METODE STORYTELLING TERHADAP KECERDASAN VERBAL ANAK PRA SEKOLAH

Teori tentang kecerdasan terus berkembang dan banyak para ahli yang mempunyai definisi yang berbeda-beda tentang kecerdasan. Salah satunya adalah Gadner, dimana paling tidak ia membagi kecerdasan menjadi delapan aspek yaitu kecerdasan verbal, logis-matematis, kinestetik, visual-spasial, musik, interpersonal, intrapersonal dan naturalis (Gadner, 2003). Dengan kata lain, kecerdasan bersifat majemuk yang mana setiap orang pasti mempunyai satu atau lebih dari kecerdasan-kecerdasan tersebut.

Salah satu kecerdasan yang pasti dimiliki manusia menurut Gadner adalah kecerdasan verbal, yang merupakan kemampuan untuk berfikir dengan kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna (Chambel, Chambel & Dicknson, 2006). Anak yang memiliki kecerdasan verbal yang baik mempunyai minat yang besar terhadap kata, mereka cenderung menikmati mendengar dan bermain dengan kata, menyukai buku dan menikmati hal tersebut, dan memiliki memori yang baik dan cepat  serta mudah belajar soal kata (Rettig, 2005).

Karakteristik kecerdasan verbal yaitu: (1) mampu mendengar dan merespon setiap suara, ritme, warna, dan berbagai ucapan kata; (2) menirukan suara, bahasa, membaca, dan menulis lebih dari orang lainnya; (3) belajar melalui menyimak, membaca, menulis, dan diskusi; (4) menyimak secara efektif, memahami, menguraikan, menafsirkan dan mengingat apa yang telah diucapkan; (5) membaca  secara efektif, memahami, meringkas, menafsirkan, atau menerangkan dan mengingat apa yang telah dibaca; (6) berbicara secara efektif kepada berbagai pendengar, berbagai tujuan, dan mengetahui cara berbicara secara sederhana, fasih, persuasif atau bergairah pada waktu-waktu yang tepat; (7) menulis secara efektif, memahami dan menerapkan aturan-aturan tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan menggunakan kosa kata yang efektif; (8) memperlihatkan kemampuan untuk memperlajari bahasa lainnya; (9) menggunakan keterampilan menyimak, berbicara, menulis dan membaca untuk mengingat, berkomunikasi, berdiskusi, menjelaskan, mempengaruhi, menciptakan pengetahuan, menyusun makna, dan menggambarkan bahasa itu sendiri; (10) berusaha untuk meningkatkan pemakaian bahasanya sendiri; (11) menunjukan minat dalam jurnalisme, puisi, bercerita, debat, berbicara, menulis, atau menyunting; (12) dan menciptakan bentuk-bentuk bahasa baru atau karya tulis orisinil atau komunikasi oral (Chambel, Chambel & Dicknson, 2006).

Kecerdasan verbal adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, merupakan media efektif untuk berkomunikasi dengan orang lain sehingga seseorang pasti mempunyai kecerdasan verbal walaupun dalam tingkatan yang berbeda-beda. Kecerdasan adalah sesuatu yang bisa ditingkatkan, begitu juga dengan kecerdasan verbal, perlakuaan-perlakukan tertentu kepada seseorang dipercaya mampu mengembangkan kecerdasan itu sendiri. Hasil penelitian menyebutkan bahwa lingkungan juga memainkan peranan penting dalam kecerdasan seseorang (Ceci dkk, 1997; Okagaki, 2000; Stenberg & Grigorenko, 2001; Williams & Stenberg, 2002 dalam Santrock, 2007). Hal ini berarti memperkaya lingkungan anak dapat meningkatkan kecerdasan anak (Santrock, 2007). Walaupun beberapa tokoh kecerdasan lainnya seperti Jensen, Hermstein and Eysenck mengatakan bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang diwarisi atau bawaan sehingga peran lingkungan untuk meningkatkan kecerdasan adalah sesuatu yang minimal (Nichols, 1978).

Dukungan riset bahwa kecerdasan dapat ditingkatkan dapat dilihat dari penelitian Craig Ramey (1988 dalam Santrock, 2007) yang menemukan bahwa masa pendidikan awal yang berkualitas tinggi (sampai usia lima tahun) secara signifikan akan meningkatkan kecerdasan anak dari keluarga miskin. Efek positif dari intervensi awal ini masih tampak dalam kecerdasan dan prestasi dari murid ketika mereka berusia 13 tahun dan 21 tahun (Cambell, dkk., 2001; Campbell & Ramey, 1994; Ramey, Ramey & Lanzi, 2001 dalam Santrock, 2007). Selain itu, hasil riset Mevarech dan Kramarskir (1997, 2003) menjelaskan bahwa siswa yang dilatih untuk merumuskan dan menjawab pertanyaan metakognitf dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kecerdasan, prestasi matematika, dan kemampuan menjelaskan penalarannya terhadap jawaban-jawaban tugasnya. Bukti lain bahwa kecerdasan dapat ditingkatkan adalah studi tentang efek sekolah terhadap kecerdasan. Efek terbesar muncul ketika sekelompok besar anak dijauhkan dari pendidikan formal selama periode tertentu. Hasilnya menyebabkan kecerdasan mereka mengalami penurunan. Dalam sebuah studi, dilakukan penelitian terhadap fungsi intelektual dari anak-anak keturunan India di Afrika Selatan, yang masa sekolahnya ditunda empat tahun karena tidak ada guru. Dibandingkan dengan anak-anak di desa terdekat yang punya guru, anak-anak India yang tertunda itu mengalami penurunan IQ sebanyak lima point setiap tahunnya (Ceci & Gilstrap, 2000; Christian, Bachnan & Morrison, 2001 dalam Santrock, 2007).

Penelitian lain tentang kecerdasan majemuk berdasarkan teori Gadner adalah penggunaan metode pembelajaran kooperatif pada siswa SMP Nasional KPS di Balikpapan, hasil penelitian menunjukan bahwa dengan model pembelajaran kooperatif maka kecerdasan majemuk siswa menjadi meningkat (Handayani, 2007).

Terkait dengan kecerdasan bahasa, hasil penilitian mengatakan bahwa lingkungan memberikan peranan yang besar terhadap perkembangan kecerdasan verbal terutama dalam penguasaan kosa kata (Tamis-Lemonda, Borstein & Baumwell, 2001 dalam Santrock, 2007). Misalnya, dalam salah satu penelitian, saat anak berusia tiga tahun, anak yang tinggal dalam keluarga miskin menunjukan kekurangan kosa kata jika dibandingkan dengan anak dari keluarga menengah ke atas, dan defisit ini terus tampak saat mereka masuk sekolah pada usia enam tahun (Farkas, 2001 dalam Santrok, 2007). Ini terjadi dikarenakan kurangnya stimulus lingkungan sehingga kecerdasannya tidak berkembang. Oleh karena itulah, dari beberapa riset yang telah ada dapat disimpulkan bahwa kecerdasan, termasuk kecerdasan verbal dapat ditingkatkan melalui perlakuan-perlakuan yang efektif dari lingkungannya.

Meningkatkan Kecerdasan Bahasa Dengan Metode Stroytelling Pada Anak-anak Pra Sekolah

Intervensi untuk meningkatkan kecerdasan bahasa anak haruslah memperhatikan: (1) bahasa siswa sebagai titik awal pengajaran; (2) memberikan kemajuan perkembangan keterampilan berbahasa secara alami, bukannya melalui uturan-urutan yang ditentukan; (3) membangun keterampilan yang menambah pengajaran berbahasa secara alami, bukannya melalui urutan-urutan yang ditentukan; (4) menghubungkan bahasa dan kesusastraan secara organis; (5) menggabungkan berbagai komponen seni berbahasa, membaca, menulis, menyimak, dan berbicara; (6) menggunakan pengalaman anak-anak dengan kehidupan sebagai tempat masuk untuk membaca dan menulis; (7) dan memperlakukan bahasa sebagai satu keseluruhan, bukannya membagi pengajaran menjadi komponen-komponen keterampilan yang tersendiri (Chambel, Chambel & Dicknson, 2006).

Salah satu metode yang tepat menurut kriteria di atas untuk bisa meningkatkan kecerdasan verbal anak adalah dengan metode storytelling atau bercerita. Metode ini dapat mewadahi karakteristik anak yang memiliki daya imajinasi dan fantasi yang tinggi. Cerita pada dasarnya memiliki struktur kata dan bahasa yang lengkap serta menyeluruh yang mana di dalamnya sudah terdapat sistem aturan bahasa yang mencakup fonologi (sistem suara), morfologi (aturan untuk mengkombinasikan unit makna minimal), sintaksis (aturan membuat kalimat), semantik (sistem makna), dan pragmatis (aturan penggunaan dalam setting sosial) (Santrock, 2007). Diharapkan dengan storytelling anak makin mampu menghasilkan semua suara bahasa, mengenali kata dan bahkan secara perlahan mampu menghasilkan serangkaian kongsonan yang kompleks atau minimal dengan metode bercerita, perbendaharaan kata anak menjadi bertambah. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa usia pra sekolah adalah usia emas untuk anak dalam menguasai kata. Dimana pada usia dua setengah tahun anak hanya memiliki dua atau tiga ratus kosa kata, nanun pada usia hingga enam tahun, ia bisa menguasai ribuan kata. (Montesori, 2008).

Paley dan rekan menemukan bahwa keuntungan dari storytelling antara lain (1) membantu siswa mengenalkan pada proses dan tujuan dari menulis, (2) mempertimbangkan ekspresi kreatif dari ide-ide dan perasaan, (3) meningkatkan kesempatan untuk membangun kemampuan sosial, dan (4)  mempertimbangkan siswa untuk bekerja dengan ide-ide dan berbagai pengalaman (Cooper 1993; Paley, 1990 dalam Wright, Bacigalupa, Black & Burton, 2008). Selain itu manfaat lain dari storytelling menurut Vivian Paley’s (1988, 1990, 2004 dalam Wright, Bacigalupa, Black & Burton, 2008) adalah dengan bercerita dapat menolong guru untuk lebih memahami siswa yang dia ajar, lebih efektif pada sosial anak dan kebutuhan emosionalnya, serta menciptakan kurikulum yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan minat anak. Bahkan Lenox (2000) menjelaskan efek lain dari storytelling adalah merupakan alat yang sangat kuat untuk meningkatkan pemahaman dari diri anak dan orang lain disekitarnya.

Sebuah penelitian untuk menguji efek storytelling dan story reading pada bahasa oral yang komplek dan story comprehension pada anak usia 3-5 tahun membuktikan bahwa terdapat efek positif yang besar terhadap bahasa oral anak (Isbell, Sobol, Lindauer, & Lowrance, 2004). Selain itu Ford (2007) menjelaskan pengalamannya belajar bersama muri-murid di The Pittsburgh Public School District dengan metode storytelling yang disesuaikan dengan karakteristik anak, dimana murid-muridnya memiliki kekurangan dalam hal hal matematika, kemampuan membaca, dan menulis, hasilnya murid-murid tersebut dapat meningkatkan motivasi dan performance kinerjanya.

Ketika cerita dibacakan, terkadang kata-kata yang diucapkan tidak hanya diingat namun juga serasa dilukiskan kembali secara spontan, terdapat semangat performance, yang dibantu oleh partisipasi dan interaksi audien (Isbell, Sobol, Lindauer, & Lowrance, 2004). Dimana Roney (1996 dalam Isbell, Sobol, Lindauer, & Lowrance, 2004) menjelaskan bahwa di dalam storytelling aspek yang harus diperhatikan agar berjalan dengan efektif adalah mencoba kreatif dan memiliki komunikasi dua arah (storyteller dan pendengar). Selain itu kontak mata dengan pendengarpun sangat penting untuk diperhatikan, jika anak melihat kontak mata storyteller, dimana mereka saling melakukan tatapan dalam interaksi, pada akhirnya akan membuat pengalaman menjadi lebih personal dari pada storyteller hanya membaca buku cerita (Zeece, 1997; Malo & Bullasrd 2000 dalam Isbell, Sobol, Lindauer, & Lowrance, 2004). Storytelling yang digunakan untuk meningkatkan kecerdasan anak juga harus disesuaikan dengan level kognitif anak. Dimana pada usia pra sekolah, level kognitif mereka berada pada operasional kongrit (Piaget dalam Santrock, 2007) Sehingga cerita yang diberikan haruslah bersifat kongrit dan tidak membutuhkan daya penalaran yang tinggi.

Colon-Vila (1997 dalam  Isbell, Sobol, Lindauer, & Lowrance, 2004) setuju bahwa storytelling  dapat membantu mengajari siswa untuk mendengar, membantu membangun keterampilan komunikasi oral dan tulisan, dan mengembangkan pemahaman dari cerita skema. Farrel dan Nessell (1982 dalam  Isbell, Sobol, Lindauer, & Lowrance, 2004) menjelaskan bahwa storytelling membantu mengembangkan kelancaran, menambah perbendaharaan kata, dan membantu mengingat kata. Selain itu Marrow menyakini bahwa storytelling adalah salah satu cara untuk mengembangkan bahasa di kelas awal masa kanak-kanak.

DAFTAR RUJUKAN

Campbell, L,. Campbell, B,.& Dickinson, D. (2006) Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences (terjemahan). Jakarta: Intuisi Pers

Ford, Tawnya. (2007). The Power of Story in Building Character and Community. http://academic.evergreen.edu/c/chambreb/Power%20of%20Story%20Reader%2007.pdf

Gadner, Howard. (2003). Multiple Intelligences. Batam: Interaksara

Handayani, Sugeng. (2007). Penerapan Pembelajaran Kooperatif Sebagai Upaya Untuk Membangkitkan Multiple Intelligences Siswa. Jurnal Pendidikan Inovatif Volume 3, No 1, September 2007

Isbell,R., Sobol,J., Lindauer,L.,&  Lowrance, A.  (2004). The Effects of Storytelling and Story Reading on the Oral Language Complexity and Story Comprehension of Young Children. Early Childhood Education Journal, Vol. 32, No. 3, December 2004

Kramarski, Bracha & Mevarech, Zemira R. (2003). Enhancing Mathematical Reasoning in the Classroom: The Effects of Cooperative Learning and Metacognitive Training. American Educational Research Journal Spring 2003, Vol. 40, No. 1, pp. 281–310

Lenox, Mary F. (2000). Storytelling for Young Children in a Multicultural World. Early Childhood Education Journal, Vol. 28. No. 2. 2000

Montessori, Maria. (2008). The Absobent Mind-Pikiran yang Mudah Menyerap (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Nichols, Robert C. (1978). Policy Implications of The Iq Controversy. Review of Research In Education 1978; 6; 3

Rettig, Michael. (2005). Using the Multiple Intelligences to Enhance Instruction for Young Children and Young Children with Disabilities. Early Childhood Education Journal, Vol. 32, No. 4, febuary 2005

Santrock, John W. (2007). Psikologi Pendidikan (terjemahan). Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Wright, C,.Bacigalupa, C,. Black, T,. Burton, M. (2008). Window into Children Thingking: A Guide to Storytelling and Dramatization. Early Childhood Education J (2008) 35: 363-369

 

 

About these ads

3 Komentar (+add yours?)

  1. rosma
    Apr 20, 2013 @ 18:43:36

    waaaaaaaaaaaaaahhh it helps me

    Balas

  2. sURYA
    Des 30, 2013 @ 13:13:41

    sangat membantu sekali, gimana kalau lebih banyak lg tentang story telling ini,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

twitter

  • RT @DailyHadith: "And he who passes Lailat al-Qadr in prayer with faith and seeking his reward from Allah will have his past sins forgiven.… 9 hours ago
  • RT @MahatmaGandhiii: War is not fueled by some internal rage of mankind, it is fueled by selfish excesses and a bizarre obsession with worl… 9 hours ago
  • Sementara PBB menyebutkan, setiap satu jam. Satu anak Palestina meninggal dunia 1 day ago
  • Kita tdk akan pernah tau kapan amanah hidup diambil 1 day ago
  • RT @KampusPsikologi: Mandi air dingin 2 kali sehari bisa menaikkan endorfin, zat yang bikin kita bahagia. Cocok buat penderita depresi ring… 2 days ago
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: