Menunaikan Kewajiban

Kearifan paling purba adalah menunaikan kewajiban (Amba, Lakmi P)

Entah bagaimana, kalimat ini selalu terucap di dalam hati ketika saya mengambil nafas lebih panjang.

Kadang saya merasa seperti robot, yang bergerak kesatu poros yakni menunaikan kewajiban. Kewajiban sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada orang tua, sebagai seorang buruh yang harus bekerja sebaik-baiknya, sebagai seorang teman/ sahabat yang lebih peduli, sebagai manusia yang harus bermanfaat, dan kewajiban sebagai seorang hamba yang memiliki Tuhan.

Lalu, kemudian saya mulai bertanya, apakah semata-mata menunaikan kewajiban membuat saya mulai mati rasa, dan menjadi tidak jujur dengan diri sendiri. Entah bagaimana, di titik ini, saya menjadi begitu lelah.

Mungkin saya harus mencerna baik-baik bahwa “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkah telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berhadap (Al-Insyirah 6-8).

Mungkin saya harus belajar kembali untuk memperbaiki niat dan  menyerahkan kembali kepadaNya. Bahwa mungkin akan banyak hal indah pada ujungnya nanti.

Semoga saja.

Jakarta, 1 April 2017

“ dengan list kewajiban baru….”

 

Iklan

Mengepak, Sedikit Berjarak!!

“Ada kalanya kita perlu pergi sendiri, berkelana entah kemana lalu sekadar menikmati”

“Mohon restunya bos” tulis saya di email yang menjelaskan bahwa saya akan off dari kerjaan. Jedanya dipertengahan Januari banget ni, kata temen saya yang lainnya. Mungkin saat orang lain memulai menjalankan resulosinya, okay…saya baru mau bikin. 

Mungkin jalan-jalan sekalian bikin resolusi kali ya. Walaupun saya sadar bahwa biasanya 50 persennya tidak dijalankan.

Emm… Kenapa jalan-jalannya sekarang?. Pertama, diakhir tahun saya tetep kerja nulis panduan dengan sederet protes dari ayah saya. Kedua, di awal Januari sudah ada pelatihan tim daerah yang bikin riweh. Ketiga, nunggu bulan Juni?? Lha..kontrak saya keburu abis dong.. dan rekor saya belum ngambil cuti satu setengah tahun terakhir, ha… Ditambah sering ke daerah yang memakai waktu week end saya.

Emang gak ada waktu yang tepat, ya ditepat-tepatin aja.

Buat saya perjalanan itu ibarat mengumpulkan kepingan-kepingan cerita lalu menarik garis makna, mencoba sedikit berjarak dari realita lalu kembali dengan ceria. 

Whuaaa… Penutupnya alay si!

(Kereta Argo Dwipangga, 17 Jan 2018)

Apa petuah berlaku di dunia nyata?

Ada petuah bijak bilang bahwa padi semakin berisi adalah semakin merunduk.

 

Akhir-akhir ini saya bertanya apakah benar filosofi padi ini bisa berlaku kepada manusia. Mengapa saya melihat yang sebaliknya?.

Bukannya wajar ketika orang dengan banyak pengalaman menjadi nyinyir dengan kelemahan orang lain.

Bukannya biasa orang dengan banyak gelar menganggap orang lain bodoh dan tidak semampu dirinya.

Bukankah tidak aneh dengan hirarki kekuasaan membuat orang menjadi keras kepala dan tidak mendengarkan pendapat lingkungannya.

Bukannya kata tua itu identik dengan menggurui yang muda. Bahwa ada pasal yang usianya lebih tua tidak pernah salah. Pun jika salah, kembali ke prinsip pertama.

Bukannya mungkin setara itu hampir tidak ada. 

Bahwa benar, semua orang konsisten memiliki kepentingan pribadi namun selalu gamang dengan kepentingan bersama.

Dan naif memang berfikir demikian.

28 Nov

Andi dan Perasaan yang Sama

Sekitar lima tahun lalu, saat saya  menjadi guru ada anak bernama Andi. Sudah dua tahun dia tidak naik kelas, sudah tidak punya orang tua dan hanya tinggal bersama kakek dan neneknya yang setiap sore pergi mencari ikan ke laut. Saat mereka pulang, Andi sudah tertidur lelap, entah sendiri di rumah atau di rumah tetangganya.

“Andi mau belajar membaca sama Enci?”  tanyaku suatu sore.

Iyek Enci” Jawab Andi dengan tawa, semangat dan mata yang berbinar.

Benar saja kata wali kelasnya, orang yang mengajar Andi akan kewalahan, karena Andi dengan cepat melupakan huruf yang diajarkan kepadanya. Saya mencoba berbagai cara untuk membuat Andi lebih mengenal huruf. Mengajarkan dengan bernyannyi, menulis berulang, main tebakan, hingga membuatkan kalung kartu yang dipakai Andi sepanjang hari di sekolah. Kartu tersebut akan ditukar kepada saya setelah dia ingat huruf  sebelumnya.

Sulit, kadang membuat sangat frustasi.

Tapi Andi tidak demikian.  Meskipun pelajaran yang selalu berulang, ekpresi saya yang hampir marah, atau ejekan teman-temannya,  Andi selalu datang dengan mata berbinarnya, lalu berteriak “Enci, ayo belajar”.

Pernah suatu pagi di hari minggu, Andi datang ke rumah dan membuat saya kaget.

“ Enci, ayok belajar”, teriak Andi

“ Andi, bukankah kita janjian jam 2 buat belajar”, kata saya.

“ Iya Enci, ini jam 2” jawab Andi

Saya baru tahu kemudian, kalau Andi tidak hanya kesulitan untuk membaca, tetapi mengenal angka. Andi menjadi penyemangat saya untuk menjadi guru yang lebih baik lagi.

Sayang, pendampingan saya terhadap Andi menjadi berkurang, karena saya harus sering ke kota untuk mengurus acara kabupaten ataupun masalah di tim. Saya semakin susah menghabiskan waktu belajar dengan Andi, apalagi menjelang kenaikan kelas.

Andi menampar saya. Saat wali kelasnya mengatakan tidak ada kemajuan dalam membaca, menulis dan berhitung sehingga Andi tidak akan naik kelas.

Saya menangis, sedih, bersalah, mengutuki diri sendiri, merasa gagal dan sebagai guru harusnya bisa melakukan hal lebih baik untuk Andi saat itu.  Bahkan sampai ditarik dari penugasan, saya tidak bisa berbuat banyak untuk Andi.

Perasaan itu sama, dan begitu rupa menyelimuti.

Ya…Hari ini perasaan itu sangat sama, terhadap pekerjaan saya sekarang. Di titik yang membuat saya berfikir keras, harus bagaimanakah kemudian???

22 Nov 2017

 

Refleksi: Kenangan dan Renungan

Sisi lain dari musik festival.

Saya menyumpah kenapa makanan saya harus disita hanya untuk melihat festival musik. “ pasti karena kita disuruh beli makanan di dalam”, tentu saja ini valid, karena begitu banyak food truks di arena festival.  

Beberapa jam kemudian saya langsung menarik sumpahan saya. Saat melihat seorang bapak, tua, berseragam hijau, sapu di tangan kanan, dan tempat sampah di tangan kiri. Bapak itu juga berada di tengah lapangan,  masuk dalam kerumunan anak muda yang hanyut dengan konser musik sang idola. Tujuan bapak bukan ikut berjoget, tetapi menuntaskan tugasnya untuk mencari sampah-sampah berserakan yang dibuang sembarangan.   Saya menjadi bersyukur, paling tidak larangan membawa makanan dari luar, mungkin sedikit mengurangi beban sampah yang harus dibersihkan oleh orang-orang seperti bapak ini.

Serupa tapi tidak sama dengan sang bapak.

Seandainya wanita itu tidak menggunakan make up tebalpun, wanita itu terlihat sangat cantik. Rambutnya panjang lurus, tubuhnya ramping, apalagi dengan balutan baju putih ketat dan sepatu berhak tinggi.  Dia pasti lelah pikir saya. Tanpa suara, hanya menyorokan kotak rokok kepada banyak laki-laki untuk dibeli.  Rokok dan sales perempuan sepertinya adalah stategi jitu penjualan perusahaan. Saya jadi penasan, para laki-laki itu, membeli rokok apa karena candu dengan tembakau atau justru rancu dengan sang penjualnya. Saya tidak bisa menjawabnya.

Ragam lain di sudut yang berbeda

Saya beranjak menuju mushola di lokasi festival. Dengan santai saya berjalan di antara beraneka booth yang meramaikan festival. Ada kaos, marchendise, makanan, sampai pameran tentang persiapan Asean Paralimpic Game dimana mereka yang difabel yang menjaganya.

Waktu magrib masih lama, saya tidak perlu tergesa batin saya.

Dalam acara festival dengan banyak pecinta musik dan penikmat kesenangan  dengan segala rupa di luar konsep normal manusia, pasti mushola bukan tempat yang ramai pikir saja.  Lalu saya sungguh terkejut, bahkan hanya untuk wudhu, saya harus anti lebih dari 30 menit. Ada 8 keran air untuk laki-laki dan perempuan, dan semuanya antri panjang dan meliuk-liuk. Belum lagi antri untuk sholat “duh… wudhu antri, sekarang saya juga harus menunggu ada mukena yang nanggur” kata seorang perempuan.

Ternyata saya salah,  Tuhan dan ritualnya selalu punya tempat. Entah karena ingin kembali, atau sekadar menuntaskan kewajiban. Hal yang sama saya pertanyakan untuk diri sendiri.

Waktu kemudian berlanjut untuk bergembira kembali.

Apa yang ada di dalam fikiran orang-orang ini saat mendengarkan lagu-lagu melow sudah berumur 10 tahun lebih. Mereka bernyanyi, saling merangkul, bergoyang santai, sambil melambaikan tangan ke atas. Sang penyanyi, lebih banyak menyorkan mikrofon ke penoton karena merasakan aura bahwa penonton inging bernostalgia dengan lagu. Bagi saya sendiri, beberapa lagu yang dinyanyikan adalah penanda dari banyak kehidupan saya.  Saat remaja dan pertama kali jatuh cinta, saat musik dan band adalah tanda bahwa kita keren, saat pertemanan dan mimpi mulai dirajut, saat harus mengepak dari satu kota ke kota lainnya, atau masa-masa gagal kemudian beranjak untuk segera bangkit. Bagi saya, lagu itu sama layaknya buku, selalu menjadi teman setia pengantar banyak kehidupan.

***

Kearifan paling purba adalah menunaikan kewajiban (Amba, Laksmi P)

Kenangan, kadang tidak hanya sekadar merefleksikan apa yang kita lakukan dimasa lampau, tetapi menyesali apa yang tidak kita lakukan di masa lampau.

Jakarta, 10 Oktober 2017.

Rangga dan Pengingat

“Saya ingin jadi tentara Enci, masih sama seperti dulu” Ucap Rangga di pantai saat aku kembali lagi ke Desa Moilong.

Selalu ada yang sama dari Rangga, anakku yang sekarang duduk di kelas 1 SMP. Tidak banyak cakap dan lebih sering mengamati sekitarnya.

Saat aku mengingalkan Moilong dulu, Rangga masih kelas tiga SD, setiap sore ia akan pergi ke sekolah entah membaca atau hanya sekadar bermain. Rangga dan adiknya Sindi adalah orang yang selalu konsisten menenaniku pergi sembahyang dan mengaji di mesjid.  

Dulu, Rangga memberikan kado paling bermakna untukku sebagai tanda perpisahan.  Sebuah Al-Quran tua, bertuliskan namanya dan dibungkus dengan kertas koran.  Perasaanku selalu damai jika menyentuh hadiah ini, membayangkan Rangga kecil dengan ketulusannya memberikan yang dia punya untuk Encinya yang beranjak pergi.

Rangga belum berubah, di usianya yang beranjak remaja, mesjid adalah salah satu tempat persinggahan kesehariannya dan mengaji masih menjadi kebiasannya.  

Rangga adalah  pengingatku untuk memberikan yang terbaik dikondisi seturpuruk apapun. Saat Rangga duduk di kelas enam dan sedang ada ulangan, ibunya meninggal karena sakit. Rangga menyelesaikan ujiannya sampai selesai,  baru meminta izin untuk meninggalkan sekolah. Tidak banyak yang tau bahwa Rangga sebenarnya menangis saat  berlari pulang.

Rangga adalah simbol akan semangat dan kebermaknaan untukku.  Akan kuambil nafas panjang, kutatap fotonya di meja kantorku, dan kuingat lekat semua tentang Rangga saat aku lelah dengan pekerjaan, bertanya banyak hal tentang hidup, mencari rupa tentang Tuhan atau sekadar bernostalgia betapa bahagianya saat aku menjadi seorang Enci .

Malam ini, Rangga mengingatkanku kembali untuk lebih bersyukur, dan menampar dengan keras bahwa ada makna mengapa seseorang dilahirkan di dunia ini. Bahwa mungkin untuk memberikan kebermanfaatan untuk manusia lainnya.

Rangga, terimakasih untuk terus menjadi pengingat Enci.

 

 

Mengulang Tahun dan Belajar

Hari lahir saya adalah hari dimana saya resmi untuk menjadi bagian tim KIAT Guru. “Berarti kamu merayakan kali keempat ulang tahun bersama KIAT Guru” kata teman kantor saya. Benar demikian, tahun pertama saat saya induksi dan tanda tangan kontrak untuk dikirim ke Ketapang, tahun kedua saat pelatihan Kader dan KPL (dengan asap dimana-mana karena kebakaran hutan), tahun ketiga saat saya pusing-pusingnya ngurusin rekrutmen tim daerah, dan tahun keempat di sela rapat seharian, bos dan teman-teman kantor datang ke meja membawakan cake besar rasa es campur ke meja saya.

Rupanya sudah tiga tahun saya bekerja di tim ini, dengan segala dinamika dan tantangannya. Satu hari sebelumnya,  kami semua merayakan  perpisahakan Mbk Upi,  personil paling awal di KIAT Guru, dan semua orang benar-benar merasa kehilangan. Saat Mbk Upi mengucapkan kata-kata perpisahannya. Saat itu saya berpikir ” apakah saya yang akan mengucapkan kata perpisahan atau saya akan menuntaskan sampai akhir?”. Sesuatu yang belum bisa saya jawab beberapa bulan belakangan.

Apakah semakin bertambah usia seseorang, akan menjadi semakin keras kepala? semakin tidak mau mendengarkan orang lain, selalu membenarkan apa yang dilakukannya, dan cenderung berpihak atas yang menguntungkan pribadinya? Model rupa yang sering saya temui akhir-akhir ini.

Lalu dengan bertambahnya usia, apakah saya akan menjadi seperti itu?!. Mungkin pada akhirnya, saya tidak hanya belajar menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tetapi juga belajar  mendengar, memahami, dan bertindak dengan benar.

 

 

 

 

 

Respect

Ada yang lebih penting dari cinta kata teman saya, hal itu adalah “respect”. Ungkapan yang menggambarkan kepercayaan, penghargaan atas amanah, atau penghormatan atas pikiran, sikap dan perlilaku sesorang.  Teman saya mengisahkan tentang hilangnya kepercayaannya kepada seorang teman yang tidak amanah dalam mengelola uang, dan bagaimana sebuah organisasi  tempat kami sama-sama belajar memanfaatkan situasi tertentu untuk kepentingan politik. “Hormatku kepada beliau benar-benar hilang, dan sudah sangat malas berkaitan dengannya”,  ucap teman saya ini.

Bos saya pernah bertanya, sampai kapan saya akan bertahan di sebuah pekerjaan yang kemudian saya jawab dengan diam. Namun, sesungguhnya hati saya berujar saat saya sudah tidak memiliki rasa hormat kepada siapapun dan apapun yang ada dipekerjaan saya. Saat saya mulai melihat banyak orang saling menjatuhkan, berbicara satu sama lain di belakang, saat di dalamnya hanya berisi sekumpulan orang yang bekerja bersama-sama tetapi bukan kerja sama, saat saya bahkan tidak menemukan nilai baik dan manfaat atas apa yang saya kerjaan. Akhir-akhir ini saya belajar banyak bahwa tentang respect ini, saya mengamini bahwa jika tidak ada rasa hormat kepada seseorang, bagaimanapun bagusnya seseorang bekerja, tetap akan terasa cacat dan terkesan licik! Di titik itulah, saya butuh hijrah!

Saya kemudian belajar untuk lebih mengargai yang tidak terlihat, mereka yang bekerja dalam diam, mengusahakan yang terbaik dalam proses, terus bekerja walaupun banyak stigma dan rasa tidak percaya, tuduhan tidak becus dan tidak mampu mencapai target pekerjaan. Saya belajar bahwa rasa hormat, dibangun  dengan silaturahmi, tidak menyakiti perasaan dan menjaga hubungan baik terhadap sesama terlepas begitu banyak perpedaan yang menyelimutinya.

* 4 Juni 2017

Ragam Rasa

Saya akhirnya menikah!, setelah sempat gagal karena perbedaan pendapat kedua orang tua. Ternyata perbedaan dapat diselesaikan dengan kesabaran dan komunikasi yang baik, itu pembelajaran terbesar dari ujian pernikahan kami. Saya akan membawanya ke desa beberapa hari, melihat bagaimana pekerjaan saya dan tinggal di kos-kosan ini sementara waktu.

Kosan 3 x 4 Meter itu, di sewa seharga Rp. 300 ribu perbulan, dengan keberkahan orang desa yang meminjamkan kompor gas, peralatan masak, dan tentu saja kasur ala kadarnya. Tapi, saya sangat bahagia, karena akhirnya bersamanya!”

***

Saya akan pulang, tidak peduli dengan pekerjaan karena istri saya sudah mengeluh perutnya sakit. Meskipun ini adalah anak ke empat kami, tapi tetap saja dia sendirian. Jauh-jauh saya kerja di Kalimantan adalah untuk keluarga di Jawa. Bisa jadi laki-laki, bisa jadi perempuan, bagi saya sama saja. walaupun ketiga kakaknya adalah perempuan.

Ia segera pulang, kata Si B pada rekannya. Jangan seperti saya yang akhirnya tidak bisa menemani istri di meja operasi. Berjuang sendirian dengan perasaan redam tak bisa memegang tangannya. Bagaimanapun, keluarga adalah segalanya!”

***

Saya hampir kehilangan dia di usianya yang baru dua tahun. Setelah lama meminum obat paru karena sakit, kemudian tak sadarkan diri karena DB, dokter mengatakan bahwa saya harus pasrah, hari ke delapan adalah titik kritisnya. Saya panggil Nama Yesus dan semua leluhur saya, berdoa di samping ranjangnya, dan pasrah yang terbaik untuk anak saya. Saya bilang kepada Tuhan, jika dikembalikan ke saya, saya akan menjaganya dengan sepenuh hati.  Ketika saya beranjak keluar, membuka gagang pintu rumah sakit, si kecil saya berkata “ Bapak….bapak….”, ada guncangan lega dikalbu saya,  anak saya kembali setelah tidurnya yang panjang, dan tugas saya kemudian adalah menjaga amanah ini sebaiknya-baiknya.

***

Saya benci rumah sakit!, mungkin karena banyak pesakitan di sana yang membuat saya sedih dan tidak tega. Mungkin saya juga harus belajar bahwa ada harapan dan tawa lega saat mereka dinyatakan sembuh. Ketakutan saya terhadap rumah sakit semakin menjadi saat saya melihat dan mendengar banyak praktik yang tidak sesuai yang menjadikan saya berfikir tidak logis tentang membenarkan tulang akibat jatuh ke tukang urut. Paling cuman keselo, dan bukankah selama ini tukang urut berkerja dengan baik, pikir saya!

Di ruang operasi, saya mendengar dokter bertanya tentang umur saya, menyuntikan sesuatu ke tangan saya, meletakan masker berisi oksigen dan entah zat apa lagi ke mulut saya. Mendadak lampu sangat terang menjadi gelap dan saya kemudian tersadar di ruang pemulihan. Yang saya ingat, saya kedingingan dan hanya ingin pulang, semewah apapun rumah sakit, saya tetap benci ada di sana. Meskipun demikian,  rumah sakit mengingatkan saya untuk bersyukur bahwa sehat adalah sesuatu yang mahal dan harus dijaga baik-baik!.

Dan bahwa, jika terjadi sesuatu dengan kita bukan pekerjaan yang akan kehilangan, tetapi keluarga dan orang-orang yang kita sayangi.

***

Korek dan rokok adalah barang terakhir yang diberikan kepada saya. Setelah perjalanan panjang kami menyusuri sungai dengan perahu menuju desa sangat terpencil. Lokasi tugas saya dengan orang yang saya anggap abang untuk membuat anak-anak di desa lebih baik lagi belajarnya. Dia pamit untuk pulang ke rumah, tak ada tanda bahkan permisi. Abang saya yang peduli ini, meninggalkan kami tiba-tiba, dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya. Menyisakan duka mendalam dan ketidakpercayaan. Diam, tawa, kebaikan dan kebijaksanaannya kini hanya tinggal cerita. Memberikan penegas kepada saya, bahwa maut bisa datang kapan saja

***

Hufh… Berbagai cerita hidup akhir-akhir ini.

May 2017

Menyeduh Makna

Salah satu bacaan  dipenghujung tahun ini adalah “Tuhan Dalam Secangkir Kopi” Karya Denny Siregar. Buku yang renyah tanpa menggurui, tetapi bagi saya, rangkaian kata dari buku ini membantu untuk melihat kembali beragam peristiwa dan memahami makna di baliknya.

“Kenapa belajar agama disebut mendalami? kenapa kita harus menyebutnya kedalaman beragama, bukan ketinggian beragama?” pertanyaan reflektif yang kembali menggugah sadar saya bahwa  belajar agama adalah sesuatu yang harus diresapi, bukan soal logika dan nalar yang harus selalu terjawab.  Mereka yang menyelami ilmu agama, tidak akan pernah merasa tinggi, semakin dalam ilmu agamanya semakin merendah dia dihadapan manusia lainnya, bukan semakin meninggi. Tulisan yang kemudian mengingatkan pencarian abadi saya akan makna hidup dan keberagamaan.

Bagian yang paling saya suka adalah tulisan Denny tentang arti perjalanan, merefleksikan tahun-tahun lampau dimana saya berusaha menemukan siapa sebenarnya Tuhan saya.

Mereka yang masih saja mengasumsikan bahwa berhala itu adalah patung-patung yang disembah, sungguh terlambat lahir. Dunia ini berhala, agama berhala, ekonomi adalah berhala. Anak-istri dan suami juga berhala. Bos diperusahaan itu bisa menjadi berhala. Bahkan ada yang memberhalakan dirinya sendiri.  Itulah kenapa Tuhan selalu menjatuhkan kita berkali-kali di dunia, hanya untuk “memberi tahu”, bahwa Akulah yang layak dicintai dan disembah.  Mereka yang mengagungkan Tuhan lebih dari semua unsur materi yang ada, tidak akan pernah kecewa terhadap dunia. Karena selalu bersyukur, mereka menjadi tenang. Dan begitulah Tuhan selalu menyapa mereka dengan kalimat- “Wahai Jiwa-jiwa yang tenang”. (Denny Siregar)

Saya kemudian bertanya kepada diri saya, apa yang membuat saya menjadi begitu gelisah akhir-akhir ini. Mengapa ada masa saya merasa begitu damai dan tenang, tetapi ada saat dimana saya mengutuk, mencaci, dan menyalahkan seolah alpa dari rasa syukur atas banyak nikmat. Akhir-akhir ini, saya juga begitu mengeluh tentang pekerjaan saya. Saya terus bertanya, mengapa ditempatkan di situasi dimana setiap orang menjadi saling berprasangka.

Hari ini saya menyadari bahwa Tuhan kadang mengajarkan kita lewat perantara, untuk memetik makna, dan memahami maksud dari sebuah peristiwa.  Jiwa yang tenang  adalah ketika saya memilikiNya di hati saya dan berusaha sempurna dihadapanNya. Sempurna di depanNya adalah saat kita menjadi rendah diri di depan Tuhan karena dosa-dosa yang pernah kita lakukan dan selalu bersyukur atas semua peristiwa yang diberikanNya kepada kita.

Kita ini ibarat cangkir. Tuhan ingin menuangkan kopi panas untuk kita. Tapi, Tuhan tahu, letak cangkir kita masih miring, sehingga ketika Tuhan menuangkan kopi panasnya, pasti kopi itu akan tumpah (Deny Siregar)

Saya kemudian ingat pertanyaan teman satu kantor saya beberapa hari yang lalu. “Dalam satu tahun, apakah kita bisa mencegah diri kita dari dosa?, jawabannya pasti tidak, tetapi dalam satu detik ke depan, apakah kita bisa mencegah diri kira dari dosa?, jawabannya adalah iya. Itulah sebabnya kita bisa hidup dari detik ke detik untuk menjaga diri dan terus berbuat baik”.

Jika makan, minum, kerja, sholat, silaturahmi, dan segala aktivitasmu adalah bagian dari ibadahmu.  Maka melakukan yang terbaik, sekali lagi bukan soal menjadi sempurna di depan manusia, tetapi merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhanmu.

***

 Well, bukankah kopi terlalu manis tidak enak dirasa, bubuk kopi yang terlalu pahit dan asam juga tidak sehat di lambung.

Previous Older Entries

twitter

%d blogger menyukai ini: