Beragam dalam Seiman

Sudah beberapa tahun saya di Jakarta, namun baru kali ini berkesempatan untuk sholat taraweh di Mesjid Istiqlal.  Berdasarkan sumber sejarah, mesjid ini diprakasai oleh Presiden Soekarno pada tahun 1951, di mana arsiteknya adalah Fredich Silaban seorang Batak Toba yang beragama Kristen.

Banyak tulisan yang menjelaskan bahwa mesjid ini adalah salah satu simbol toleransi agama dan ke Indonesiaan. Namun, bagi saya pengalaman pertama sholat di mesjid ini seperti pengalaman syahdu menerima perbedaan dalam se-iman.

***

Selepas shoat isya berjamaah, seorang hafiz melantunkan beberapa ayat Al-Quran dengan nyaring. Dibacakannya juga makna ayat-ayat tersebut. Jujur, hati saya sungguh bergetar. Rindu karena begitu lama tidak mendengarkan secara langsung suara begitu merdu.  Ya… bagaimanapun, kegelisahan selalu terjawab dengan cara kembali kepadaNya.

IstiqlalSeorang Ustadzah kemudian berdiri ke mimbar, dan mengisi ceramah kepada para jamaah. Jujur, seumur hidup saya, baru kali ini melihat seorang perempuan berdiri dengan tegak di ratusan atau mungkin ribuan jamaah laki-laki dan perempuan dan memberikan untaian hikmah tentang keluarga.

” Saat engkau memilih berkeluarga, ingatlah didasari dengan taqwa, karena itu adalah sumber kebahagiaan dan ketenangan”.  Kata beliau. 

Ya, di mesjid Istiqlal, mesjid simbol kenegaraan.  Saya haru, dan serasa membiru bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara dalam menebar kebaikan.

Takmir mesjid sudah menjelaskan sebelumnya bahwa sholat taraweh akan dilakukan dalam dua rangkaian. Delapan rakaat terlebih dahulu, dilanjutkan oleh witir, kemudian akan dilanjutkan oleh imam ke-dua untuk 20 rakaat dan diakhiri oleh witir.

Dari kecil, saya selalu disuguhi perbedaan ibadah tentang sholat delapan atau dua puluh rakaat, menggunakan qunut atau tidak, lafaz niat nyaring atau di dalam hati, dan banyak perbedaan-perbedaan lainnya. Saya kecil kadang merasa bahwa surga dimonopoli oleh sebagian kelompok yang merasa benar. Sementara apa itu surga dan Tuhan begitu abstrak buat saya

Saya terkesima melihat beberapa jamaah golongan taraweh delapan rakaat mundur, kemudian dilanjutkan dengan mereka yang melanjutkan dua puluh rakaat.

Di mesjid ini, saya kemudian dipertontonkan bahwa beragam dalam seiman itu tidak apa. Bahwa interpretasi dalam fiqih bisa beragam, dan toh kenapa harus selalu diperdebatkan, jika semuanya kemudian bisa diakomodasi.

***

Saya merasa lapang dan  bahagia.

 

 

 

 

Iklan

How fast time flies!

25 Mei 2017

Menjelang Ramadhan. Saat itu, ditemani beberapa teman, saya harus masuk rumah sakit, ngerasain pertama kali diinfus dan masuk ruang operasi. Em, agak drama karena saya cukup takut berurusan sama rumah sakit.

Memori yang tak akan lekang oleh waktu. Saat tiga puluh menit sebelum tindakan, saya mendapatkan kabar rekan kerja saya di Ketapang mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Rasanya kelu dan sangat pilu.

Lalu waktu begitu cepat berlalu.

Entah bagaimana, mereka yang di daerah kemudian menjadi orang-orang yang sangat saya pedulikan. Tempat saya bertumbuh dan belajar bersama.

25 Mei 2018

Ramadhan ke sembilan. Saya dan seorang teman melakukan perjalanan tak bertema ke Madiun, Tulung Agung dan Malang. Bagi saya, mungkin sekadar mengambil nafas lebih panjang dan beranjak sebentar dari kota besar.

Benar… Semua ada batasnya. Sepeti hari ini, semua tim daerah resmi mengakhiri kontraknya. Resmi menyelesaikan pembelajarannya.

Apa kelegaan saya yang amat besar? Setelah kejadian setahun lalu, mereka semua pulang ke rumah dengan selamat. Terlepas dengan huru-haranya, satu persatu memberikan makna amat besar bagi hidup saya.

Well.. Semua orang mulai beranjak. Sebentar lagi, mungkin juga saya.

Semoga.

-Kereta Majapahit, Jakarta-Madiun-

Sendu…… Pram!!!

Saya berkenalan dengan Pramoedya Ananta Toer mungkin agak terlambat. Justru dimasa setelah saya selesai kuliah, dan bekerja menjadi guru di Banggai Sulawesi Tengah. Itupun saya juga belum tertarik menyentuh karyanya. Saya hanya melihat teman-teman satu penempatan secara bergantian membaca tetralogi pulau buru.

Saya resmi membaca karya-karya Pram ketika saya bekerja sebagai Fasilitator di daerah sangat terpencil. Jujur, sulitnya akses ke desa-desa dampingan membuat fisik menjadi sangat lelah. Saya sendiri merasa waktu membaca buku terasa sangat miskin karena lebih mimilih untuk tidur. Justru itulah, saya kemudian mulai memilah apa saja buku-buku yang saya baca. Untuk mengingatkan bahwa apa yang saya kerjakan tidak ada apa-apanya dibandingkan banyak sejarah yang kelam dari negeri ini. Ya, karya Pram bagi saya bukan sekadar mengajarkan sejarah dengan tutur kata sederhana, tetapi mengingatkan untuk terus bergerak.

Sekali Peristiwa di Banten Selatan adalah karya Pram pertama yang saya baca. “tubuh boleh disekap, ditendang, diinjak-injak, tetapi semangat tidak boleh redup, mungkin itulah yang bisa membuat orang untuk terus hidup dan dapat bekerja”. Tentu saja, hidup saya kala itu bukan sosok yang terpinggirkan atau tertindas. Namun, buku ini mengajak saya merefleksikan banyak hal tentang kehidupan di desa sangat tertinggal. Bisa jadi tema penindasannya tidak sama tetapi sebenarnya serupa. Bahwa kaum miskin, lemah, tidak berpendidikan selalu jadi objek empuk untuk selalu disengsarakan demi keuntungan.

Dari sana, saya mulai jatuh cinta dengan karya Pram. Tentu saya tidak akan mengulik banyak tentang Bumi Manusia yang sudah pasti jadi bacaan wajib bagi pecinta sastra. Dengan latar belakang sejarah yang luar biasa, Bumi Manusia mengajarkan saya satu hal bahwa Nyai Ontosoroh selalu berulang pada setiap masanya. Ah, ada masa kadang saya seperti Nyai Ontosoroh, memperjuangkan sesuatu yang dianggap penting, namun tetap saja ada kekuasaan yang membuat saya tidak bisa bertindak. Selalu ada politik yang seolah cantik dan rupa, namun sesungguhnya menusuk dan menjatuhkan.

Atau sosok lain dari seorang Kartini yang justru saya pelajari dari Karya Pram. Kartini bukan soal memakai kebaya sebagai simbol dihari perayaannya, juga bukan hanya soal memperjuangkan kaum perempuan. Kartini adalah pecinta pengetahuan, pembaca buku dan kehidupan yang rakus kemudian menuliskannya sebagai tanda kritik sosial pada jamannya. Kartini juga bukan orang yang mengimani sesuatu dengan membabi buta, dia menemukan Tuhannya dengan bertanya, mencari, dan belajar. Membaca Panggil Aku Kartini Saja membuat saya sangat iri. Iri karena banyak kemewahan dan kesempatan belajar tetapi tidak saya manfaatkan dengan baik, sementara pada masanya Kartini berjuang begitu rupa.

Singkat kata, Pram adalah manusia yang tidak saya kenal, tetapi mempengaruhi hidup saya.

Lalu, hari ini saya merasa sendu, karena dari dekat melihat sisi manusia seorang Pram, bukan dari surat-surat Pram ke anaknya seperti yang dituliskan di Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, tetapi dari sudut pandang lingkungan yang pernah membersamainya.

Dari surat anak-anak Pram, foto keluarga, alat kerja, pakaian, tas, cerutu dan peralatan keseharian yang dipamerkan ke hal layak. Saya menjadi melihat sisi lain seorang Pramoedya Ananta Toer.

Ada dialog yang syahdu antara surat anak ke bapak yang meminta izin atas pernikahannya, tentang penantian panjang anak yang terpisah karena ketidakadilan, tentang pelukan bapak setelah keluar dari penjara, atau tentang tawa lepas yang seperti tidak tergambar dalam buku-bukunya yang menggerakan dan penuh rasa marah.
Ya, Pram dengan karya besarnya tetap adalah seorang suami dan bapak bagi putra-putrinya.

Ah, Saya merasa benar-benar menjadi sendu….

Sendu saat melihat lampu baca, tulisan tangan, kaca mata dan tiga mesin tik tua kepunyaan Pram. Saya membayangkan seorang Pram yang sepanjang hidupnya berjuang, bukan dengan senjata tetapi dengan kata-kata.
Pram benar, semua orang bisa mengambil kebebasan ragawi, tapi tidak pikiran meskipun kita sudah lelah dan merasa renta.

Terimakasih Pram
Dan entah kenapa saya masih merasa sendu.

Belajar

Hari ini saya belajar bahwa hidup itu adalah sekumpulan pilihan untuk mengambil keputusan.

Hari saya belajar bahwa menjadi peduli itu baik, hanya bertindak lebih prioritas mungkin lebih perlu.

Hari ini saya belajar bahwa memberikan yang terbaik itu penting, tapi kembali menolkan ekspektasi atas apapun pada akhirnya membuat kita tidak berharap berlebihan.

Hari ini saya belajar bahwa belajar itu memang ada tempat dan porsinya, juga selalu ada batas waktunya.

Hari ini saya belajar bahwa menjadi tua itu bukan berarti menjadikan kamu lebih dewasa.

Ya…Hari ini saya belajar bahwa semua orang akan datang dan pergi. Bisa saja tanpa permisi, bisa juga meninggalkan jejak yang berkesan. Ah, bijak itu kadang soal sudut pandang. Bisa jadi semua orang punya alasannya sendiri buat mengepak.

Ya hari ini saya belajar….

Jakarta, 24 April

 

Mereka yang Memberi Makna

Salah satu teman di kantor saya bilang, panduan adalah saya, dan saya adalah panduan. Saat saya mengunjungi tim daerah, sering mereka berkata, “bawa panduan apa lagi mbk yang harus kita jalankan” seolah agak trauma dengan modul-modul fasilitasi yang pernah mereka baca.

Ya, menulis panduan adalah salah satu bagian dari keluaran pekerjaan yang harus saya hasilkan. Dengan segala kontroversinya, saya menjadi belajar.

Awal tahun lalu, dalam satu bulan sepertinya saya menulis sekitar delapan panduan, yang terus direvisi dan direvisi. Bagi beberapa orang, apa yang saya tulis selalu saja tidak sempurna. Rasanya benar-benar bikin muak, dan tidak tahu lagi kenapa saya harus menulis itu semua (ha… kadang ngerasa demikian si).

Namun Pak Uli dan para Kader Desa itu membuat saya merasa berbeda.  Membuat saya menitikan air mata, bahwa mungkin sesuatu yang saya hasilkan memberikan manfaat bagi mereka.

Saat saya pergi ke Kabupaten Landak beberapa hari yang lalu, dan melihat bagaimana Kader Desa bertranformasi menjadi seorang fasilitator dan menggantikan kami yang akan pergi. Jujur, saya haru!,  bahwa mungkin ada makna dibalik usaha  menunaikan sebuah kewajiban.

Saya melihat Kader Desa yang usianya begitu tua, membaca perlahan langkah-langkah fasilitasi, terdiam, lalu mengangguk-angguk mulai mengerti. Saya mendengar seorang Kader lainnya berkata, “kami sekarang sudah naik pangkat jadi fasilitator”.  Lalu ada seorang ibu mendatangi saya dan bilang “saya sudah tidak gemetar lagi mah bu, besok kami saja yang simulasi biar belajar”.

Mungkin Fasilitator Masyarakat yang bertugas di Landaklah yang harus mendapatkan apresiasi paling besar atas dedikasi mereka mendampingi Kader Desa. Namun, di titik ini, saya merasa lega dan berterima kasih karena mereka memberi makna atas bagian kecil yang saya lakukan.

Terimakasih bapak dan Ibu Kader Desa, juga temen-temen Fasilitator Masyarakat yang membuat saya belajar dan menjadi lebih bermakna.

Jakarta, 21 April 2018

 

Menunaikan Kewajiban

Kearifan paling purba adalah menunaikan kewajiban (Amba, Lakmi P)

Entah bagaimana, kalimat ini selalu terucap di dalam hati ketika saya mengambil nafas lebih panjang.

Kadang saya merasa seperti robot, yang bergerak kesatu poros yakni menunaikan kewajiban. Kewajiban sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada orang tua, sebagai seorang buruh yang harus bekerja sebaik-baiknya, sebagai seorang teman/ sahabat yang lebih peduli, sebagai manusia yang harus bermanfaat, dan kewajiban sebagai seorang hamba yang memiliki Tuhan.

Lalu, kemudian saya mulai bertanya, apakah semata-mata menunaikan kewajiban membuat saya mulai mati rasa, dan menjadi tidak jujur dengan diri sendiri. Entah bagaimana, di titik ini, saya menjadi begitu lelah.

Mungkin saya harus mencerna baik-baik bahwa “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkah telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berhadap (Al-Insyirah 6-8).

Mungkin saya harus belajar kembali untuk memperbaiki niat dan  menyerahkan kembali kepadaNya. Bahwa mungkin akan banyak hal indah pada ujungnya nanti.

Semoga saja.

Jakarta, 1 April 2017

“ dengan list kewajiban baru….”

 

Mengepak, Sedikit Berjarak!!

“Ada kalanya kita perlu pergi sendiri, berkelana entah kemana lalu sekadar menikmati”

“Mohon restunya bos” tulis saya di email yang menjelaskan bahwa saya akan off dari kerjaan. Jedanya dipertengahan Januari banget ni, kata temen saya yang lainnya. Mungkin saat orang lain memulai menjalankan resulosinya, okay…saya baru mau bikin. 

Mungkin jalan-jalan sekalian bikin resolusi kali ya. Walaupun saya sadar bahwa biasanya 50 persennya tidak dijalankan.

Emm… Kenapa jalan-jalannya sekarang?. Pertama, diakhir tahun saya tetep kerja nulis panduan dengan sederet protes dari ayah saya. Kedua, di awal Januari sudah ada pelatihan tim daerah yang bikin riweh. Ketiga, nunggu bulan Juni?? Lha..kontrak saya keburu abis dong.. dan rekor saya belum ngambil cuti satu setengah tahun terakhir, ha… Ditambah sering ke daerah yang memakai waktu week end saya.

Emang gak ada waktu yang tepat, ya ditepat-tepatin aja.

Buat saya perjalanan itu ibarat mengumpulkan kepingan-kepingan cerita lalu menarik garis makna, mencoba sedikit berjarak dari realita lalu kembali dengan ceria. 

Whuaaa… Penutupnya alay si!

(Kereta Argo Dwipangga, 17 Jan 2018)

Apa petuah berlaku di dunia nyata?

Ada petuah bijak bilang bahwa padi semakin berisi adalah semakin merunduk.

 

Akhir-akhir ini saya bertanya apakah benar filosofi padi ini bisa berlaku kepada manusia. Mengapa saya melihat yang sebaliknya?.

Bukannya wajar ketika orang dengan banyak pengalaman menjadi nyinyir dengan kelemahan orang lain.

Bukannya biasa orang dengan banyak gelar menganggap orang lain bodoh dan tidak semampu dirinya.

Bukankah tidak aneh dengan hirarki kekuasaan membuat orang menjadi keras kepala dan tidak mendengarkan pendapat lingkungannya.

Bukannya kata tua itu identik dengan menggurui yang muda. Bahwa ada pasal yang usianya lebih tua tidak pernah salah. Pun jika salah, kembali ke prinsip pertama.

Bukannya mungkin setara itu hampir tidak ada. 

Bahwa benar, semua orang konsisten memiliki kepentingan pribadi namun selalu gamang dengan kepentingan bersama.

Dan naif memang berfikir demikian.

28 Nov

Andi dan Perasaan yang Sama

Sekitar lima tahun lalu, saat saya  menjadi guru ada anak bernama Andi. Sudah dua tahun dia tidak naik kelas, sudah tidak punya orang tua dan hanya tinggal bersama kakek dan neneknya yang setiap sore pergi mencari ikan ke laut. Saat mereka pulang, Andi sudah tertidur lelap, entah sendiri di rumah atau di rumah tetangganya.

“Andi mau belajar membaca sama Enci?”  tanyaku suatu sore.

Iyek Enci” Jawab Andi dengan tawa, semangat dan mata yang berbinar.

Benar saja kata wali kelasnya, orang yang mengajar Andi akan kewalahan, karena Andi dengan cepat melupakan huruf yang diajarkan kepadanya. Saya mencoba berbagai cara untuk membuat Andi lebih mengenal huruf. Mengajarkan dengan bernyannyi, menulis berulang, main tebakan, hingga membuatkan kalung kartu yang dipakai Andi sepanjang hari di sekolah. Kartu tersebut akan ditukar kepada saya setelah dia ingat huruf  sebelumnya.

Sulit, kadang membuat sangat frustasi.

Tapi Andi tidak demikian.  Meskipun pelajaran yang selalu berulang, ekpresi saya yang hampir marah, atau ejekan teman-temannya,  Andi selalu datang dengan mata berbinarnya, lalu berteriak “Enci, ayo belajar”.

Pernah suatu pagi di hari minggu, Andi datang ke rumah dan membuat saya kaget.

“ Enci, ayok belajar”, teriak Andi

“ Andi, bukankah kita janjian jam 2 buat belajar”, kata saya.

“ Iya Enci, ini jam 2” jawab Andi

Saya baru tahu kemudian, kalau Andi tidak hanya kesulitan untuk membaca, tetapi mengenal angka. Andi menjadi penyemangat saya untuk menjadi guru yang lebih baik lagi.

Sayang, pendampingan saya terhadap Andi menjadi berkurang, karena saya harus sering ke kota untuk mengurus acara kabupaten ataupun masalah di tim. Saya semakin susah menghabiskan waktu belajar dengan Andi, apalagi menjelang kenaikan kelas.

Andi menampar saya. Saat wali kelasnya mengatakan tidak ada kemajuan dalam membaca, menulis dan berhitung sehingga Andi tidak akan naik kelas.

Saya menangis, sedih, bersalah, mengutuki diri sendiri, merasa gagal dan sebagai guru harusnya bisa melakukan hal lebih baik untuk Andi saat itu.  Bahkan sampai ditarik dari penugasan, saya tidak bisa berbuat banyak untuk Andi.

Perasaan itu sama, dan begitu rupa menyelimuti.

Ya…Hari ini perasaan itu sangat sama, terhadap pekerjaan saya sekarang. Di titik yang membuat saya berfikir keras, harus bagaimanakah kemudian???

22 Nov 2017

 

Refleksi: Kenangan dan Renungan

Sisi lain dari musik festival.

Saya menyumpah kenapa makanan saya harus disita hanya untuk melihat festival musik. “ pasti karena kita disuruh beli makanan di dalam”, tentu saja ini valid, karena begitu banyak food truks di arena festival.  

Beberapa jam kemudian saya langsung menarik sumpahan saya. Saat melihat seorang bapak, tua, berseragam hijau, sapu di tangan kanan, dan tempat sampah di tangan kiri. Bapak itu juga berada di tengah lapangan,  masuk dalam kerumunan anak muda yang hanyut dengan konser musik sang idola. Tujuan bapak bukan ikut berjoget, tetapi menuntaskan tugasnya untuk mencari sampah-sampah berserakan yang dibuang sembarangan.   Saya menjadi bersyukur, paling tidak larangan membawa makanan dari luar, mungkin sedikit mengurangi beban sampah yang harus dibersihkan oleh orang-orang seperti bapak ini.

Serupa tapi tidak sama dengan sang bapak.

Seandainya wanita itu tidak menggunakan make up tebalpun, wanita itu terlihat sangat cantik. Rambutnya panjang lurus, tubuhnya ramping, apalagi dengan balutan baju putih ketat dan sepatu berhak tinggi.  Dia pasti lelah pikir saya. Tanpa suara, hanya menyorokan kotak rokok kepada banyak laki-laki untuk dibeli.  Rokok dan sales perempuan sepertinya adalah stategi jitu penjualan perusahaan. Saya jadi penasan, para laki-laki itu, membeli rokok apa karena candu dengan tembakau atau justru rancu dengan sang penjualnya. Saya tidak bisa menjawabnya.

Ragam lain di sudut yang berbeda

Saya beranjak menuju mushola di lokasi festival. Dengan santai saya berjalan di antara beraneka booth yang meramaikan festival. Ada kaos, marchendise, makanan, sampai pameran tentang persiapan Asean Paralimpic Game dimana mereka yang difabel yang menjaganya.

Waktu magrib masih lama, saya tidak perlu tergesa batin saya.

Dalam acara festival dengan banyak pecinta musik dan penikmat kesenangan  dengan segala rupa di luar konsep normal manusia, pasti mushola bukan tempat yang ramai pikir saja.  Lalu saya sungguh terkejut, bahkan hanya untuk wudhu, saya harus anti lebih dari 30 menit. Ada 8 keran air untuk laki-laki dan perempuan, dan semuanya antri panjang dan meliuk-liuk. Belum lagi antri untuk sholat “duh… wudhu antri, sekarang saya juga harus menunggu ada mukena yang nanggur” kata seorang perempuan.

Ternyata saya salah,  Tuhan dan ritualnya selalu punya tempat. Entah karena ingin kembali, atau sekadar menuntaskan kewajiban. Hal yang sama saya pertanyakan untuk diri sendiri.

Waktu kemudian berlanjut untuk bergembira kembali.

Apa yang ada di dalam fikiran orang-orang ini saat mendengarkan lagu-lagu melow sudah berumur 10 tahun lebih. Mereka bernyanyi, saling merangkul, bergoyang santai, sambil melambaikan tangan ke atas. Sang penyanyi, lebih banyak menyorkan mikrofon ke penoton karena merasakan aura bahwa penonton inging bernostalgia dengan lagu. Bagi saya sendiri, beberapa lagu yang dinyanyikan adalah penanda dari banyak kehidupan saya.  Saat remaja dan pertama kali jatuh cinta, saat musik dan band adalah tanda bahwa kita keren, saat pertemanan dan mimpi mulai dirajut, saat harus mengepak dari satu kota ke kota lainnya, atau masa-masa gagal kemudian beranjak untuk segera bangkit. Bagi saya, lagu itu sama layaknya buku, selalu menjadi teman setia pengantar banyak kehidupan.

***

Kearifan paling purba adalah menunaikan kewajiban (Amba, Laksmi P)

Kenangan, kadang tidak hanya sekadar merefleksikan apa yang kita lakukan dimasa lampau, tetapi menyesali apa yang tidak kita lakukan di masa lampau.

Jakarta, 10 Oktober 2017.

Previous Older Entries

twitter

%d blogger menyukai ini: