Authentic Assesment Sebagai Pendekatan Evaluasi Belajar Siswa Di Sekolah

Abstract

The development of education in the direction of higher order thingking with a variety of teaching methods and more sophisticated media should also be followed by the development of learning evaluation system that is able to measure the overall results. Assessment should not only be used to evaluate the extent to which students learn of something but also able to further develop the abilities they have. So that the assessment in the evaluation of learning outcomes should not only at the level of factual knowledge, but also at the level of applications, analysts, and even synthesis evaluation.

That are more authentic assessment is more fair, respect the ability of students, sustainable, and able to develop students’ skills already possessed. Authentic assessment involves students in tasks that are useful, important, and meaningful and able to challenge students to apply new information or academic skills to real situations for a definite purpose, combining the knowledge, skills, and attitudes that they can apply on criteria for situations in professional life

Benefits to students are able to reveal completely how well their understanding of academic material, express and strengthen their competencies, such as collecting information, using resources, handling technology and systematic thinking, connecting learning to their own experiences, their world and the wider community, sharpen thinking skills in the higher levels as they analyze, integrate, and identify problems, create solutions and follow the causal relationships, accept responsibility and make choices, berhugungan and cooperation with others in making assignments, and learn to evaluate their own achievement levels. As for teachers’ authentic assessment can be comprehensive benchmark of student ability and how effective the methods are given to students could be executed.

Keyword : Authentic assesment, learning evaluation

A.    PENDAHULUAN

             Dewasa ini paradigma pendidikan di Indonesia sudah semakin berkembang dari pendekatan tradisional dimana siswa hanyalah sebagai objek pendidikan, kurang aktif di dalam prosesnya dan gurulah yang menjadi center utama dalam pembelajaran, menjadi pendekatan yang lebih modern yang berpusat kepada siswa. Dalam pendekatan ini, siswa aktif merekontruksi pengetahuan yang dimilikinya sedangkan guru hanyalah sebagai fasilitator untuk mengembangkan kemampuan.

            Di dalam pendekatan tradisional, pendidikan ditekankan pada penguasaan dan manipulasi isi. Para siswa hanya menghafalkan fakta, angka, nama, tanggal tempat, dan kejadian. Dimana mereka memperlajari mata pelajaran secara terpisah satu sama lain, mereka juga hanya dilatih dengan cara yang sama untuk memperoleh kemampuan dasar menulis dan berhitung (Johnson, 2009). Siswa seolah hanya menjadi cawan penerima ilmu dari pihak luar sehingga model penilaian yang dilakukan terkesan sangat sederhana dan hanya menekankan pada aspek-aspek yang dangkal dari kognitif.

            Sekarang para pakar pendidikan, orang tua, ataupun masyarakat secara luas mulai menyadari bahwa pendidikan tidaklah cukup hanya dengan model tradisional seperti itu. Mereka mulai mempertanyakan tentang manfaat sekolah terhadap siswa, apalah artinya ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah jika pada akhirnya tidak bisa diaplikasikan ke dalam dunia nyata atau ketika siswa dihadapkan pada masalah-masalah yang membutuhkan keterampilan tertentu untuk menyelesaikan masalah. Jika siswa hanya tau dan hafal, namun tidak bisa mengaplikasikan pengetahuan yang didapatkan untuk menyelesaikan masalah, maka fungsi pengetahuan belumlah tercapai sepenuhnya. Oleh karena itulah, paradigma pendidikan pada akhirnya sekamin bergeser kepada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap maksud dalam materi akademis yang mereka terima, mampu mengkaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya serta mampu mengaplikasikannya ke dalam dunia nyata.

           Banyak para pakar yang mencoba merumuskan bagaimana metode yang tepat dalam pendidikan terutama yang berpusat kepada siswa. Sebut saja metode-metode seperti pembelajaran berbasis kooperatif, kolaboratif, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kontekstual dan model lainnya. Metode-metode tersebut dikembangkan agar siswa semakin aktif mencari dan memaknai pengetahuan dalam proses pembelajaran, dan mampu mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya kedalam situasi yang lebih rill.

            Faktanya sekarang, banyak sekolah yang sudah menerapkan metode pemelajaran tingkat tinggi yang mengajak siswa untuk lebih aktif mencari pengetahuan dan mengembangkannya. Siswa banyak diarahkan tidak hanya untuk berfikir analisis, tetapi juga kreatif dan mampu mengaplikasikannya ke dalam dunia nyata. Dari level paling bawah hingga universitaspun sudah mengarahkan level pembelajaran kearah yang lebih canggih. Banyak lahir sekolah-sekolah yang berwawasan teknologi (IT), sekolah akselerasi atau percepatan, sekolah internasional, montessori, home schooling, dan jenis lainnya yang tujuannya adalah untuk lebih mengoptimalkan kemampuan siswa.

            Di dalam proses belajar belajar yang dilakukan di sekolah-sekolah tersebut tentu saja tidaklah terlepas dari adanya evaluasi hasil belajar. Dimana, Evaluasi menurut Tyler (1950; Arikunto, 2001) merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan tercapai. Dalam arti luas evaluasi diartikan sebagai suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang tepat untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (Mehrens & Lehmann, 1978 dalam Purwanto, 2006). Oleh karena itulah, evaluasi sangat dibutuhkan untuk meninjau sejauh mana metode yang digunakan efektif, dan sejauh mana siswa mampu menyerap pembelajaran yang diberikan.

          Berkembangnya metode dalam pendidikan tentu saja sejalan dengan berkembangnya sistem evaluasi di dalam pendidikan dan pembelajaran itu sendiri. Namun sampai sekarang masih banyak sekolah-sekolah yang terlalu kaku dan tradisional dalam menerapkan sistem evaluasi kepada siswa. Siswa terkadang hanya dihadapkan pada sesuatu yang hanya bersifat fakta, dengan jawaban-jawaban pendek atau pertanyaan pilihan ganda. Model seperti ini, sistem evaluasi seolah terpisah dengan pembelajaran dan pengaplikasiannya pada kondisi rill.

        Siswa hanya dinilai pada sejumlah tugas terbatas yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan dikelas, menilai dalam situasi yang telah ditentukan sebelumnya dimana kandungannya sudah ditetapkan, seolah hanya menilai prestasi, jarang memberi sarana untuk menilai kemampuan siswa memonitor pembelajaran mereka sendiri bahkan jarang memasukan soal-soal yang menilai respon emotional terhadap pengajaran (Santrock, 2007). Hal ini pada dasarnya terlalu menyerderhanakan kapasitas siswa selaku pembelajar karena potensi-potensi yang dimiliki oleh siswa tidak mampu sepenuhnya diungkap, apalagi jika penilaian hanya terbatas pada pengungkapan aspek-aspek yang dangkal seperti pengetahuan level dasar, hanya mengandalkan memori semata atau metode penilaian yang sangat terbatas.

         Pada dasarnya, suatu sistem penilaian yang baik adalah tidak hanya mengukur apa yang hendak di ukur, namun juga dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa agar lebih bertanggungjawab atas apa yang mereka pelajari, sehingga penilaian menjadi bagian integral dari pengalaman pembelajaran dan melekatkan aktivitas autentik yang dilakukan oleh siswa yang dikenali dan distimulasi oleh kemampuan siswa untuk menciptakan atau mengaplikasikan  pengetahuan yang mereka dapat di ranah yang lebih luas dari pada hanya menguji memori atau kemampuan dasar saja (Earl&Cousins, 1995; Stiggins, 1996 dalam Hargreaves, dkk, 2001).

        Oleh karena itulah, sistem evaluasi belajarpun mulai berkembang dari sistem yang bersifat tradisional menjadi sistem penilaian yang lebih autentik (authentic assessment). Autentic assessment dianggap mampu untuk lebih mengukur secara keseluruhan hasil belajar dari siswa karena penilaian ini menilai kemajuan belajar bukan melulu hasil tetapi juga proses dan dengan berbagai cara. Dengan kata lain sistem penilaian seperti ini dianggap lebih adil untuk siswa sebagai pembelajar, karena setiap jerih payah yang siswa hasilkan akan lebih dihargai (Sudrajat, 2007). Gulikers, Bastiaens & Kirschner (2004) menjelaskan bahwa authentic assesment menuntut siswa untuk menggunakan kompetensi yang sama atau mengkombinasikan pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang dapat mereka aplikasikan pada kriteria situasi dalam kehidupan professional.

             Penilaian autentik berarti mengevaluasi pengetahuan atau keahlian siswa dalam konteks yang mendekati dunia rill atau kehidupan nyata sedekat mungkin (Pokey & Siders, 2001 dalam Santrock, 2007), muncul dikarenakan penilaian tradisional yang sering kali mengabaikan konteks dunia nyata (Santrock, 2007). Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian ini merupakan alat bagi sekolah yang maju, yang tahu dengan jelas apa yang diharapkan dari siswa dan tahu dengan jelas bagaimana mereka mewujudkan kualitas tersebut (Sizer, 1992 dalam Johnson, 2009). Sedangkan Johnson (2009) menjelaskan bahwa authentic assesment berfokus kepada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung, mengharuskan membangun, keterkaitan dan kerja sama, dan menanamkan tingkat berfikir yang lebih tinggi, karena tugas-tugas yang diberikan di dalam penilaian autentik mengharuskan penggunaan strategi-strategi tersebut, maka para siswa bisa menunjukan penguasaannya terhadap tujuan dan kedalaman pemahamannya, dan pada saat yang bersamaan meningkatkan pemahaman dan perbaikan diri.

           Penggunaan penilaian autentik sebagai evaluasi hasil pembelajaran siswa di sekolah merupakan suatu solusi yang bisa ditawarkan untuk melihat sejauh mana pembelajaran yang dilakukan berjalan dengan efektif. Di kedua sisi ini adalah sesuatu yang menguntungkan baik bagi siswa itu sendiri maupun pihak guru atau sekolah. Manfaat bagi siswa adalah dapat mengungkapkan secara total seberapa baik pemahaman materi akademik mereka, mengungkapkan dan memperkuat penguasaan kompetensi mereka, seperti mengumpulkan informasi, menggunakan sumber daya, menangani teknologi dan berfikir sistematis, menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka sendiri, dunia mereka dan masyarakat luas, mempertajam keahlian berfikir dalam tingkatan yang lebih tinggi saat mereka menganalisis, memadukan, dan mengidentifikasi masalah, menciptakan solusi dan mengikuti hubungan sebab akibat, Menerima tanggung jawab dan membuat pilihan, berhugungan dan kerja sama dengan orang lain dalam membuat tugas, dan belajar mengevaluasi tingkat prestasi sendiri (Newmann & Wehlage, 1993 dalam Jonshon, 2009).

             Sedangkan bagi guru penilaian autentik bisa menjadi tolak ukur yang komprehensif mengenai kemampuan siswa dan seberapa efektif metode yang diberikan kepada siswa bisa dijalankan. Oleh karena itulah, penerapan authentic assessment  sebagai alat evaluasi hasil belajar di sekolah-sekolah ataupun level universitas penting untuk diperhatikan agar siswa tidak hanya sekedar menjadi pembelajar saja, namun pada akhirnya pencapaian prestasi diikuti dengan kemampuan mengaplikasikan kemampuan yang dimilikinya kedalam dunia nyata.

B. TINJAUAN PUSTAKA

Authentic Assesment

1.      Pengertian Authentic Assesment

Beberapa ahli menyamakan authentic assesment dengan performance assessment (Hart, 1994; Torranca, 1995 dalam Gulikers, Bastiaens & Kirschner, 2004). Penilaian yang mencakup apa-apa yang umumnya dianggap sebagai kinerja aktual siswa yang didesain untuk mengevaluasi apa yang diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa (Solano-Fores & Shavelson, 1997; Maki, 2001; Moon & Moon & Callahan, 2001 dalam Santrock, 2007)

 Pandangan lain menyebutkan bahwa authentic assesment berdasarkan pada nilai yang realistik dari tugas dan kontek (Herrington & Herrington, 1998 dalam Gulikers, Bastiaens & Kirschner, 2004). Lang (2006) menyatakan bahwa authentic assesment fokus pada aplikasi siswa terhadap pengetahuan mereka, mendapatkan kembali informasi dari berbagai sumber, mengintegrasikan dengan baik argumen untuk mendukung ide, menciptakan pekerjaan dari seni atau musik untuk menyungguhkan presentasi yang baik, atau mendesain dan menyelesaikan ekperimen untuk membutktikan hipotesis. Penilaian autentik melibatkan kehati-hatian pengujian dari suatu produk dan kinerja dimana guru membantu siswa belajar mengkritik tugas-tugas yang mereka hasilkan. Sehingga penilaian autentik menjadi sesuatu metode yang penting untuk mengetahui apa yang siswa telah pelajari dan ketahui.

Gulikers, Bastiaens & Kirschner (2004) menjelaskan bahwa authentic assesment menuntut siswa untuk menggunakan kompetensi yang sama atau mengkombinasikan pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang dapat mereka aplikasikan pada kriteria situasi dalam kehidupan profesional. Corebima (2005) menyatakan bahwa penilaian dikatakan autentik jika sangat mendekati hasil pendidikan sains yang diinginkan, melibatkan siswa pada tugas-tugas yang bermanfaat, penting, dan bermakna serta  mampu menantang siswa menerapkan informasi atau keterampilan akademik baru pada situasi nyata untuk maksud yang jelas. Penilaian autentik seharusnya mampu mengukur perbuatan atau penampilan yang sebenarnya pada suatu mata pelajaran. Dimana karakteristik penilaian autentik adalah merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran di kelas, cerminan dunia nyata, menggunakan banyak ukuran, metode dan kriteria, serta bersifat komprehensif dan holistik.

Penilaian autentik berarti mengevaluasi pengetahuan atau keahlian siswa dalam konteks yang mendekati dunia rill atau kehidupan nyata sedekat mungkin (Pokey & Siders, 2001 dalam Santrock, 2007), muncul dikarenakan penilaian tradisional yang sering kali mengabaikan konteks dunia nyata (Santrock, 2007). Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian ini merupakan alat bagi sekolah yang maju, yang tahu dengan jelas apa yang diharapkan dari siswa dan tahu dengan jelas bagaimana mereka mewujudkan kualitas tersebut (Sizer, 1992 dalam Johnson, 2009). Burley & Price (2003) menjelaskan bahwa authentic assesment yang sebenarnya fokus kepada analisis, integrasi, kreativitas, dan eksperi tulisan dan lisan, selain juga melibatkan pengobservasian pengalaman siswa yang bermakna. Johnson (2009) menjelaskan bahwa authentic assesment berfokus kepada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung, mengharuskan membangun, keterkaitan dan kerja sama, dan menanamkan tingkat berfikir yang lebih tinggi, karena tugas-tugas yang diberikan di dalam penilaian autentik mengharuskan penggunaan strategi-strategi tersebut, maka para siswa bisa menunjukan penguasaannya terhadap tujuan dan kedalaman pemahamannya, dan pada saat yang bersamaan meningkatkan pemahaman dan perbaikan diri.

 Authentic assesment mengajak para siswa untuk menggunakan pengetahuan akademik dalam konteks dunia nyata untuk tujuan yang bermakna. Oleh karena itulah, penilaian yang autentik merefleksikan sebuah komitmen yang bergerak ke luar dari kuantitas pembelajaran menuju kualitas pembelajaran; yakni, dengan mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang lebih kuat dan memperluas tentang definisi kita tentang pembelajaran. Penilaian yang akurat teradap pembelajar adalah merupakan gabungan dari dua hal yaitu sebagian berupa sains, dan sebagian lagi seni (Jensen, 2008).

Servey dan Duffy (1995 dalam Gulikers, Bastiaens & Kirschner, 2004) menjelaskan autentik assessment serupa dengan tuntutan kognitif atau keperluan kognitif itu sendiri. Suatu penilaian yang berdasarkan kriteria situasi sebagai dasar penilaian. Kriteria situasi itu menggambarkan atau stimulasi dari situasi nyata yang menghadapkan siswa dalam masa latihan untuk mendapatkan keahlian atau kehidupan masa depan yang profesional. Dimana Van Merrienboer, 1997 (2000, dalam  Gulikers, Bastiaens & Kirschner, 2004) percaya bahwa siswa membutuhkan sesuatu untuk membangun kompetensi dirinya dikarenakan tuntutan kehidupan nyata adalah kemampuan untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan pengetahuan, kemampuan, dan sikap  serta kapasitas untuk mengaplikasikannya kepada situasi-situasi yang baru. Sehingga Birenbaum (1996 dalam Gulikers, Bastiaens & Kirschner, 2004) mengatakan bahwa kompetensi tidak hanya membangun kemampuan kognitif saja seperti penyelesaian masalah dan berfikir kritis tetapi juga kemampuan meta kognitif seperti refleksi dan sosial kompetensi (komunikasi dan kolaborasi).

Authentic assessment  sangat berbeda dengan pendekatan tradisional di dalam sebuah penilaian. Untuk lebih memahami authentic assessment dan perbedaannya dengan penilaian tradisional maka dapat dijelaskan dalam tabel berikut (Santrock, 2007) :

Tabel 1. Perbedaan Tes Tradisional dan  Authentic Assessmen

Tes Tradisional

Authentic assessmen

-        Memisahkan pembelajaran, testing, dan pengajaran-        Tidak menilai dampak pengetahuan sebelumnya terhadap pembelajaran karena hanya menggunakan soal yang terisolasi dan kurang familiar-        Membutuhkan materi yang membutuhkan informasi literal

-        Melarang kolaborasi atau kerja sama dalam proses penilaian

-        Sering memperlakukan keahlian dalam konteks terpisah dalam rangka menentukan prestasi untuk tujuan pelaporan

-        Menilai murid pada sejumlah tugas terbatas yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan murid di kelas.

-        Menilai siswa dalam situasi yang telah ditentukan sebelumnya dimana kandungannya sudah ditetapkan

-        Hanya menilai prestasi

-        Jarang memberi sarana untuk menilai kemampuan murid memonitor pembelajaran mereka sendiri.

-        Jarang memasukan soal-soal yang menilai respon emotional terhadap pembelajaran.

-        Mengaitkan penilaian dan pengajaran dengan pembelajaran.-        Mempertimbangan arti penting dari pengetahuan murid sebelumnya sebagai determinan sebagai determinan kritis bagi pembelajaran dengan menggunakan aktivitas penilaian autentik-        Memberi kesempatan untuk menunjukan pemikiran inferensial dan kritis yang esensial untuk mengkonstruksi makna.

-        Merepresentasikan pendekatan kolaboratif terhadap penilaian yang melibatkan murid dan guru.

-        Menggunakan banyak aktivitas sembari menyadari bahwa pembelajaran membutuhkan integerasi dan koordinasi keahlian komunikasi.

-        Merepresentasikan beragam aktivitas instruksional yang dilakukan murid di kelas.

-        Dapat mengukur kemampuan murid untuk bekerja dalam situasi tidak terduga.

-        Mengukur setiap prestasi murid dengan memperhatikan perbedaan individual

-        Memperhatikan peningkatan, upaya, dan prestasi.

-        Mengimplementasikan penilaian diri dengan menyuruh murid memantau pembelajaran mereka sendiri.

-        Melibatkan murid dalam penilaian kemauan mereka dan atau prestasi mereka dan menentukan tujuan pembelajaran yang berkesinambungan

-        Memberi kesempatan untuk merefleksikan perasaan tentang pembelajaran

Oleh karena itulah, dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa authentic assesment adalah suatu prosedur penilaian yang didesain untuk mengevaluasi apa yang diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa, menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Karakteristik utamanya adalah merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran di kelas, cerminan dunia nyata, menggunakan banyak ukuran, metode dan kriteria, serta bersifat komprehensif dan holistik. Authentic assesment berfokus kepada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung, mengharuskan membangun, keterkaitan dan kerja sama, dan menanamkan tingkat berfikir yang lebih tinggi. Merupakan suatu penilaian yang berdasarkan kriteria situasi sebagai dasar penilaian yang mana kriteria situasi itu menggambarkan atau stimulasi dari situasi nyata yang menghadapkan siswa dalam masa latihan untuk mendapatkan keahlian atau kehidupan masa depan yang profesional.

2. Lima Dimensi Kerangka Authentic Assessment

a. The Assesment Task

            Tugas yang autentik adalah suatu tugas masalah yang dapat menghadapkan siswa dengan aktivitas yang dilaksanakan dalam praktik profesional. Tugas yang autentik menyerupai tugas dengan kriteria tertentu dan respek untuk  mengintegrasikan pengetahuan, kemampuan, sikap yang dimiliki oleh siswa. Sesuatu yang dapat diterima siswa, representatif, relevan, dan bermakna (Gulikers, Bastiaens & Kirschner 2004).

            Tugas-tugas yang diberikan dalam penilaian autentik memang berdasarkan kriteria tertntu, nanun tidak berarti tugas yang diberikan harus sangat komplek bagi siswa. Mungkin, satu waktu tugas yang diberikan akan komplek dan membutuhkan hubungan dengan banyak multi displin ilmu untuk menyelesaikan masalah, namun masalah kehidupan nyata bisa saja sangat sederhana dan hanya membutuhkan satu disiplin ilmu saja untuk menyelesaikannya (Herrington & Herrington, 1998; Kirschner, 2002; Wiggins, 1993 dalam Gulikers, Bastiaens & Kirschner, 2004).

            Tugas yang autentik seharusnya menampilkan dimensi objek yang wajar dan baik. Hal yang sangat penting dipertimbangkan dalam memberikan tugas yang autentik ini adalah; a) siswa mampu menghubungkan situasi dalam kondisi nyata atau kondisi pekerjaan; dan b) dan bernilai transferable skill (dapat dibagikan) (Sambell, McDowell & Brown, 1997 dalam Gulikers, Bastiaens & Kirschner 2004).

b. The Physical Context

Gambaran sederhana tentang konteks fisikal di dalam authentic assesment adalah misalkan seorang instruktur ingin mengukur secara autentik seorang auto mekanik dari militer. Mungkin seorang prajurit akan menemukan permasalahan pada mobil jeep dan dia dapat memperbaikinya di dalam garasi yang bersih dengan semua peralatan yang bisa membantunya untuk memperbaikinya. Namun, bisa saja suatu saat, pada konteks yang lebih nyata di lapangan, mobil tersebut tidaklah diperbaiki di garasi yang berisi peralatan lengkap namun pada kondisi perang, cuaca yang tidak bersahabat, dan tidak tersedianya peralatan lengkap. Oleh karena itulah, jika tugas itu adalah tugas yang autentik, maka walaupun dalam kondisi yang berbeda ia dapat menggunakan kompetensinya termasuk di dalam kondisi yang sebenarnya (tidak dalam kondisi latihan).

 Konteks secara fisikal di dalam authentic assesment harus menggambarkan jalan pengetahuan, kemampuan, sikap yang akan digunakan di dalam praktek professional (Brown, dkk., 1989; Herrington & Oliver, 2000 dalam Gulikers, Bastiaens & Kirschner, 2004). Selain juga mempertimbangkan jumlah dan jenis sumber daya yang tersedia dalam melaksakan tugas.

Hal lain yang juga dianggap penting di dalam physical context adalah perkiraan waktu yang diberikan kepada siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya. Jika tes tradisonal secara normal dilakukan dalam satu atau dua jam, namun dalam tugas autentik haruslah lebih dipertimbangkan.  Dalam dunia nyata, bisa saja para pekerja atau professional membutuhkan banyak waktu atau bahkan sepanjang hari dalam mengerjakan satu tugas tertentu tapi dalam tugas lainnya bisa saja ia hanya membutuhkan reaksi yang cepat dalam beberapa detik. Oleh karena itulah, physical context dalam penilaian autentik harus disesuaikan dengan kriteria situasi yang ada.

c. The Social Context

            Di dalam authentic assesment, selain juga memperhatikan konteks fisik juga harus memperhatikan kontek sosial, dalam artian tugas yang diberikan juga mempertimbangkan proses sosial yang ada di konteks kehidupan nyata.

            Selain itu pemberian tugas juga harus melihat apakah membutuhkan pengerjaan secara individual ataukah secara kelompok (kolaborasi). Jika situasi nyata menuntut sebuah kolaborasi maka assessment haruslah dilakukan dengan kolaborasi, namun sebaliknya jika situasi secara normal dapat diatasi secara individual, maka assessment yang dilakukan juga secara individual. Jika assessment diadakan secara kolaborasi maka di dalamnya akan terjadi interaksi sosial, ketergantungan yang positif antar sesama individu, dan masing-masing individu akan memberikan kontribusinya untuk penyelesaian masalah. Sedangkan jika assesment dilakukan secara individual konteks sosial harus memberikan stimulasi beberapa kompetensi kepada pembelajar (Gulikers, Bastiaens & Kirschner 2004).

d. The Assessment Result or Form

Hasil dari assessment dapat dikaji melalui empat element yaitu; a) performance atau hasil produk yang siswa dapat hasilkan untuk menjawab permasalahan dalam konteks dunia nyata; b) produk atau performance tersebut harus bisa didemonstrasikan dengan kesimpulan yang valid berdasarkan kompetensi; c) melibatkan banyak indikator untuk  mendapatkan kesemipulan yang baik; d) dan hasilnya dapat ditunjukan atau dipresentasikan kepada orang lain untuk melihat keasliannya (Gulikers, Bastiaens & Kirschner,  2004)

e. The Assesment Criteria

Kriteria adalah hasil assessment yang nantinya akan diberi nilai oleh guru. Merupakan sesuatu yang penting untuk diberitahukan kepada siswa agar mereka memiliki panduan dan memenuhi standar dalam mengerjakan tugas yang autentik. Selain itu, kriteria juga menjadi sumber membuat keputusan tentang tugas siswa (berhasil atau tidak berhasil) (Gulikers, Bastiaens & Kirschner, 2004).

3.      Prosedur Untuk Merancang Authentic Assesment

Sudrajat (2007) menjelaskan bahwa karakteristik penilaian autentik yang utama adalah dilaksanakan  selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang diukur keterampilan dan performansi bukan mengingat fakta, berkesinambungan, terintrgrasi, dan dapat digunakan sebagai feed back.

Lewin & Shoemaker (1998 dalam Johnson (2009) menjelaskan bahwa untuk merancang penilaian autentik hendaklah memperhatikan beberapa prosedur berikut:

-        Jelaskan dengan tepat apa yang harus diketahui dan bisa dikerjakan oleh para siswa. Beritahukan kepada mereka standar yang harus dipenuhi

-        Hubungkan pelajaran akademik dengan konteks dunia nyata dengan cara penuh makna, atau lakukan stimulasi dengan konteks dunia nyata yang penuh makna.

-        Tugaskan para siswa untuk menunjukan apa yang bisa mereka lakukan dengan apa yang mereka ketahui, untuk memperhatikan keterampilan dan kedalaman pengetahuan mereka, dengan memproduksi hasil-contohnya, produk nyata, presentasi, dan koleksi hasil tugas

-        Putuskan tingkat penguasaan yang harus tercapai

-        Tampilkan tingkat penguasaan tersebut dalam sebuah rubrik, yaitu dalam bentuk pedoman penilaian yang dilengkapi dengan kriteria.

-        Biasakan para siswa dengan rubric tersebut. Ajak para siswa untuk terus menerus melakukan penilaian diri saat mereka meilai kerja mereka sendiri

-        Libatkan sekelompok orang lain selain guru untuk menanggapi penilaian ini

4. Evaluasi Belajar

1.      Pengertian Evaluasi Hasil Belajar

Evaluasi dalam istilahnya terkadang disamakan dengan penilaian. Dimana menurut Tyler (1950 dalam Arikunto: 2001) merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan tercapai. Dalam arti luas evaluasi diartikan sebagai suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang tepat untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (Mehrens & Lehmann, 1978 dalam Purwanto, 2006). Sesuai dengan pengertian tersebut maka setiap kegiatan evaluasi merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data dan berdasarkan data tersebut kemudian dicoba untuk membuat keputusan (Purwanto, 2006).

Dalam hubungannya dengan pengajaran Gronlund (1976 dalam Purwanto, 2006) merumuskan evaluasi sebagai proses sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa. Sedangkan Wrightsone, dkk (1956 dalam Purwanto, 2006) menyebutkan bahwa evaluasi adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa kearah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetakan di dalam kurikulum.

Untuk mengadakan evaluasi hasil belajar siswa, maka harus ada proses-proses penilaian terlebih dahulu. Dimana Arikunto (2001) menjelaskan bahwa penilaian mempunyai makna ditinjau dari berbagai segi yaitu:

  • Makna Bagi Siswa

Dengan diadakannya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh siswa dari perkerjaan menilai ini adalah dua kemungkinan yaitu memuaskan dan tidak memuaskan dimana tentu saja masing-masing kemungkinan tersebut mempunyai konsekuensi kepada siswa.

  • Makna Bagi Guru

Dengan hasil penilaian yang diperoleh oleh guru akan dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan, maupun mengetahui siswa-siswa yang belum berhasil menguasai bahan. Dengan petunjuk ini, guru dapat lebih memusatkan perhatiannya kepada siswa yang belum berhasil. Apalagi jika guru tahu akan sebab-sebabnya, ia akan memberikan perhatian yang memusat dan memberikan perlakuan yang lebih teliti sehingga keberhasilan selanjutnya dapat diharapkan.

      Guru juga akan mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran di waktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.

      Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika sebagian besar dari siswa memperoleh angka jelek pada penilaian yang diadakan, mungkin hal ini disebabkan oleh pendekatan atau metode yang kurang tepat. Apabila demikian halnya, maka guru harus mawas diri dan mencoba untuk mencari cara lain untuk mengajar

  • Makna Bagi Sekolah

Hasil penilaian merupakan cerminan dari kualitas sekolah secara keseluruhan, apakah kondisi yang belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dengan apa yang diharapkan ataukah masih jauh dari tujuan.

      Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah, dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang akan datang. Sehingga informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ketahun, dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah untuk memenuhi standar ataukah belum. Pemenuhan standar salah satunya akan terlihat dari perolehan nilai yang dipatkan oleh siswa.

2. Fungsi Evaluasi Hasil Belajar

Purwanto (2006) menjelaskan bahwa fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran dapat dikelompokan menjadi empat fungsi yaitu:

  1. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi normatif) atau untuk mengisi rapor atau surat tanda kelulusan, yang berarti pula untuk menentukan kenaikan kelas atau lulus-tidaknya seorang siswa dari suatu lembaga tertentu (fungsi sumatif).
  2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Kompenen-komponen yang dimaksud antara lain adalah tujuan, materi, atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar mengajar, alat dan sumber pelajaran, dan prosedur serta alat evaluasi. Dihubungkan dengan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksi Nasional) sebagai salah satu strategi pengembangan program pengajaran, kedudukan dan fungsi evaluasi dapat digambarkan dengan bagan sebagai berikut.
  3. Untuk keperluan Bimbingan dan Konseling, dimana hasil-hasil evaluasi yang telah dilaksankan leh guru terhadap siswanya dapat dijadikan sumber informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah atau guru pembimbing lainnya seperti:   Membuat diagnosis mengenai kelemahan-kelemahan dan kekuatan atau kemampuan siswa, Untuk mengetahui dalam hal-hal apa seseorang atau kelompok siswa memerlukan layanan perbaikan nilai, Sebagai dasar menangani kasus-kasus tertentu diantara siswa, Sebagai acuan dalam melayani kebutuhan-kebutuhan siswa dalam bimbingan karier, Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan. Seorang guru yang dinamis tidak akan begitu saja mengikuti apa yang tertera di dalam kurikulum, ia akan selalu berusaha untuk menentukan dan memilih materi-materi mana yang sesuai dengan kondisi siswa dan situasi lingkungan serta perkembangan masyarakat saat itu. Evaluasi secara luas merupakan acuan dasar untuk mengetahui hal tersebut.

3.   Ciri Program Evaluasi yang Baik

Dressel (Purwanto, 2006) menjelaskan bahwa evaluasi itu akan efektif jika dapat membuktikan sampai dimana perubahan itu terjadi di dalam diri siswa, akan berguna (kondusif) bagi pembelajaran jika ia mendorong dan membangkitkan siswa untuk mengevaluasi diri (self evaluation), berguna bagi pengajaran jika hasilnya dapat mengemukakan tipe-tipe pokok dari tingkah laku yang tidak sesuai dan sebab-sebab mendukungnya, mampu bermakna jika di dalam belajar ia memungkinkan dan mendorong latihan atas inisiatif individu, dan kegiatan-kegiatan dan latihan-latihan yang dikembangkan untuk tujuan pengevaluasian tingkah laku tertentu juga berguna bagi mengajar dan belajar tingkah laku tersebut. Purwanto (2006) menjelaskan ciri-ciri program evaluasi yang baik yaitu:

a. Desain atau rancangan program evaluasi yang komprehensif . Tujuan-tujuan umum yang akan dinilai hendaknya mencakup tidak hanya konsep, keterampilan, dan pengetahuan, tetapi juga apresiasi, sikap, minat, pemikiran kritis, dan penyesuaian diri yang bersifat personal dan sosial. Suatu desain evaluasi dikatakan komprehensif jika ia mencakup nilai-nilai dan tujuan-tujuan pokok yang akan dicapai oleh sekolah itu bagi setiap individu siswa. Guru-guru harus melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing pertumbuhan dan perkembangan anak tidak hanya dalam hal pengetahuan-pengetahuan akademis, tetapi juga dalam hal menyangkut pertumbuhan kepribadian siswa seperti minat, sikap, apresiasi, dan penyesuaiannya secara emosional dan sosial. Dengan kata lain, guru sebagai pendidik hendaknya memfokuskan tugasnya terhadap anak didik sebagai keseluruhan pribadi intelektual, mental, emosional, dan sosial. Tentu saja, untuk menilai aspek-aspek yang bersifat komprehensif dari suatu individu tidaklah mudah. Untuk itu diperlukan bermacam-macam alat evaluasi yang sesuai bagi setiap aspek yang akan dinilai disertai kemampuan dan kecakapan guru dalam melaksanakan alat evaluasi itu (Purwanto, 2006).

b. Perubahan-perubahan tingkah laku individu harus mendasari penilaian pertumbuhan dan perkembangannya

Tingkah laku total dari suatu individu-intelektual, fisik, emosional, dan sosial harus menjadi perhatian guru dalam setiap situasi belajar. Jika siswa belajar berhitung, atau IPA, atau sejarah, atau pelajaran apa saja, dia pada saat itu juga belajar mengubah sikap, mengembangkan minat, dan membuat penyesuaian secara emosional maupun sosial. Jika siswa merasa kecewa karena tugas-tugas yang terlalu sukar, atau jika ia bosan terhadap tugas-tugas yang terlalu mudah, maka sikapnya serta penyesuaian emosional dan sosialnya akan tampak menolak atau membenci, dan selanjutnya memperngaruhi situasi belajarnya.

Oleh karena itu, guru harus tetap menyadari bermacan-macam aspek dari tingkah laku murid meskipun tujuan pokok dari pengalaman belajar itu mungkin untuk menguasai dalil-dalil yang diperlukan dalam pemecahan soal kimia misalnya. Tiap-tiap situasi belajar mencakup multiple learning yang menyangkut tidak hanya konsep-konsep intektual dan skills, tetapi juga penyesuaian fisik, emosional, dan sosial. Oleh sebab itu, tingkah laku total dari seorang siswa dalam tingkat tertentu dipengaruhi oleh pengalaman belajarnya. Sehingga jika suatu kurikulum direncanakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang luas, ini berarti pula bahwa tingkah lau siswa harus dievaluasi menurut tujuan dan nilai-nilai yang luas pula seperti yang dimaksud dalam kurikulum tersebut (Purwanto, 2006).

c.  Hasil-hasil evaluasi harus disusun dan dikelompok-kelompokan sedemikian rupa sehingga memudahkan interpretasi yang berarti. Hasil-hasil kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh dari program evaluasi harus disimpulkan dalam pola penskoran yang jelas, secara statistik, grafik ataupun secara verbal, sehingga dari data evaluasi itu gambaran atau lukisan individu dapat dilihat dan dipahami dengan mudah, dan dapat dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Dengan demikian, dapat dilihat bagaimana atau kearah mana perkembangan individu tersebut. Di dalam interpretasi ini hendaknya dilihat pula bagaimana hubungan antara skor-skor yang diperoleh siswa dalam tes-tes, dengan catatan-catatan kualitatif yang dibuat guru (anecdotal guru) tentang anak tersebut, sehingga dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan total siswa tersebut dapat dibimbing sebaik-baiknya. Hal ini berarti pula data tentang kesehatan fisik, penyesuaian emosional dan sosial, minat-minatnya, sikapnya, dan hasil-hasil tes prestasi dari berbagai mata pelajaran tidak dipisahkan satu sama lain, tetapi harus dikorelasikan dan diintegrasikan ke dalam deskripsi yang merupakan kesatuan atau kebulatan dari individu (Purwanto, 2006).

d. Program evaluasi haruslah berkesinambungan dan saling berkaitan (interrelated) dengan kurikulum

Di sekolah-sekolah modern, evaluasi dipandang sebagai suatu proses yang berkesinambungan, dilakukan terus-menerus. Observasi, penilaian, dan tes-tes yang dilakukan dari hari-ke kari hendaknya direncanakan secara teratur sehingga guru dapat benar-benar mengevaluasi dan membimbing pertumbuhan siswa secara positif. Konsep ini berbeda dengan konsep tradisional yang memandang atau mengganggap tes itu adalah sebagai hasil akhir, dan bukan sebagai suatu alat untuk membimbing pertumbuhan. Suatu program evaluasi haruslah erat berkaitan dengan kurikulum sekolah karena ia merupakan bagian integral dengan pembimbingan pengalaman-pengalaman belajar siswa. Dengan kata lain, tercapai tidaknya tujuan-tujuan kurikulum itu tercermin di dalam hasil-hasil penilaian terhadap pencapaian belajar dan perubahan-perubahan tingkah laku pada murid-murid. Dengan demikian, program evaluasi menjadi berarti tidak hanya untuk membimbing pertumbuhan siswa, tetapi juga bagi pembinaan dan perkembangan kurikulum serta metode-metode yang sesuai (Purwanto, 2006).

4. Pemberian Nilai dalam Evaluasi Hasil Belajar Siswa

            Masalah yang sering kali menjadi perdebatan dikalangan ahli pengukuran adalah dengan cara dan bagaimanakah nilai diberikan kepada siswa dari hasil belajar siswa, karena dengan pemberian nilai kepada siswa merupakan suatu alat komunikasi baik kepada siswa itu sendiri, guru, orang tua atau lembaga sejauh mana ia berhasil dalam pembelajaran. Dengan melihat nilai yang ada di rapot misalkan, seseorang akan tahu ia termasuk kategori berhasil ataukah gagal.

            Pemberian penilaian kepada siswa bisa dibedakan menjadi dua fungsi yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feed back), yang selanjutnya hasil penilaan tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar yang sedang atau sudah dilaksanakan. Jadi, sebenarnya penilaian formatif itu tidak hanya dilakukan pada tiap akhir pelajaran, tetapi juga ketika pelajaran sedang berlangsung. Sedangkan penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu. Adupun fungsi dan tujuannya ialah untuk menentukan apakah dengan nilai yang diperolehnya itu, siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak. Pengertian lulus dan tidak lulus ini berarti dapat tidaknya siswa melanjutkan ke modul berikutnya; dapat tidaknya seorang siswa mengikuti pelajaran pada semester berikutnya; dapat tidaknya seorang siswa dinaikan ke kelas yang lebih tinggi; dapat tidaknya seorang siswa dinyatakan lulus atau tamat dari sekolah yang bersangkutan, atau dapat tidaknya seorang siswa diterima di sekolah yang lebih tinggi (Purwanto, 2006).

            Pemberian nilai (grading) merupakan proses penerjemahan skor hasil tes yang telah dikonversikan, ke dalam klasifikasi evaluatif menurut norma atau kriteria yang relevan. Klasifikasi evaluatif maksudnya adalah penggolongan nilai ke dalam tingkat atau jenjang yang punya arti seperti baik-buruk, tinggi-sedang-rendah, memuaskan ataupun tidak memuaskan. Penilaian terhadap hasil belajar dapat digolongkan ke dalam dua pendekatan, yaitu penilaian yang mengacu kepada suatu kriteria (criterion-referenced evaluation) dan penilaian yang mengacu kepada norma (norm-referenced evaluation (Azwar, 2007).

             Penilaian mengacu kepada ktiteria hendaknya digunakan pada hasil suatu tes yang memang disusun dengan prosedur mengacu kepada krtreria. Dalam penyusunan tes seperti ini, batasan yang jelas dan definitif mengenai kawasan kecakapan yang hendak diukur mutlak diperlukan. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa banyak bahan atau materi yang telah dikuasai oleh subjek dimana validitas isi sangat penting artinya dalam hal ini. Sedangkan penilaian mengacu kepada norma digunakan pada tes yang disusun untuk menempatkan individu secara relatif dalam kelompoknya. Batasan kawasan kecakapan memang perlu akan tetapi tidak sepenting arti parameter–parameter itemnya karena dalam hal ini yang sangat diperlukan adalah aitem-aitem yang memiliki daya diskriminasi yang tinggi (Azwar, 2007).

Adapun beberapa prinsip penilaian (Purwanto, 2006) adalah:

-        Penilaian hendaknya disadarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif. Ini berarti penilaian didasarkan atas sampel prestasi yang cukup banyak, baik macamnya ataupun jenisnya. Untuk itu dituntut pelaksanaan penilaian secara sinambung dan penggunaan bermacam-macam teknik pengukuran. Dengan macam dan jumlah metode yang lebih banyak, evaluasi belajar dapat diungkapan secara lebih mantap meskiupun harus dicatat pula bahwa banyaknya macam dan jumlah ujian harus dibarengi dengan kualitas tugas atau soal-soalnya, yang sesuai dengan fungsinya sebagai alat ukur.

-        Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dan penilaian (grading).

-        Dalam proses penilaian harus juga diperhatikan apakah penilaian berbasis kriteria ataukah norma

-        Kegiatan pemberian nilai hendaknya merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar

-        Penilaian harus bersifat komparabel artinya setelah tahap pengukuran yang menghasilkan angka-angka itu dilaksanakan, prestasi-prestasi yang menduduki skor yang sama harus memperoleh nilai yang sama pula. Atau, jika dilihat dari segi lain, penilaian harus dilakukan secara adil, jangan sampai ada yang dianak emaskan.

-        Sistem penilaian yang digunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri.

Pemberian nilai untuk menyatakan seseorang berhasil atau tidak, bukanlah hal yang mudah. Pemberian nilai biasanya diawali oleh pemberian skor terlebih dahulu atas pekerjaan atau hasil tes belajar siswa. Pada hakikatnya, skor adalah harga kuantitaif suatu jawaban terhadap aitem dalam tes. Dengan memberikan skor, kita dapat memperoleh deskripsi mengenai performansi siswa dalam tes dan dapat melakukan analisis kuantitatif terhadap tes dan kaitannya dengan variable lain, dan yang paling penting kita dapat memberikan evaluasi terhadap performansi subjek dalam bentuk nilai (Azwar, 2007).

Pemberian skor pada setiap tugas atau tes yang diberikan kepada siswa tentu sangat bervariatif. Misalkan untuk tipe soal pilihan ganda, seorang guru bisa menetapkan skor =1 untuk jawaban benar dan skor = 0 untuk jawaban salah dengan skor maksimal = 100 dan skor minimal = 0.  Atau untuk tipe soal essay dalam penskorannya biasanya digunakan cara memberi bobot kepada tiap soal menurut tingkatan kesukaran atau banyak sedikitnya unsur yang harus terdapat dalam jawaban yang diangap paling baik. Misalkan untuk soal no. 1 diberikan skor maksimum = 5 dan soal no 5 diberikan skor maksimum = 3. Guna mendapatkan hasil penilaian yang utuh dari berbagai macam metode penilaian yang dilakukan, skor-skor yang di dapatkan kemudian di bobot untuk mendapatkan skor akhir tiap siswa. Skor akhir ini pada akhirnya bisa dijadikan acuan untuk melihat apakah ia berhasil ataukah tidak dalam pembelajaran. Atau dengan kata lainnya, skor akhir pada suatu mata pelajaran merupakan kombinasi dari skor-skor pada beberapa macam prosedur pengukuran yang dilakukan yang disebut juga dengan kompenen.

Bila skor akhir siswa didasarkan pada beberapa komponen, misalkan dari hasil mid semester, proyek kelas, tugas di rumah, dan ujian final maka skor tunggal akhir dapat diperoleh dengan melakukan penggabungan skor yang berasal dari berbagai kompnen tersebut sehingga diperoleh suatu skor yang disebut dengan skor komposit. Skor komposit merupakan ukuran yang lebih reliable terhadap prestasi siswa dari pada skor yang hanya diperoleh dari stau tes (Azwar, 2007). Perumusan skor komposit dimaksudkan untuk memperoleh satu ukuran yang mencerminkan secara proporsional berbagai sumber skor atau berbagai komponen yang diujikan terpisah. Bobot komponen ditentukan dengan melihat urgensi komponen yang bersangkutan dalam program pengajaran. Kalau tugas praktikum misalkan, sangat penting dalam penguasaan atau pelajaran tentu saja skor pada ujian ini perlu diberi bobot yang tinggi. Bobot relatif setiap komponen dapat ditentukan sejak awal program pengajaran atau sebelum tes diberikan akan tetapi nilai mean dan deviasi standari tiap komponen tentu saja akan diperoleh setelah skor mentah bagi masing-masing komponen tersedia (Azwar, 2007). Berikut ilustrasi pemberian bobot skor pada tiap komponen untuk menentukan penilaian:

Mata Pelajaran     : Psikologi BelajarSemester               : II/ 1995SKS                      : 3
Komponen                      Bobot                          Mean                       s
Midsemester                      3                                  33                        7,6
Paper I                               1                                  10                        3
Paper II                             1                                  12                        4,1
Presentasi                          1                                  16                        3,9
Ujian akhir                        4                                  43                        9,5
                                        åb = 10

 

Gbr 3. Model Pedoman Penentuan Skor Komposit (Azwar, 2007)

 

 

C. PEMBAHASAN

1. Authentic Assesment  Sebagai Metode Evaluasi Belajar Siswa di Sekolah

Berkembangnya pendidikan ke arah berfikir tingkat tinggi (higher order thingking) dan lebih canggih dengan berbagai metode dan media pengajaran seharusnya juga diikuti dengan perkembangan sistem evaluasi belajar yang mampu mengukur itu semua. Penilaian seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana siswa belajar atas sesuatu tetapi juga mampu lebih mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. Sehingga penilaian dalam evaluasi hasil belajar hendaklah tidak hanya pada tataran pengetahuan tentang fakta saja namun juga pada tataran aplikasi, analis, sintesis bahkan evaluasi.

Pendidikan seharusnya terkait erat dengan kebutuhan yang ada di masyarakat sekarang, dalam artian mereka yang lulus pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti perguruan tinggi ataupun sekolah menengah atas mampu menjadi pekerja yang siap pakai atau bahkan menjadi pembuka lapangan pekerjaan karena keterampilan yang dimilikinya dan tentu saja ini harus dimulai dari pendidikan level paling bawah.  Banyak hal yang harus di benahi dalam sistem pendidikan kita, termasuk proses-proses di dalam penilaian yang dijadikan acuan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Banyaknya sekolah yang masih menggunakan sistem evaluasi yang bersifat tradisional dan mengabaikan proses belajar yang sudah dijalani pada dasarnya akan menghambat aktualisasi dan berkembangnya pengetahuan siswa, karena ia hanya belajar untuk mampu menjawab soal-soal yang berhubungan dengan tes atau bahkan hanya berorentasi nilai semata.

Hal ini jugalah yang patut dipertanyakan dengan diberlakukannya Ujian Nasional di Indonesia sebagai kriteria utama lulus atau tidaknya seseorang dalam jenjang pendidikan tertentu. Ujian standar seperti Ujian Nasional untuk mengukur evaluasi belajar akhir secara keseluruhan mungkin dipandang tepat untuk mengetahui standar pencapaian pendidikan nasional secara umum, namun apakah itu cukup adil bagi siswa untuk menyatakan lulus atau tidak. Bagaimanakah dengan proses belajar yang selama ini mereka jalani, tidak diperhitungkankah sama sekali karena semua yang dijalani selama tiga atau eman tahun hanya dibuktikan dengan waktu tiga hari.

Oleh karena itulah perlu dipertimbangkan penilaian yang bersifat lebih autentik untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Tentu saja ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa semata karena dasar penilaian yang lebih adil, menghargai kemampuan siswa, berkelanjutan, dan mampu mengembangkan kemampuan yang sudah dimilikinya tetapi juga sangat bermanfaat bagi guru, sekolah bahkan masyarakat secara luas.  Utamanya bagi guru dan sekolah adalah sebagai dasar feedback yang lebih terpercaya atas pembelajaran di kelas, sedangkan bagi masyarakat adalah secara tidak langsung anak-anak lulusan sekolah menjadi lebih kompoten dengan kemampuanya, siap pakai, dan mampu mengaplikasikan apa yang mereka miliki dalam kondisi rill masyarakat sehingga anggapan orang-orang yang bersekolah hanya penuh dengan teori kosong tidak terjadi lagi.

Salah satu negara yang menerapkan authentic assessment  adalah Singapore. Tugas-tugas yang diberikan sudah mengarah kepada project work yang tujuan jangka panjangnya adalah menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yang pada akhirnya memberikan kontribusi yang positif terhadap kemajuan bangsa. Sekolah-sekolah di Singapore dari level paling bawah telah melaksanakan pembelajaran dan penilaian yang berbasis proyek dimana tentu saja isi proyek disesuaikan dengan karakterisktik usia dan pendikan yang dijalani. Proyek yang dilakukan tidaklah perlu dengan biaya yang mahal  dan susah pembuatannya, namun bisa saja dari hal yang sederhana karena yang ingin dituju adalah anak-anak tidak hanya bisa memahami masalah namun juga mampu menghasilkan solusi dari masalah tersebut (Lang, 2006)

Adapun hal-hal yang mendasari authentic assessment sebagai evaluasi hasil belajar siswa di sekolah adalah:

1. Terkait dengan Muatan atau Konten Pembelajaran

Jensen (2008) menjelaskan bahwa kebijakan penilaian seperti ujian benar-salah atau pilihan ganda gaya lama sudah tidak sesuai lagi dengan model pendidikan yang berlaku sekarang, karena secara autentik hal tersebut belum mampu mengukur apa yang sudah dikuasai siswa karena konten ujian gaya lama ini mungkin saja tidak memuat konten atau isi dari pembelajaran yang sudah disampaikan.

Dimana menurut Santrock (2007) ujian model seperti ini seolah hanya menilai siswa pada sejumlah tugas yang terbatas yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan siswa di kelas. Efeknya terkadang, siswa hanya mengejar prestasi  karena konten yang disajikan arahnya ke ranah tersebut tanpa memperhatikan seberapa banyak siswa mampu mengembangkan diri lagi dengan tugas yang diberikan, jika dilakukan dengan penilaian autentik dan aplikasinya ke dunia nyata atau kondisi lain selain di sekolah.

2. Permasalahan Emosional

Peristiwa-peristiwa yang masuk dalam emosi biasanya akan diingat, demikian juga dengan berbagai macam pembelajaran. Dengan kata lain, bagaimana perasaan siswa terhadap satu topik atau mata pelajaran tertentu adalah penting. Ketika emosi siswa positif terhadap pembelajaran, maka pembelajaran akan menjadi lebih bermakna. Begitu juga dengan proses penilaian, permasalahan emosional sangat mempengaruhi kinerja seseorang di dalam tugasnya.

Jensen (2008) mengatakan bahwa penilaian yang arahnya membanding-bandingkan siswa satu dengan yang lainnya adalah merupakan suatu kesalahan. Premis yang salah menyebutkan bahwa semua siswa harus memperlajari hal yang sama pada saat yang sama didasarkan pada sebuah model yang mengabaikan pentingnya relevansi personal dan perbadaan-perbedaan normal dalam proses pembelajaran. Memberikan siswa kesempatan untuk mendiskusikan apa yang bermakna secara personal bagi mereka dan bagaimana subjek-subjek yang mereka pelajari berhubungan dengan kehidupan mereka sendiri.  Jika ingin mengevaluasi pembelajaran yang autentik, maka juga harus dimulai dari hal ini. Dari pada “menguji” para siswa, mengapa tidak “ mewawancarai” mereka. Dengan kata lain, pendidik harus lebih menghargai pentingnya arti emosi dalam ruang lingkup pendidikan dengan lebih memperhatikannya ketimbang mengabaikannya. Sebagai konsekuensinya adalah hal ini akan membuat pembelajaran dihargai, kaya, dan kekal. Hal ini juga merupakan jenis pembelajaran yang mendorong motivasi instrinsik, sementara pengetahuan yang dangkal hanya menuntu pendorong dan ultimatum ekternal yang konstan (Jensen, 2009).

3. Konteks Pembelajaran

Untuk menilai siswa dengan lebih akurat, harus juga dipertimbangkan kemampuan mereka untuk menggeneralisasikan atau mengkontekskan apa yang telah dipelajari. Dengan kata lain, pendidik perlu bertanya, “sekarang kalian sedang mempelajari ABC, bagaimanakah hal ini dapat diaplikasikan kepada DEF?”.Banyak yang percaya bahwa mengaplikasikan pengetahuan sangat erat kaitannya dengan kehidupan nyata, keterampilan bertahan hidup, dan pengembangan inteligensi karena menuntut adanya perencanaan, metakognisi, dan keterampila-keterampilan yang bersifat deduktif maupun induktif. Saat mengajari para siswa tentang berfikir dan belajar, makan pendidik juga sedang memberikan mereka kerangka kerja untuk menjadi produktif dan berhasil di dunia.

Dalam penilaian yang autentik, pendidik harus mendorong siswa mendemonstrasikan kedalaman dan kualitas pembelajaran dengan pemetaan pikiran, debat lintas subjek, demontrasi subjek yang terintegrasi, dan diskusi panel. Proyek-proyek seperti ini dapat memberikan dasar yang kuat untuk menilai kemampuan para pembelajar dalam menggeneralisasikan pembelajaran mereka (Jensen, 2009). Oleh karena itulah dalam penilaian autentik pembelajaran dan penilaian tidaklah berdiri secara terpisah, namun menjadi sesuatu yang terintegrasi dan saling melengkapi.

4. Proses Belajar

Penilaian model tradisional seolah tidak memperhatikan proses belajar yang telah dijalani siswa untuk mendapatkan pengetahuan, karena penilaian tradisional lebih berorentasi kepada hasil atau nilai. Sedangkan untuk mendapatkan nilai tersebut biasanya hanya menggunakan tes-tes standar, ujian tertulis di kelas, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam buku. Praktek-praktek yang dijalankan siswa kurang mendapatkan perhatian dalam evaluasi belajar siswa. Ini pada akhrinya menjadi masalah di dalam pendidikan dikarenakan penggunaan metode penilaian yang tradisional bisa jadi tidak mengkur kemampuan sebenarnya dari siswa. Oleh karena itulah, di dalam penilaian autentik, fungsinya adalah tidak membandingkan siswa satu dengan yang lainnya, namun lebih kepada kemampuan siswa diukur secara benar, siswa dapat mengoptimalkan kemampuannya dalam mengerjakan tugas, dan tugas yang diberikan tidak hanya orentasi pencapaian preatasi belajar namun juga mengembangkan kemampuan yang dimilikinya serta perlahan-lahan melatih siswa menerapkan ilmu yang didapatkan dalam konteks yang lebih rill.

 2. Merangcang Authentic Assessment Sebagai Metode Evaluasi Belajar Siswa di Sekolah

Di dalam authentic assessment, ada lima hal yang perlu diperhatikan yaitu terkait dengan pemilihan tugas yang diberikan, konteks fisik, konteks sosial, hasil, dan penggunaan kriteria dalam penilaian. Dimensi-dimensi ini haruslah dijadikan dasar bagi seorang guru untuk membuat penilaian yang autentik kepada siswa.

Pemilihan tugas yang tepat kepada siswa adalah salah satu aspek yang penting di dalam penilaian autentik. Dimana tugas yang autentik adalah suatu tugas yang dapat menghadapkan siswa dengan aktivitas yang dilaksanakan dalam praktik professional atau pengaplikasian kemampuan ke dalam kontek yang lebih rill dan tidak terpisahkan dengan pembelajaran yang ada di dalam kelas. Contoh sederhana adalah pelajaran PPKN tentang konsep menabung. Guru bisa memberikan tugas kepada siswa untuk bertanya kepada siapa saja tentang fungsi menabung, sehingga ia lebih mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang konsep tersebut dari pada hanya menjawab soal-soal di dalam buku. Pemberian tugas dengan menghubungkannya kedalam konteks yang lebih rill membuat pembelajaran pada akhirnya menjadi lebih bermakna bagi siswa.

Tentu saja ini penilaian autentik tidak bisa dilepaskan dari konteks fisik dan sosial pembelajaran. Dalam kontek fisik guru juga harus mempertimbangkan tentang “apakah tugas yang diberikan kepada siswa sudah mampu diterapkan pada kondisi yang berbeda dengan di sekolah?” dalam artian, ketika siswa dituntut menggunakan kemampuanya pada situasi yang berbeda dengan tugas yang diberikan di sekolah ia tidak akan mengalami kesulitan, bahkan tugas yang diberikan sebelumnya diharapkan membantu tugas-tugas pembelajaran selanjutnya, sehingga pembelajaran adalah sesuatu yang berkesinambungan dan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Selain itu, waktu pemberian tugas juga harus dipertimbangkan dalam proses penilaian, bisa saja siswa hanya disuruh memperagakan sebuah prosedur yang waktunya hanya lima atau sepuluh menit, namun bisa saja ia diberikan waktu satu bulan penuh untuk menyelesaikannya. Pemberian waktu ini, berhubungan dengan kontek sosial dari pembelajaran yaitu dalam kontek yang lebih rill berapakah tuntutan waktu yang diberikan untuk menyelasikan suatu masalah. Pemberian tugas hendaklah melihat kondisi sosial dalam kondisi yang lebih rill. Misalkan apabila sebuah kompetensi di situasi lebih nyata menuntut sebuah kerja tim dan kekompakan, maka seharusnya anak sudah dilatih mengerjakan tugas dalam sebuah sistem kolaborasi dan jika kompetnsi hanya membutuhkan kemampuan individual, maka tugas yang diberikan adalah individual dengan mendorong mereka agar mengekplorasi apa yang ada di dalam konteks sosial mereka.

Penilaian yang autentik juga berhubungan dengan hasil dan bagaimana cara mengukur hasil tersebut (dengan kriteria). Sebelum memberikan tugas kepada siswa, hal utama yang harus dilakukan guru adalah membuat kriteria tugas yang di dalamnya terdiri dari acuan-acuan kriteria, langkah, kompetensi ataupun prosedur yang harus dipenuhi siswa untuk berhasil. Ketika kompetensi tersebut bisa dipenuhi dengan baik, maka hasil pekerjaan siswa bisa dikatakan berhasil. Tentu saja, kriteria hasil yang ingin dicapai haruslah disampaikan kepada siswa terlebih dahulu sehingga ia bisa mengeksplorasi apa saja yang ada di dalam dirinya ataupun lingkungan untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Penilaian autentik sesuatu yang tidak terpisah dari kurikulum, jika mengacu kepada PPSIN (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksi Nasional), maka evaluasi hasil belajar bisa dilakukan diakhir ataupun selama proses belajar berlangsung. Guru bisa melakukan evaluasi sebagai alat untuk feed back atas keefektifan belajar (fungsi formatif) atau untuk peniilaian akhir atau keberhasilan mencapai prestasi (funsi sumatif). Penilaian yang autentik dalam evaluasi belajar harus dirancang secara komprehensif dalam arti mencakup konsep, pengetahuan dan keterampilan, bahkan mampu mewadahi apresiasi, sikap, minat, pemikiran kritis, dan penyesuaian diri yang bersifat personal dan sosial dari siswa.  Selain itu, di dalam proses penilaian perubahan-perubahan tingkah laku individu harus mendasari penilaian pertumbuhan dan perkembangannya sehingga jika suatu kurikulum direncanakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang luas, ini berarti pula bahwa tingkah lau siswa harus dievaluasi menurut tujuan dan nilai-nilai yang luas pula seperti yang dimaksud dalam kurikulum tersebut (Purwanto, 2006). Kemudian, hasil-hasil evaluasi harus disusun dan dikelompok-kelompokan sedemikian rupa sehingga memudahkan interpretasi yang berarti. Hasil-hasil kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh dari program evaluasi harus disimpulkan dalam pola penskoran yang jelas, secara statistik, grafik ataupun secara verbal, sehingga dari data evaluasi itu gambaran atau lukisan individu dapat dilihat dan dipahami dengan mudah, dan dapat dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Dengan demikian, dapat dilihat bagaimana atau kearah mana perkembangan individu tersebut.

 3. Pemberian Nilai Kepada Siswa dalam Authentic Assessment Sebagai Evaluasi Hasil Belajar Siswa

Dalam proses pembelajaran, penilaian terkadang mutlak diberikan kepada siswa sebagai proses akhir dari evaluasi. Di dalam penilaian autentik kemapuan siswa adalah sesuatu yang dihargai, dimana tujuan utamanya adalah tidak untuk membandingkan siswa satu dengan yang lainnya, sehingga pemberian nilai kepada siswa mengacu berdasarkan kriteria. Guru menetapkan kriteria-kriteria tertentu kepada siswa untuk bisa berhasil atau lulus dari suatu mata pelajara. Misalkan pada mata pelajaran kimia, siswa minimal bisa mengenali bau berbagi zat di laboratorium sehingga ia dikatakan lulus.

Menurut Purwanto (2006) penilaian hendaknya disadarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif. Ini berarti penilaian didasarkan atas sampel prestasi yang cukup banyak, baik macamnya ataupun jenisnya. Untuk itu dituntut pelaksanaan penilaian secara sinambung dan penggunaan bermacam-macam teknik pengukuran. Dengan macam dan jumlah metode yang lebih banyak, evaluasi belajar dapat diungkapan secara lebih mantap meskiupun harus dicatat pula bahwa banyaknya macam dan jumlah ujian harus dibarengi dengan kualitas tugas atau soal-soalnya, yang sesuai dengan fungsinya sebagai alat ukur.  Selain itu sistem penilaian yang digunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri. Oleh karena itulah, untuk mendapatkan berbagai kemampuan yang utuh dari siswa guru bisa menggunakan berbagai macam metode atau cara yang bisa diterapkan kepada siswa dalam proses guna menetapkan nilai.

Penilaian autentik untuk mengkur eveluasi belajar di kelas sangat banyak ragamnya dan bisa saja metode yang digunakan tidak mesti harus yang sulit prosedurnya. Metode-metode sederhana dan bisa dianggap menyenangkan oleh siswa pun bisa dilakukan, sehingga ketika ada keterlibatan emosi senang di dalam pengerjaaan tugas pada akhirnya membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna. Jensen (2008) memberikan contoh beberapa metode yang bisa digunakan dalam penilaian yang autentik dalam mengevaluasi hasil belajar siswa seperti membuat naskah pementasan, ujian atau kuis yang soalnya dibuat oleh siswa, proyek individual dan komunitas, merancang permainan, debat, masalah studi kasus, portofolio, dan lainnya. Sehingga guru bisa menetapkan beberapa metode atau berkreasi lainnya untuk mendapatkan evaluasi hasil belajar siswa.

Setelah guru menetapkan metode yang digunakan di dalam penilaian kemudian ia menetapkan bobot maksimal masing-masing penilaian sehingga ketika dikonversikan ke nilai akhir akan mendapatkan nilai utuh dari siswa. Nilai bisa berupa huruf seperti A yang akrinya baik sekali hingga E yang artinya kurang atau rentangan angka 1-9 yang berarti semakin tinggi angka maka semakin baik kompetensi yang dimiliki oleh siswa.

KESIMPULAN

Adapun beberapa kesimpulan yang dapat diambil terkait dengan authentic assessment sebagai metode evaluasi belajar siswa di sekolah adalah:

-        Penilaian di dalam pendidikan guna mendapatkan hasil evaluasi hasil belajar siswa seharusnya tidak hanya menekankan pada aspek-aspek yang dangkal dari kognitif seperti menguji fakta dan memori, kaku, hanya, dengan jawaban-jawaban pendek atau pertanyaan pilihan ganda dan seolah hanya menilai prestasi, jarang memberi sarana untuk menilai kemampuan siswa memonitor pembelajaran mereka sendiri bahkan jarang memasukan soal-soal yang menilai respon emotional terhadap pengajaran.

-        Sistem penilaian yang baik adalah tidak hanya mengukur apa yang hendak di ukur, namun juga dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa agar lebih bertanggungjawab atas apa yang mereka pelajari, sehingga penilaian menjadi bagian integral dari pengalaman pembelajaran dan melekatkan aktivitas autentik yang dilakukan oleh siswa yang dikenali dan distimulasi oleh kemampuan siswa untuk menciptakan atau mengaplikasikan  pengetahuan yang mereka dapat di ranah yang lebih luas dari pada hanya menguji memori atau kemampuan dasar saja. Oleh karena itulah dewasa ini berkembang sebuah pendekatan dalam evaluasi hasil bejalar yaitu authentic assessment.

-        Authentic assesment adalah suatu prosedur penilaian yang didesain untuk mengevaluasi apa yang diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa, menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Karakteristik utamanya adalah merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran di kelas, cerminan dunia nyata, menggunakan banyak ukuran, metode dan kriteria, serta bersifat komprehensif dan holistic

-        Authentic assesment berfokus kepada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung, mengharuskan membangun, keterkaitan dan kerja sama, dan menanamkan tingkat berfikir yang lebih tinggi. Merupakan suatu penilaian yang berdasarkan kriteria situasi sebagai dasar penilaian yang mana kriteria situasi itu menggambarkan atau stimulasi dari situasi nyata yang menghadapkan siswa dalam masa latihan untuk mendapatkan keahlian atau kehidupan masa depan yang profesional.

-        Manfaat bagi siswa adalah dapat mengungkapkan secara total seberapa baik pemahaman materi akademik mereka, mengungkapkan dan memperkuat penguasaan kompetensi mereka, seperti mengumpulkan informasi, menggunakan sumber daya, menangani teknologi dan berfikir sistematis, menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka sendiri, dunia mereka dan masyarakat luas, mempertajam keahlian berfikir dalam tingkatan yang lebih tinggi saat mereka menganalisis, memadukan, dan mengidentifikasi masalah, menciptakan solusi dan mengikuti hubungan sebab akibat, menerima tanggung jawab dan membuat pilihan, berhugungan dan kerja sama dengan orang lain dalam membuat tugas, dan belajar mengevaluasi tingkat prestasi sendiri. Sedangkan bagi guru penilaian autentik bisa menjadi tolak ukur yang komprehensif mengenai kemampuan siswa dan seberapa efektif metode yang diberikan kepada siswa bisa dijalankan.

-        Hal-hal yang mendasari authentic assessment sebagai evaluasi hasil belajar siswa di sekolah adalah terkait dengan muatan atau konten pembelajaran, permasalahan emosional, kontek pembelajaran dan proses belajar.

-        Di dalam authentic assessment, ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam rancangannya yaitu terkait dengan pemilihan tugas yang diberikan, konteks fisik, konteks sosial, hasil, dan penggunaan kriteria dalam penilaian. Dimensi-dimensi ini haruslah dijadikan dasar bagi seorang guru untuk membuat penilaian yang autentik kepada siswa.

-        Penilaian autentik sesuatu yang tidak terpisah dari kurikulum, dirancang secara komprehensif di dalam proses penilaian, perubahan-perubahan tingkah laku individu harus mendasari penilaian pertumbuhan dan perkembangannya hasil-hasil evaluasi, harus disusun dan dikelompok-kelompokan sedemikian rupa sehingga memudahkan interpretasi sehingga data evaluasi merupakan gambaran individu yang dapat dilihat dan dipahami dengan mudah, dan dapat dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

-        Penilaian autentik untuk mengkur eveluasi belajar di kelas sangat banyak ragamnya dan bisa saja metode yang digunakan tidak mesti harus yang sulit prosedurnya. Metode-metode sederhana dan bisa dianggap menyenangkan oleh siswa pun bisa dilakukan, sehingga ketika ada keterlibatan emosi senang di dalam pengerjaaan tugas pada akhirnya membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna.

-        Setelah guru menetapkan metode yang digunakan di dalam penilaian kemudian ia menetapkan bobot maksimal masing-masing penilaian sehingga ketika dikonversikan ke nilai akhir akan mendapatkan nilai utuh dari siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. (2001). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Azwar, Saifuddin. (2007). Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Prestasi Prestasi Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Burley, Hansel & Price, Margaret. (2003). What Work with Authentic Assessment. Educational Horizons

Corebima, AD. (2005). Assesment Autentik. http://sman1talun.sch.id /userfiles/Slide%20-%20Autentik%20asesmen.ppt (16 Mei 2009)

Gulikers, Judth. T.M,.Bastiaens, Theo. J,. & Kirschner, Paul. A. (2004). A-Five-Dimensional Framwork Tof Authentic Assessment. Etr. Vol. 52. No. 3. 2004

Hargreaves, A.,Earl, L,. More, S, & Manning, S. (2001). Learning to Change-Teaching Beyond Subjects and Standard. California: Jossey Bass Inc.

Jensen, Eric. (2008). Brain-Based Learning (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Johnson Elaine B. (2009). Contextual Teaching & Learning (terjemahan). Bandung: MLC

Lang, Choon Quek. (2006). Engaging in Project Work. Singapore: McGraw Hill

Purwanto, Ngalim. M. (2006). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Santrock, John W. (2007). Psikologi Pendidikan (terjemahan). Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Sudrajat. (2007). “Gerakan” Pendekatan Kontekstual (CTL) Dalam Matematika sebuah kemajuan atau jalan di tempat? http://rbaryans.wordpress.com/2007/07/31/%E2%80%9Cgerakan%E2%80%9D-pendekatan-kontekstual-baca-ctldalam-matematika-sebuah-kemajuan-atau-jalan-di-tempat/ (16 Mei 2009)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

twitter

  • Berasa beda emang ya...kalau ketemu sekolah yg auranya semuanya positif... Menulis laporannya pun happy banget 2 hours ago
  • Pelajaran berharganya adalah mari kita tetap nikmati menjadi orang bebas dan tdk berkepentingan #refleksi mendudukan masalah 1 day ago
  • Lama-lama menjadi biasa... Melihat org2 kemana2 bawa senjata angin macam mau berburu 2 days ago
  • Saya senang, akan punya 24 anak untuk bersenang-senang.. Jiwa guru emang tdk ke mana 3 days ago
  • Enak lho berjilbab...gak usah ke salon (kata mbk2 artis di TV :P ) Salah tontonan gosip pagi2 1 week ago
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: