah alpa dari rasa syukur atas banyak nikmat. Akhir-akhir ini, saya juga begitu mengeluh tentang pekerjaan saya. Saya terus bertanya, mengapa ditempatkan di situasi dimana setiap orang menjadi saling berprasangka.

Hari ini saya menyadari bahwa Tuhan kadang mengajarkan kita lewat perantara, untuk memetik makna, dan memahami maksud dari sebuah peristiwa.  Jiwa yang tenang  adalah ketika saya memilikiNya di hati saya dan berusaha sempurna dihadapanNya. Sempurna di depanNya adalah saat kita menjadi rendah diri di depan Tuhan karena dosa-dosa yang pernah kita lakukan dan selalu bersyukur atas semua peristiwa yang diberikanNya kepada kita.

Kita ini ibarat cangkir. Tuhan ingin menuangkan kopi panas untuk kita. Tapi, Tuhan tahu, letak cangkir kita masih miring, sehingga ketika Tuhan menuangkan kopi panasnya, pasti kopi itu akan tumpah (Deny Siregar)

Saya kemudian ingat pertanyaan teman satu kantor saya beberapa hari yang lalu. “Dalam satu tahun, apakah kita bisa mencegah diri kita dari dosa?, jawabannya pasti tidak, tetapi dalam satu detik ke depan, apakah kita bisa mencegah diri kira dari dosa?, jawabannya adalah iya. Itulah sebabnya kita bisa hidup dari detik ke detik untuk menjaga diri dan terus berbuat baik”.

Jika makan, minum, kerja, sholat, silaturahmi, dan segala aktivitasmu adalah bagian dari ibadahmu.  Maka melakukan yang terbaik, sekali lagi bukan soal menjadi sempurna di depan manusia, tetapi merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhanmu.

***

 Well, bukankah kopi terlalu manis tidak enak dirasa, bubuk kopi yang terlalu pahit dan asam juga tidak sehat di lambung.

Mempertegas Kasta

“Mengapa orang harus mempertegas kasta? tidak bisakah kita membuat manusia setara?!”

Suatu malam di pertengahan bulan November, saya dan beberapa teman pergi ke sebuah pernikahan mewah di Hotel Darmawangsa. Menurut Google, untuk menikah di sana diperlukan uang paling tidak setengah miliyar.  Harga wajar untuk teman saya ini, master lulusan luar negeri, bekerja di perusahaan minyak international, dan anak seorang petinggi partai besar negeri ini.

Undangan yang hadir termasuk saya tentu saja sangat menikmati suguhan makanan yang super enak dan mewah. Dimulai dari daging beraneka masakan, bebek panggang, udang, sate, sushi, salad, hingga beragam kue, es krim, dan buah sebagai makanan penutup. Juga disediakan mini bar kecil untuk tamu undangan yang ingin memesan minuman beralkohol. Di sisi lain pelaminan, tersedia band yang bergenre clasic-jazz sebagai pengiring tamu untuk menikmati hidangan. Sang penganten,  menggunakan baju kebaya merah dengan model terusan-semi tradisional yang dipadukan dengan batik untuk bawahannya. Terkesan sederhana, tetapi saya yakin payet di kebaya teman saya ini di buat dengan detail dan dengan biaya yang tidak sedikit.  Ditambah lagi, kami sebagai tamu undangan, juga dimanjakan dengan video mempelai dari mereka kecil, hingga proses akad pernihakan. Sejenak, menonton video ini menyajikan bahwa kehidupan mereka benar-benar beruntung.

Tetapi di salah satu sudut ruangan, saya melihat seorang perempuan berpakaian babysitter sedang menjaga anak kecil. Sangat mencolok di tengah ratusan para undangan yang menggunakan setelan baju terbaik, dan riasan wajah yang membuat seseorang menjadi lebih lebih cantik. Perempuan ini memberi makan kepada si kecil di saat sang majikan menikmati hidangan atau mungkin belanja sosial dengan undangan lainnya.

Pemandangan ini membuat saya berefleksi,  tidak bisakah sang majikan memintanya berpakaian keseharian saja, yang membuatnya menjadi sama dengan para undangan lainnya, yang membuat saya tidak mencirikan sang perempuan sebagai orang bayaran sang majikan.  Apakah tidak bisa, perempuan yang sudah menjaga anak majikan ini juga sama-sama menikmati makanan yang super mewah ini, tanpa harus melihat tatapan manusia lain bahwa dia berbeda.

Entah apa yang difikirkan sang majikan. Mungkin ingin mempertegas kasta, memperjelas bahwa manusia itu setara dinilai dari harta. Pemandangan yang membuat saya berjanji, tidak akan memperlakukan orang lain seperti itu.

 ***

Lagi, saya berfikir dalam atas apa yang saya lihat belakangan. Ini adalah tentang Bos yang saya hormati, ketika dalam sebuah acara yang melibatkan pemerintahan diminta membawakan tas kecil bermerk mahal kepunyaan sang eselon satu.

“seberat apa tas itu, sampai harus ada orang yang membawakannya, yang saya lihat itu hanya tas kecil yang bisa diselempangkan di bahu”.

Sepanjang acara, otak saya tidak pernah berhenti untuk bertanya. Mengamati bos saya berdiri, berjalan, dan mengikuti kemanapun sang eselon pergi. Bos saya tampaknya begitu amanah, sampai tak satu detikpun dia letakan tas tersebut dari genggaman tangannya.

Hari itu saya sedih, pertama karena sang eselon adalah orang yang saya anggap berbeda dengan pejabat tinggi negara lainnya, yang kedua karena orang yang membawa tas tersebut adalah bos yang saya hormati.

Bos saya kemudian berkata “menjadi aspri seperti hari ini, membuat saya sadar bahwa saya tidak akan punya aspri untuk membawakan tas seperti itu”.

Ya… sekali lagi saya kembali belajar.

Jeda

Hei…. Sudah lama saya tidak menulis di blog ini,

Dari celotehan tidak penting, sampai teramat tidak penting, dan sepertinya saya merindukan hanya sekenanya menulis, lalu menjadi diri sendiri dalam tulisan saya.

 Menulis tidak beraturan, tanpa peduli ejaan benar dan salah atau tanpa harus berfikir apakah orang lain mengerti maksud tulisan saya.  Saya hanya ingin menulis untuk merefleksikan, atau sekadar mengeluarkan uneg-uneg kusut yang bisa jadi tambah kusut.

 Ya… saya lupa entah sejak kapan, menulis adalah cara katarsis dalam hidup saya!, walaupun akhir-akhir ini menulis rupanya menjadi beban pekerjaan yang membuat frustasi  hidup saya!

And than temen sekantor saya bilang “ make some distance”

Yup, bisa jadi demikian.  “ Waktu jeda, untuk melihat lebih jauh atas apa sudah kita lakukan” kata teman saya kemudian.

Mungkin bisa jadi jeda sejenak dari banyak kekhawatiran-kekhawatiran saya. Tidak hanya soal pekerjaan, tetapi mungkin banyak hal dari hidup saya belakangan. Jeda, untuk menarik nafas lebih panjang, diam sejenak, kemudian memuai berjalan kembali.

 Yah…ternyata saya hanya ingin sekadar jeda….

***

Cerita Baik Dari Kampung Sempekolan

WP_20160227_002

Guru dan masyarakat sudah bisa berdiskusi dengan cair (27 Februari 2016)

Teman satu tim saya berkata “mungkin SDN 20 yang nantinya paling sustain”, menanggapi inisiasi pihak sekolah membentuk koperasi bersama orang tua murid. Saya lalu mencoba mengingat kembali bagaimana orang tua murid dan guru di sekolah berproses untuk sama-sama saling belajar satu sama lainnya. 14 Februari 2015, adalah pertama kali mereka bertemu bersama untuk saling berdiskusi masalah pendidikan anak-anak mereka. Kampung kecil yang tidak pernah memperkenalkan urun rembuk untuk kepentingan anak. Saling menyalahkan, saling menuntut, dan merasa masing-masing pihak yang paling benar.  “ Sulit bu…orang tua di sini, sulit untuk peduli”, begitulah rupa-rupa ucapan yang sering saya dengar dari guru-guru. “ Guru-guru di sini susah berubah bu, mending diganti saja, banyak yang mau jadi PNS”, ucapan yang selalu saya dengar ketika ke kampung.

Saya selalu khawatir dengan sekolah ini, karena ada anak yang jalan lebih dari tujuh kilo meter untuk sampai ke sekolah.  Hutan mereka sebentar lagi habis, alam sudah tidak bisa menopang penghidupan sehari-hari, dan pendidikanlah yang bisa membuat hidup anak-anak ini lebih baik. Saya selalu bertanya, diantara keterbatasan pendidikan orang tua murid, apakah komunikasi sekolah dan orang tua selepas program KIAT Guru selesai akan terus berjalan?, Di satu tahun perjalanan saya dengan mereka, saya memahami bahwa ketika sekolah terus terbuka untuk menerima keterbatasan orang tua, sulitnya anak untuk menempuh pendidikan, menjadi contoh bagi mereka. saya percaya, bahwa anak-anak di kampung ini akan baik-baik saja.

Pelan-pelan saya mendengar berita baik dari kampung ini. Dimulai dari guru yang hadir tepat waktu, upacara bendera yang mulai rutin, dan pramuka yang mulai berjalan. “ tapi bu, orang tua di sini memang sulit, sapi masih saja ditambat, padahal sudah berapa kali kita pertemuan” “ Pak Andre harus merangkul orang tua ya pak, pelan-pelan saja”, ucap saya kepada Pak Andre. “ kata orang bu, jika daerah terpencil begini, bukan hanya murid yang diajari, tetapi juga orang tuanya”, tutur saya kepada Bu Rahayu

 Di Tanggal 27 Februari 2016 Pak Andre berucap “ jadi bapak dan ibu, kalau kita bikin koperasi, selain tujuannya untuk menjalin silaturahmi, juga bisa menjadi tabungan untuk anak-anak kita nanti, biar nanti bapak ibu kalau sudah mau lulus SD anaknya, tidak pusing lagi cari uangnya ya”. Orang tua yang mendengarkannya tampak sangat antusias dengan wacana sekolah ini. “ kami misalnya ada uang, seminggu sekali boleh nabung pak Guru”, “ kalau  anak kami lulus, kami tetap boleh menabung”, “ kalau misalnya meminjam boleh”, banyak pertanyaan dari orang tua tentang ide koperasi bersama ini. “Azaznya adalah kepercayaan” ucap bu Rahayu.  “ Pak Guru, bagaimana kalau kita ketika kelas enam lulus, kita adakan pesta, biar kumpul-kumpul” Ucap orang tua Mego. Pak Pandu  namanya, berjalan dari dalam hutan untuk ikut pertemuan. Masih dengan celana pendek dan sandal jepitnya. Saya mencintai kepolosan dan kepedulian Pak Pandu terhadap anaknya. “ Saya kasih Mego setiap bulan untuk uang jajan itu lebih dari 50 ribu, jadi tidak apa-apa kalau saya tabungkan buat dia”, Kata Pak Pandu antusias.

“ Saya tadi berjalan ke rumah beberapa orang tua bu…mereka antusias dengan koperasi ini, banyak yang bertanya”, ucap pak Andre saat menelpon saya. “ Pelan-pelan saja pak”, sahut saya kemudian. Satu tahun lebih sejak pertemuan untuk yang pertama itu, mereka sudah berproses untuk sama-sama saling menghargai. Mungkin masih banyak kerikil yang bisa merusak kerja sama yang mulai terbangun, namun saya percaya, ketika kepedulian kepada anak menjadi pemersatu, semoga selalu ada cerita baik di kampung ini.

Terimakasih telah mengajarkan saya luar biasa banyak satu tahun belakangan. Pada akhirnya saya lega, ada hal baik yang terus bisa kita usahakan.

Mengepak dan Beranjak

Bulan ini saya menyelesaikan empat pertemuan perubahan kesepakatan pelayanan, tiga diantaranya disertai dengan pertemuan rutin bulanan. Satu lainnya dilakukan terpisah dan dihadiri lebih dari lima puluh orang.  Oh iya, ditambah pertemuan UPPK, dan memastikan dana desa tersedia untuk oprasional komite pengguna layanan. Hari ini saya lega, mencapai target yang saya buat, dan tetap berproses bersama mereka. Lalu, pada titik ini, saya hanya ingin mengepak dan beranjak. Bahwa, di Ketapang, saya merasa sudah selesai. Saya hanya ingin pergi dan menghirup udara berbeda. Itu saja!

Tentu saja saya belajar banyak di Ketapang bersama masyarakat, saya berjibaku dengan konflik antara guru dan masyarakat, dan jatuh bangun mengumpulkan koin sosial diantara keterbatasan saya senang berinteraksi dengan orang lain. Saya belajar tidak gugup berbicara di depan banyak orang, berani memperjuangkan apa yang saya anggap benar, dan saya dengan kesederhaan orang-orang di desa, menjadi banyak lebih bersyukur di dalam hidup. Menyenangkan rasanya bisa mendapatkan pemahaman akar rumput  dan memperkaya diri tentang bagaimana seharusnya pendidikan dibangun. Yah, di Ketapang, saya tidak hanya hadir untuk bekerja, tetapi juga belajar begitu banyak.

Satu tahun lebih lima bulan, rasanya cukup untuk saya. Apakah bersama masyarakat kemudian menjadi melelahkan untuk saya? mungkin saja, atau mungkin saya merasa lega, di luar banyak kekurangan dan tantangan selama berproses setahun ini, paling tidak sudah ada mereka yang belajar lebih peduli kepada pendidikan anak-anaknya. Selain itu, mungkin sudah diluar kendali saya.   Sekali lagi, saya hanya ingin segera mengepak dan beranjak.

Belajar dari Mba Ati!

WP_20160130_001[1].jpg

Mbak Ati memimpin pertemuan Amandemen Kesepakatan Pelayanan di SDN 26

Seperti biasa, hari ini Mbak Ati (kader SDN 26) dapat memfasilitasi dengan sangat bagus antara pihak sekolah dan orang tua. Mbak Ati yang bermetamorfosis menjadi seseorang yang pemberani dan percaya diri membicarakan isu-isu pendidikan. Siapa yang menyangka, kader andalan saya ini hanya lulusan sekolah dasar, tidak lebih dari itu. Namun semangat belajar, dan kerelawanan Mbak Ati sangat luar biasa. Teman saya bertanya kepada Mbak Ati tentang apa yang membuatnya bisa memfasilitasi pertemuan dengan begitu bagus, Mbak Ati kemudian menjawab “ berani, dan anggap mereka semua kawan, jadi tidak usah minder mah”. Angguk-angguk saya mendengarkan, sekaligus salut yang tidak henti.

Beberapa bulan lalu, saat Mbak Ati diundang ke Jakarta untuk presentasi di depan kementrian, sejajar dengan dirjen, dinas pendidikan, dan ratusan penonton, Mbak Ati dengan lancar menjelaskan bagaimana keberlanjutan KIAT Guru di desanya. “ Kader desalah yang akan melanjutkan apa yang sudah dilakukan fascam” Ucap Mbak Ati. Pernah juga sekali waktu Mbak Ati berkata “ Mbak Yant  ini, seperti angin yang dibawa ke desa kami, suatu saat juga akan dibawa oleh angin, oleh karena itu harus ada yang melanjutkan, dan kader desa adalah salah satunya”

“ Mbak Ati siapkan presentasi, di depan banyak orang” ucap saya. Power pointnya baru jadi malam sebelum presentasi, dan kami baru membahasnya keesokan harinya, tetapi mbak Ati membuktikan dia adalah pembelajar yang sangat cepat dan mudah menguasai keadaan.

Hari ini saya melihat proses yang begitu cair antara guru dan orang tua murid, bahwa berkumpul bersama dan membicarakan masalah anak dengan langkah kongkrit yang harus dilakukan itu sangat mungkin. Bahwa orang tua dari daerah terpencil, dan guru yang umumnya sangat dihargai, bisa duduk sejajar kemudian saling memberikan masukan. Bukan tuntutan, tetapi kerja sama untuk saling memajukan. Permberdayaan adalah ketika orang-orang yang ada dikomunitas itu sadar atas apa yang mereka inginkan dan melakukan perubahan, dimulai dari penggerak-penggerak yang tulus untuk selalu berbuat, dan Mbak Ati… adalah salah satu orang terbaik yang melakukannya.

Gagan, Anjan, Petebang, dan Saya!

WP_20160126_005[1].jpg

Gagan dan Anjan dengan mata dan senyumnya yang indah

Gagan dan Anjan adalah beberapa hal hari ini yang membuat saya tersenyum dengan lapang. Di sela banyak hal yang membuat saya marah dan geram, menjadikan uring-uringan seharian, dan malas melakukan sesuatu. Saya bersyukur hari ini pergi ke Desa Petebang, walau sebentar paling tidak saya bisa menemukan banyak alasan kebahagiaan di sana.

Gagan dan Anjan, tiba-tiba langsung ada di sisi meja tempat saya saya duduk di kantor guru. Mereka tersenyum manja, dan berkata “ ibu…….”, reflek saya mengambil handphone dan memfoto mereka berdua. Gagan dan Anjan, mengingatkan saya betapa senangnya saya bermain dan menghabiskan waktu bersama anak-anak Petebang. Butuh waktu hampir satu tahun untuk saya menjinakan hati Anjan, yang suka cemberut dan marah-marah, sedangkan Gagan, cukup beberapa jam pertemuan, dia bermanja ria dengan saya. Saya senang dipeluk dan disambut hangat oleh mereka.

Masih dengan kemarahan saya, selepas magrib tadi, saya berfikir apa yang bisa meredakannya. Apa yang bisa membuat hati saya lega selain saya menuliskan alasan kenapa marah di selembar kertas kemudian membuangnya. Ternyata jawabannya adalah dengan mengingat kunjungan singkat saya ke desa Petebang tadi siang.

Saya kemudian ingat Pak Liang yang tidak sengaja bertemu di jalan, menyapanya saat mengambil kayu bakar. Pak Liang tampak sehat kali ini dan bercerita istri dan Winan anaknya sudah kembali ke rumah. Lega dan bahagia…. Itulah yang saya rasakan untuk keluarga ini. Keluarga yang dulu pernah menjadi tempat tinggal saya saat melakukan fasilitasi. Walaupun dengan lika-liku masalah yang kami lewati, saya berterimakasih kepada  Pak Liang karena melupakan perbedaan, dan menerima saya dengan pelayanan tamu yang luar biasa. Tanpa jasa awal Pak Liang, mungkin kegiatan saya di desa, tidak akan berjalan lancar seperti sekarang.

Saya masuk ke ruang guru dengan hati yang ringan, berbeda sekali dengan beberapa bulan lalu. Semua guru menyambut saya dengan hati yang tulus. Paling tidak itulah perasaan saya sekarang. Tidak ada perasaan curiga seperti dulu, dan kami bisa tertawa bersama. Menertawakan Pak Tri yang tidak sadar tunjangannya dipotong, menceritakan jalan yang sudah semakin parah, menyaksikan Pak Kadek yang dekat dengan semua guru, atau bercerita santai dengan bu Murni tentang benang rajutan yang saya belikan di Jakarta. Saya bahagia mengambil nafas lega untuk satu tahun di Petebang. Satu tahun penuh konflik yang kemudian memulai babak baru bertema kerja sama. Saya sekarang bisa berkata, senang tidak meninggalkan mereka dulu dan memilih karir yang lebih baik.

Terakhir kunjungan saya adalah bertemu dengan Pak Wanto, kader desa SDN Petebang. Mendengarkannya bercerita jatuh dari motor, soal calon bupati pilihannya yang kalah, atau ketidaktahuan saya bahwa saat rapat di Ketapang, beberapa kepala desa menghabiskan waktu dengan minum-minum. Saya hanya tersenyum menggelengkan kepala. Cerita Pak Wanto kemudian berlanjut dengan cerita kepala desa sudah siap memberikan dana talangannya. Bahwa saya tidak perlu khawatir, pertemuan bulanan penilaian dan diskusi kesepakatan pelayanan pendidikan dapat dilakukan secara mandiri. Huhhh…. Apakah saya benar-benar lega?, saya tidak bisa mendefinisikan dengan pasti. Hanya saja, di titik ini, hal inilah upaya terbaik yang bisa saya lakukan. Bagaimana mereka kelak, saya percaya ketika sama-sama punya kepentingan baik untuk anak-anak, pasti akan selalu mudah untuk berjalan beriringan.

WP_20160126_004[1].jpg

Dan membayangkan alam Petebang yang sejuk, membuat malam saya lebih baik. Bahwa seburuk apapun jalan munuju Petebang, saya selalu bisa mengambil nafas panjang dan bersyukur kepada Tuhan karena memberikan udara, langit, dan alam seindah itu. Mengingatkan saya kembali malam ini, selepas hujan yang deras, biasanya akan muncul pelangi untuk dinikmati. Lalu masalah dan rasa marah, bukankah akan berlalu ketika dekat masa kadaluarsanya.

Benar… menulis, membuat perasaan lebih lega 🙂

Rindu Mereka !

IMG-20160122-WA0004[1].jpgAra, pengajar muda yang sekarang di desa Moilong, mengirimkan foto anak-anak di group Wa. Tampak Foto Aliana yang sudah semakin besar dan tinggi. Bocah ini sekarang menggunakan kerundung.  Cantik sekali rasanya. Di samping Alia, ada si kalem Suci dan si Cerdas Hasna. Dulu, ketika saya menjadi guru mereka, hampir setiap hari saya menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain. Dengan setia, Alia, Hasna, Suci, dan puluhan anak lain akan pergi ke sekolah, rebutan bermain di perpustakaan, atau kalau bosan kami pergi ke sawah atau pantai. Ah desa saya Moilong menyajikan semuanya. Anak-anak, kebaikan orang desa, dan keindahan sekaligus. Malam ini saya begitu rindu dengan mereka. Begitu rindu dengan panggilan “ Enci..Enci”, dan begitu rindu menghabiskan senja saya berjalan ke masjid dan mendampingi mereka mereka mengaji.

Ibu Fadel menelpon saya dan mengatakan nenek Aji begitu rindu dengan saya, sudah tertebak alurnya kemudian, nenek akan selalu menangis mendengar suara saya. “ Bagaimana kabar kamu nak, kasian kamu nak, rindu saya sama kamu nak”, Ah…nenek…. Betapa saya juga sangat merindukan kampung kedua saya, kampung di mana salah satu masa terbaik dari hidup saya.

Saya rindu Moilong, walaupun sudah lebih dua tahun meninggalkannya. Saya begitu rindu untuk dipanggil Enci kembali oleh kalian nak.

Tunggu Enci ya

Previous Older Entries

%d blogger menyukai ini: